06. Drama lovers

1994 Kata
Bahagia itu sederhana, melihat aktor yang disuka main drama, buat mood baik.  “Ya Allah, Big Boss cakep amat. Andai ada cowok kayak gitu disini, hidup gue bakal berwarna deh.” Elvy menatap drama yang sedang ditontonnya itu dengan pandangan yang berbinar, ah Soo Jong Ki benar-benar membuat dia jatuh cinta. “Sama gue aja yuk, kalau sama elo gue relain deh berani jatuh cinta.” “Masih cakepan gue kali,” celetukan seseorang yang sudah berada dibelakanganya dengan bersidekap. “Katanya ngerjain tugas, kenapa malah nonton drama sih. Nggak takut hidup lo penuh drama?” lanjutnya lalu duduk disamping Elvy, menopang kepalanya memperhatikan wanita yang kini sedang fokus menonton. Dia tak pernah menyangka kalau dia dan Elvy, sudah menjadi teman seperti ini. Meski harus diajukan penawaran, hubungan pertemanan mereka bisa lumayan ‘akrab’ ya meski dia akuin tidak terlalu akrab, karena Elvy terkadang masih menjauhinya, dan tentunya memukulnya. Elvy mempause, dramanya. Menoleh kearah Eldwin, awalnya dia tak berminat untuk untuk menanggapi, tapi mendengar kalimat terakhir cowok itu dia memberikan tatapan menjijikan “Cakepan dari mananya. Sana pergi, ganggu aja. Tau darimana lagi gue disini.” Elvy menggerakkan tangannya mengusir Eldwin. Lalu memplay dramanya sambil kembali memuja Soo Jong Ki. Eldwin terkekeh, ditepuk kepala Elvy lembut “Jalan yuk.” Ajaknya dengan tangan yang mempause drama, yang dapat pelototan Elvy. Elvy menimpuk pundak Eldwin kesal, “nggak usah ganggu. Kok lo lama-lama nyebelin sih. Kalau mau pergi, pergi sana.” “Kok lo lama-lama tambah ngangenin sih.” candanya masih dengan posisi yang sama. “Lo ya..” Tanpa sadar Elvy berbicara dengan keras dan membuat orang-orang disana serempak menyuruhnya diem.  “Maaf, pacar saya lagi ngambek.” Eldwin menundukkan wajahnya, dan langsung membekap mulut Elvy saat melihat gadis itu akan teriak. “Ini diperpustakaan, awww.” Eldwin menjauhkan tangannya dengan cepat, njir cewek ini benar-benar ganas. Tangannya di gigit men, sampe ada bekasnya. “Gue.bukan.pacar.lo.” Elvy menekan setiap kata yang dia ucapkan. Enak aja dia dibilang pacar sama si gila ini. Ogah pake banget, meski kalau boleh dia jujur. Eldwin bukan cowok yang bisa dikatakan berada dibawah rata-rata, mungkin lebih dikit, oke jujur diatas rata-rata. Apalagi pas dia senyum, mungkin bisa membuat wanita disana jatuh hati, tapi tidak untuk dia karena dia sudah tahu sikap cowok itu, dan juga dia belum mau  sakitanya patah hati. Elvy tersentak, saat dirasakan ada yang menepuk pundaknya. “Eh, ini muka ngapain deket-deket.” Elvy menjauhkan wajah Eldwin sambil melirik ke kanan dan kekiri, “Lo ya cari kesempatan ya. Gue timpuk juga.” “PD banget. Ayok balik, temenin gue jalan.” Eldwin berdiri sambil mengulurkan tangannya. Kalau kayak gini Elvy sudah tidak bisa menolak lagi, karena dia pasti akan berujung perdebatan panjang. Elvy menoleh hendak memasukkan laptopnya, tapi dia langsung menoleh kearah Eldwin saat semua barangnya sudah masuk kedalam tas. “Lo yang masukin?” Eldwin berdecak, “Menurut lo? Ayok cepet.” Eldwin menarik tangan Elvy membuat wanita itu berdiri. “Tas gue.” Elvy meraih tasnya dengan tangannya yang bebas, “pokoknya lo yang teraktir, gue nggak mau tahu.” Eldwin hanya tersenyum menanggapi ucapan Elvy itu. Sadar atau tidak keduanya berjalan dengan tangan yang masih saling terkait satu sama lain. **** “Like a small boat, On the ocean, Sending big waves, Into motion, Like how a single word Can make a heart open I might only have one match But I can make an explosion.....” Lantunan lagu itu membuat Elvy menghentikan aktivitasnya dan mengambil benda yang tengah berbunyi itu. Dan dia langsung menggeser tombol hijau saat melihat siapa yang menelponnya. “Assalamualaikum,” sapanya sambil menyuapkan ice cream rasa cokelat. “Dih tumben banget pake salam. Eh, Waalaikumsalam, gue lupa jawabnya. Lo dimana El?” “Lagi di toko ice cream nih. Kenapa?” Elvy memukul tangan Eldwin yang mau mengambil ice creamnya. “Pelit,” ucap Eldiwin tanpa suara yang dibalas dengan Elvy yang