Aku tak menyadari, ada celah di antara pintu yang tertutup.
Ribut, itulah yang bisa menggambarkan bagaimana suasana kamar Eldwin. Siapa lagi tersangkanyakalau bukan para sahabat Eldwin yang tiba-tiba datang dan mengganggu ketentramannya hari ini.
“Njir ribut, pulang sana. Gue mau tidur,” usir Eldwin sambil melemparkan bantal yang tepat jatuh ke kepala Atta.
“Kalau mau tidur ya tidur aja sih. Rempong amat.” Celetuk Evan yang kini masih sibuk dengan stik PS yang ada di tangannya, sedangkan Atta menoleh sebentar ke arah Evan dan kembali fokus dengan gamenya.
Eldwin berdecak, dia yang punya rumah tapi kenapa dia yang kena semprot. Merasa sahabatnya itu tidak akan pulang cepat, dia langsung mengambil buku di atas nakas dekat ranjangnya dan mulai membaca dengan perlahan, hingga suara Atta menginstrupsinya.
“El, lo suka sama Elvy?” Pertanyaan tanpa basa basi itu sukses membuat dua orang langsung memberikan ekspresi yang berbeda. Evan yang memang antusias langsung melepaskan stik PS dan menoleh ke arah Eldwin menunggu jawaban sama dengan Atta.
Eldwin menghendikkan bahunya, lalu kembali membaca seakan dia tidak mendengar apa-apa. Evan yang melihat itu langsung melempar bantal ke arah Eldwin.
“Jawab kali El. Lo suka banget bikin orang penasaran.”
Eldwin terkekeh, “Siapa suruh punya rasa kepo kayak cewek,” sindirnya yang dibalas cibiran dari kedua sahabatnya.
“El, kalau lo nggak suka sama Elvy, biar gue aja yang deketin. Elvy itu lama-lama manis, dan dia juga baik. Nggak terlalu galak kayak gue kira pertama kalinya.”
Mendengar itu Eldwin memberikan tatapan tajam ke arah Atta, yang dibalas gelakan tawa oleh cowok itu.
“Makanya jujur sama kita-kita. Kalau lo suka ya gue mundur, gue nggak mau dibilang sahabat nusuk sahabatnya dari belakang. Kayak nggak punya cewek lain aja.”
Evan menepuk-nepuk pundak Atta, “tuh denger, sahabat lo udah mundur kalau lo akuin perasaan lo ke Elvy. Jarang nih ada sahabat kayak gini, kebanyakan ya malah semakin ngejer cewek yang dia suka tanpa mau perduliin perasaan sahabatnya.”
Atta menarik kerah bajunya, “ya lah Atta. Gue mah bukan tipe-tipe munafik, yang awalnya bilangnya enggak, tahunya iya. Cih.”
Evan mengernyit, “lo pengalaman ya di munafikin. Cie Atta curhat cie.” Godanya yang diiringi gelak tawa dari Evan dan Eldwin, bahkan sekarang keduanya sudah terbahak-bahak melihat ekspresi Atta.
“Berisik lo pada. Sekarang jawab aja El. Biar gue bisa ancang-ancang buat deketin dia.” Atta kembali ke topik semula. Dia menatap Eldwin dengan serius, dan senyuman lebar langsung terpancar di wajahnya saat mendengar ucapan dari Eldwin, begitu juga dengan Evan dia langsung memekik senang.
“Gue suka sama dia, mungkin gue sayang. Kalian berdua tahu gue gimana kan, gue nggak akan deket dan berani ganggu cewek kalau gue nggak tertarik sama cewek itu.” jelasnya dengan wajah yang santai.
“Akhirnya, elo jatuh cinta lagi. Yes, tanda-tanda PJ nih.” Atta menaik turunkan tangannya ke udara.
“Setuju gue. Akhirnya setelah sekian lama, sahabat gue suka sama cewek lagi.” Sambung Evan, “Eh, tapi gue denger dari Maura ya. Elvy belum pernah jatuh cinta, dan takut buat jatuh cinta.”
“Heh?” Atta dan Eldwin langsung memfokuskan dirinya ke arah Evan.
“Serius loh?” Atta tak percaya jika cewek manis kayak Elvy, tidak pernah jatuh cinta dan itu berarti Elvy tidak pernah pacaran. Wow kenyataan yang luar biasa.