mengeluarkan lidahnya, dan langsung melindungi ice creamnya dengan tangan kanannya. “Sama siapa?” “Sama temen.” Elvy tidak berbohong, kan Eldwin temannya sekarang. Dia tak mau terlalu jujur karena dia nggak mau Maura akan menggodanya habis-habisan. Sama seperti beberapa hari yang lalu, saat dirinya dipaksa menemani El untuk pergi mencari sepatu bola. Dan sialnya ketahuan oleh Maura yang berakhir dengan godaan dari sahabatnya itu. “Temen? Yakin temen? Kenapa nggak bilang sama Eldwin aja sih, perlu ya nutupin kalau kalian jalan bareng.” Kekeh Maura. Elvy langsung menoleh kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok sahabatnya itu, kenapa Maura bisa tahu kalau dia jalan sama si Eldwin. Padahal tadi mereka belum ketemu sama sekali. “Lo dimana sih?” Ulangnya. “Gue disini,” ucap Maura tepat  ditelinga Elvy “Astaga lo bikin gue kaget aja sih, kebiasaan banget sih bikin orang jantungan,” semprot Elvy yang dibalas tawa oleh Maura. “Lo serius banget si  cari gue. Segitu takutnya ya ketahuan kalau jalan sama si Eldwin. Cie El ciee. Akhirnya jatuh cinta juga.” Maura menaik turunkan kedua alisnya menggoda Elvy. Elvy memutar bola matanya, “jatuh cinta kepala lo. Ngapain lo disini?” “Ya makan  ice cream lah sayang. Ah,  gue sama yang lain ganggu kencan kalian berdua ya. Ya udah deh, buat sahabat gue tersayang gue sama Evan dan Atta mau cari tempat dulu.” “Lo makin ngaco ya kalau ngomong. Kan gue juga nanya doang, sensi amat. Dan itu apa lagi kencan-kencan. Nggak ada yang kencan disini.” Elvy menggeser tubuhnya sedikit sambil menunduk, karena tiba-tiba dia  rasa panas yang menjalar di wajahnya saat mengatakan kata kencan dan itu terlihat oleh Maura. Maura sudah akan tertawa terbahak-bahak melihat respon Elvy, saat suara Evan menginstrupsi mereka. “Kita gabung ya, El couple. Bolehkan El?” Evan menoleh meminta izin  ke  sahabatnya untuk yang sejak tadi tidak bersuara, dan dia kaget ketika Eldwin berdiri, “Loh lo mau kemana?” tanyanya “Kan kalian mau duduk. Gue duduk di samping Elvy.” Eldwin lalu pindah disamping Elvy, “kenapa masih berdiri? Tadi ngebacot mau bareng.,sakit El. Kenapa mukul sih.”ringisnya sambil menoleh kearah Elvy. “Omongan lo bacot-bacot, mereka sahabat lo juga.” Tegur Elvy sambil melotot, Eldwin menghela nafas. “Iya maaf. Cepet deh duduk,” perintahnya sambil memainkan tangannya menyuruh ketiga orang  itu duduk ditempat dimana dia duduk tadi. Untung mereka berdua milih tempat yang luas, dan untuk pertama kalinya dia menyesal sudah memilih tempat itu. Mengganggu aja batinnya. Tanpa El couple ketahui ketiga orang yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi itu tengah tersenyum penuh arti. Senyum yang mengatakan bahwa kalau keduanya mempunyai hubungan khusus. “Astaga, El. Kebiasaan lo ya, makan kayak anak kecil.” Eldwin dengan sigap mengambil tisu, membersikan bekas ice cream yang ada di bibir dan dagu El. Pelan-pelan, hingga bekas itu hilang. “Udah.” Elvy yang mendapatkan perlakuan itu, tiba-tiba merasa gugup. Rasa gugup yang pertama kali dia rasakan saat berdekatan dengan Eldwin, apalagi dengan ketiga pasang mata yang mengarah ke mereka. “Ehem, kalian berdua ada hubungan apa sih?” celetuk Atta yang entah kapan sudah memesan ice cream strawberry. “Nggak ada hubungan apa-apa,” jawab Elvy cepat, sedangkan Eldwin menoleh kearah Elvy sebelum menjawab. “Kayak yang dia bilang.” Elvy yang sudah tahu akan bagaimana akhirnya, memutuskan untuk mengalihkan perhatian. Dan tentunya yang harus dialihkan adalah Maura, yang dia yakini sudah memiliki banyak pertanyaan. “Eh lo udah nonton DOTS belum Ra? Anjir gue baper,” seru Elvy sambil menepuk tangannya antusias. “Descendant Of TheSun bukan?” Elvy mengangguk,  “ Anjir, itu drama bikin gue baper gila. Terus lo tahu Sersan Seo Dae Young, nggak kalah  cekepnya sama  Soo Jong ki,  karekternya juga astaga bikin gue jatuh hati deh.” Maura menopang wajahnya dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar menjelaskan dia benar-benar jatuh cinta dengan drama satu itu. Elvy mengangguk setuju, “iya tahu nggak sih, gue sampe mewek pas