Kening Eldwin mengkerut, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya, tapi itu semua masuk akal saat mengingat bagaimana wanita itu marah saat ia peluk dan cium pipi Elvy “Bagus, kalau gitu biar gue yang buat dia jatuh cinta.”
“Tapi, gue peringatin lo El. Jangan sakitin dia, kalau lo udah dapetin Elvy.” Evan memberikan tatapan serius pada Eldwin.
Eldwin mengangguk, “gue kalau udah bener-bener sayang sama cewek, nggak bakal nyakitin dia. Dan semoga nggak akan pernah nyakitin dia.”
Kalimat itu membuat Evan dan Atta saling melempar pandang, dan tersenyum. Ya semoga Eldwin benar-benar bisa membuat Elvy jatuh cinta dan menjaga wanita itu.
Eldwin tersenyum sendiri mendengar fakta itu. Elvy wanita yang sukses membuat dia tertarik ternyata belum pernah jatuh cinta. Jarang sekarang ada wanita seperti itu, dan dia tidak akan melewatinya begitu saja. Dia sekarang sudah benar-benar jatuh cinta pada wanita itu.
Tak pikir panjang dia mengambil hpnya, mulai mengetikkan sebuah pesan pada seseorang disana, yang entah sedang melakukan apa.
“Lah si k*****t senyam-senyum sendiri.” Seru Evan, “ngapain sih?” tanyanya penasaran.
“Kepo.” Eldwin bangkit dari ranjang menuju pintu kamarnya, dengan membawa hpnya. Melihat Eldwin yang hendak keluar kamar, Atta dan Evan langsung mengeluarkan keinginannya yang sejak tadi tertahan.
“El, gue jus jeruk ya. Sama cemilan apa aja.”
“Sama El. Laper gue, lo mah dari tadi nggak peka.”
Mendengar itu Eldwin menoleh, lalu mencibir “lo kira rumah gue restauran.” Setelah itu Eldwin langsung keluar dengan pintu yang tertutup keras. Bukannya marah Evan dan Atta langsung teriak kepada Eldwin yang belum jauh dari kamarnya.
“Makasi El. Lo sahabat kita yang paling baik deh.” Ucap mereka dan kembali tenggelam lagi pada permainan yang mereka mainkan. Sedangkan Eldwin hanya berdecak, syukur merkea berdua sahabatnya kalau nggak udah gue tendang kali dari tadi.
*****
Senyum terus keluar dari bibir mungil Elvy, wanita yang sejak setengah jam lalu sudah menenggalamkan diri di dunia novel semakin terbawa suasana oleh cerita yang dia baca. Andai saja kehidupannya seperti di dunia novel mungkin sekarang hidupnya sudah bahagia.
Line. Elvy melirik hpnya yang tiba-tiba berbunyi, lalu kembali menenggelamkan pikirannya pada alur cerita novel, hingga suara pemberitahuan itu kembali terdengar.
“Iss, siapa sih yang line.” Elvy bangun dari tidurnya, mengambil benda persegi panjang itu, dan matanya langsung membesar saat melihat siapa yang mengechatnya.
Eldwin Permana M menambambahkan anda sebagai teman.
Ini anak kapan ngambil id line gue, pikir Elvy sambil membuka pesan apa yang dikirim cowok satu itu.
Eldwin Permana M.
Elvy, lagi apa?
“Lah ini anak kesambet apaan kirim kayak gini?” Elvy membaca ulang chat itu, mencari tahu apa ada makna tersembunyi yang dikirmkan oleh Eldwin. “nggak usah dibales deh, nih anak lagi gaje,” tutur Elvy sambil meletakkan kembali hpnya ke tempat semula, dan bersiap melanjutkan apa yang dibacanya.
Line.
“Nih anak maunya apa coba.” Elvy lagi-lagi dengan terpaksa mengambil hpnya, melihat apa lagi yang dikirim oleh curut satu itu.
Eldwin Permana M.
“Read doang?”
ReadBerisik lo. Ngapain line gue?
“Cepet amat dia baca.” Komen Elvy saat tanda Read itu muncul belum beberapa menit.
Eldwin Permana M.
Kangen sama lo.
Deg deg. Membaca itu, membuat jantung Elvy berdetak aneh, dia desiran yang sama sekali dia tak pernah rasakan. Elvy langsung menampik perasaan aneh itu, dan memilih untuk membalas pesan aneh dari Eldwin
ReadLo gila ya sampe gaje gini.
Eldwin Perrmana M
Gila karena lo ini. Jalan yuk.
“Tuh kan nih anak gaje.” Celetuk Elvy saat membaca balasan dari Eldwi. Elvy menyandarkan tubuhnya keranjang, tangannya bergerak lincah membalas Eldwin.
ReadMales. Jalan sana sama pacar lo, jangan ngajak gue.
Eldwin Permana M
Pacar gue kan lo.
ReadPacar, mata lo pacar. Nembak aja nggak pernah.
Eldwin Permana M.
Kalau mau ditembak bilang. Ya udah gue tembak nih. Lo mau jadi pacar gue?
ReadGila.
Lah gue serba salah. Lo yang minta ditembak tadi.
ReadDih kapan. Ogah banget gue ditembak sama lo.
Tuh kode yang diatas. Bilang “Nembak aja nggak pernah”
Bilang iya aja susah banget.
“Kapan gue ngetik kalimat itu, hal..mampus.” Mata Elvy langsung terbelalak seketika saat melihat kalimat yang terpampang indah di layar. Mati gue mati, ini siapa yang ngetik sih, runtuknya sendiri. Pikirannya langsung buyar saat mendengar dentingan notifikasi hpnya.
Jangan sok bilang khilaf, gue tahu lo yang ngetik. Gue di depan rumah lo. Cepet keluar.
Mata Elvy mengerjap perlahan, sambil menyusuri kata perkata yang dikirimkan oleh Eldwin. Serius nih anak ada di depan rumah? Boong banget, masa iya bisa chatingan sambil jalan.
ReadBoong banget lo jadi orang. Udah gue mau baca novel, jangan ganggu gue lagi.
Liat jendela coba.
Tanpa pikir panjang Elvy berjalan kearah jendela kamarnya, dan benar saja disana ada cowok dengan kemeja biru yang tengah menatap ke arah kamarnya dengan senyuman yang mempesona, maksudnya memuakkan. Elvy berdecak, sambil geleng kepala menghilangkan pikiran gila yang terlintas diotaknya, dan langsung melihat hpnya lagi saat mendengar pemberitahuan.
Eldwin Permana M.
Gue tahu gue cakep, cepet keluar. Kita jalan, dan nggak ada penolakan.
Kalau lo nolak, gue bilang ke nyokap lo kalau kita udah pacaran 3 tahun.
“Anjir, nih anak beneran gila. Udah pemaksa, tukang anceman lagi. Dan ini dia bilang apa, mereka udah pacaran 3 tahun? Kenal aja baru berapa minggu.” Cerocosnya, dia mendongak melihat kearah Eldwin dan mengepalkan tinjunya ke udara, yang dibalas oleh hendikan bahu Eldwin. Ah bodo lah, dia mana berani bilang. Biarin aja tuh anak di depan, panas-panasan masa bodo. Elvy langsung berbalik memasuki kamarnya lagi. Dia sudah siap untuk naik ke atas kasur, tapi langsung berjalan cepat ke kamar mandi saat membaca chat dari Eldwin.
Eldwin Permana M.
Oh lo nantang? Gue tunggu sampe 20 menit lo nggak keluar, gue bakal masuk dan kasih tahu kalau kita bakal menikah. Dan sekedar ingetin lo, gue nggak pernah main-main sama ucapan gue.
Kalimat panjang itu sukses membuat Elvy bergegas masuk kedalam kamar mandi, dengan perasaan kesal dan marah. Kenapa dia bisa lupa kalau Eldwin itu nggak tahu malu, dan kenapa dia juga harus mau temenan sama orang pemaksa kayak gini Elvy terus menggurutu, saat mengingat deretan chat yang dikirimkan oleh Eldwin.
“Tadi bilang pacaran 3 tahun sekarang nikah. Tuh anak beneran gila. Gue aja nggak mau pacaran sama dia apalagi nikah,” cerocosnya, sedangkan Eldwin disana tertawa puas sambil membayangkan reaksi yang dikeluarkan oleh Elvy karena kalimatnya.