adegan Sersan Seo Dae Young ditugaskan ke korea pas Letnan Yeo Myeong Joo dateng, rasanya itu arrggh pingin iket mereka biar nggak pisah lagi.” “Sama El. Lo tahu adegan apa yang bikin gue ngakak? Pas Sersan Seo Dae Young sama Big boss dapet..” “Paket?” potong Elvy “Gue juga ngakak disana.” Dan terjadilah obrolan mengenai drama yang tak dimengerti oleh ketiga kaum adam itu. “Yang, kamu nggak bosen-bosen apa ngomongin joong ki, joong ki itu. Percuma aja kamu ngomongin, dia nggak kenal kamu.” Celetukan Evan itu sukses membuat Elvy dan Maura mendelik kesal ke arahnya. Dan saat itu juga Evan  aura yang tidak enak. Atta mengangkat tanganya, “nggak ikutan gue,” ucapnya lalu dengan masa bodoh memakan ice creamnya tanpa mau tahu urusan pasangan itu. “Gue setuju, lo berdua nggak capek apa. Terus ngomongin mereka, gue aja capek dengernya.” Evan menyenderkan punggungnya sambil melipat tangan di dadanya. “Kalau nggak mau denger diem.” Semprak Elvy dan Maura membuat ketiganya dan pengunjung disana kaget. “Astagfirullah, kalian berdua ini mau bikin kita semua jan..tungan.” Atta langsung kembali membuang muka saat mendapatkan pelototan dari kedua wanita itu. Dih serem, semoga aja gue nggak punya pacar segalak mereka, doanya dalam hati. Elvy membenarkan tubuhnya menghadap Evan. “Aku nggak pernah marah tuh kalau kamu mau ngomongin bola, tapi kenapa kamu sekarang marah kalau aku ngomongin drama korea? Kamu kok jadi egois gini sih.” “Ya kan aku ngomongnya nggak sampai seharian, lah kamu..” “Apa? mau  nyalahin aku iya? Kenapa sih cowok itu nggak mau ngertiin ceweknya, maunya ceweknya yang harus ngertiin cowok.” Lah kebalik sayang,  ucap Evan tentunya dalam hati, karena dia masih sayang dengan telinganya tidak mau mendapatkan teriakan maha dahsyat dari Maura. Begitu juga dengan Elvy dan Eldwin keduanya kini sudah saling melempar pandangan, satu melempar pandangan membunuh, yang satu melempar pandangan seakan dia tak melakukan apa-apa. “Lo kalau nggak mau denger ya udah nggak usah denger,  kok rempong banget jadi cowok,” desisnya “Gimana gue nggak denger kalau lo ada disamping gue,” balas Eldwin santai. Elvy  mulai geram, “lo yang pindah dari sini tadi, kenapa jadi nyalahin gue,” ujarnya tak terima dengan balasan Eldwin itu. “Lebih baik lo balik lagi sana ketempat semula, biar lo nggak ke GANGGU cerita gue sama Maura.” Elvy sengaja menekankan kata ganggu biar cowok itu peka. “Terus gue duduk dimana? Lo nggak liat tuh udah penuh sama mereka.” Eldwin menunjuk  kursi di depannya dengan gerakkan dagunya “Terserah. Gue nggak perduli.” Elvy membuang muka, kesal. Dia lagi asik-asik cerita di potong sama cowok itu. Eldwin menghela nafas lalu  menarik lengan Elvy,membuat Elvy kembali menghadapnya “Ya udah sih maaf. Jangan  ngambek gitu.” “Ih jangan pegang-pegang.” Elvy memukul keras tangan Eldwin. “Maaf aja terus,” cibirnya “Ya udah, gue nggak bakal komen lagi. Lo ngomong aja DOTS, DOTS itu, gue diem, yang penting lo jangan ngambek.” Elvy memicingkan matanya, jarinya terangkat “beneran?” Eldwin mengangguk sambil mengacak rambut Elvy yang dibalas pelototan wanita itu, “iya. Sana ngomong lagi.” Terkadang Eldwin heran, apa Elvy tidak takut jika matanya copot kalau terus-terusan melotot kayak tadi. Untung Eldwin mulai sayang sama Elvy, kalau nggak udah dia jitak tuh kepala Elvy saking kesalnya. Maura yang melihat itu langsung menoleh ke Evan dengan manyun “tuh liat, Eldwin aja bisa kayak gitu sama Elvy, kamu kok nggak gitu.” Dia iri sangat iri, mereka yang belum pacaran aja sweetnya kayak gitu, sedangkan dia dan Evan malah kayak gini. Evan mencubit pipi Maura “ya udah sana ngomong. Aku sama yang lain nggak bakal deh nyeletuk lagi. Aku traktir kamu sama Elvy ice cream ya, biar kamu nggak ngambek.” “Dikira aku anak kecil apa. Tapi boleh dah, cokelat ya.” Evan tersenyum “Iya sayang iya.” Mendengar itu senyuman lebar muncul di wajah Maura dan Elvy, dan jangan tanya kelanjutannya apa karena dua wanita itu tenggelam dengan topik yang sempat terpotong oleh para adam disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN