Aku tak bisa menebak, apa yang ada di kepalamu. Dan kamu tahu apa artinya? Menyusahkan.
“Enggak usah cemberut gitu,” tegur Eldwin pada Elvy yang berada disampingnya. Wanita itu meliriknya sinis lalu melanjutkan gerutuannya yang tidak bisa Eldwin dengar.
Tangan Eldwin terangkat mengelus kepala Elvy, dan membuat dia mendapatakan tatapan tajam dari wanita itu. Bukannya takut, Eldwin terkekeh “Nggak usah melototin gitu juga. Lo mau nambah makan lagi? Gue traktir.”
Elvy menepis tangan Eldwin kasar, “nggak usah megang-megang kepala gue,” desisnya dengan tangan yang menusuk-nusuk kentang dipiringnya, sebagai peringatan bagi Eldwin “Gue bisa bayar sendiri.” Lanjutnya . Cowok itu sadar dan langsung mengangkat tangannya jauh-jauh sambil memberikan senyumannya.
“Megang pacar sendiri ini, udah jangan ngambek,” balas Eldwin santai sambil menurunkan tangannya dan kembali mengerjakan tugasnya. Sebenarnya tadi dia sudah siap untuk pergi dengan Elvy, tapi gagal saat dua curut yang sayangnya adalah sahabatnya menelpon untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok. Dan disinilah mereka, di tempat tongkrongan dia dan teman-temannya.
Elvy sudah hilang kesabaran, dia meraih buku entah punya siapa dan memukulnya ke pundak Eldwin, “gue bukan pacar lo. Berapa kali sih gue harus bilang.” Elvy geregetan plus kesal karena dari tadi Eldwin mengatakan bahwa dia adalah pacar cowok itu, dan lihatlah sekarang teman-temannya memandang dia dengan pandangan yang beragam, membuat Elvy ingin memakan Eldwin sekarang juga.
Eldwin memegang tangan Elvy, membuat pergerakan wanita itu berhenti “iya bukan pacar. Udah diem.” Dilepaskan tangan Elvy, dan melanjutkan pekerjaannya “tapi calon istri gue,” lanjutnya lirih, tapi masih di dengar oleh Elvy.
Elvy sudah siap untuk memukul Eldwin, tepat saat sebuah suara wanita masuk kedalam panca indranya, dan itu membuat sebuah rasa yang asing timbul dalam diri Elvy.
“Eldwin, gue bingung nih sama nomer ini.” Wanita dengan kaos putih ketat, datang dan langsung duduk menempelkan tubuhnya pada Eldwin., dan cowok itu tak mempermasalahkannya.
Cih ngapain pake duduk nempel sama Eldwin segala sih, kayak kehabisan tempat duduk lain aja, dan kenapa juga cowok itu mau-mau aja ditempelin sama cewek lemper. batinnya. Eh kok gue jadi gini sih. Elvy geleng-geleng kepala, menghapus perasaan aneh yang timbul dalam hatinya, dan dia langsung terkesiap saat sebuah tangan menempel pada keningnya.
“Lah El, lo kenapa geleng-geleng gitu? gila ya?” celetuk Atta yang kini sedang memakan permen lolipop.
Kalimat itu sukses membuat teman-teman Eldwin menoleh kearahnya, dan itu membuat Elvy gugup. Meski dia percaya diri, tapi jika ditatap langsung oleh beberapa pasang mata, dia juga akan merasa kegugupan dan kalau sudah gugup, perutnya akan bermasalah.
“Lo kenapa El? Pusing?” tanya Evan yang juga menatap kearahnya. Belum sempat dia menjawab suara Eldwin terdengar.
“Lo sakit?” Eldwin menatap Elvy khawatir,dan itu sangat jelas terlihat di mata cowok itu. Elvy menggeleng lemah, jantungnya mendadak berdetak cepat, entah apa penyebabnya Elvy sendiripun tak tahu. “Bener nggak sakit?”
Kok Eldwin mendadak perhatian banget sih. El lo harus sadar, dia itu nggak perhatian nggak. Lo jangan mikir macem-macem.
“Hei El. Bener lo nggak sakit? Kalau sakit kita pulang.” tanya Eldwin sekali lagi saat tak ada jawaban dari wanita disampingnya itu. El menggeleng sekali lagi, membuat Eldwin tersenyum.
“Ya udah kalau gitu, gue selesaiin tugas habis itu kita jalan.” Eldwin mengusap kepala Elvy dan langsung kembali tenggelam dengan tugasnya. Entah kenapa sikap Eldwin yang langsung sibuk dengan tugas serta wanita lemper itu mendadak membuat hatinya nyeri.
Ya Allah El, kenapa lo aneh gini sih, runtuknya pada diri sendiri. Lebih baik gue makan daripada makin aneh.
Pada saat dia mau mengambil makanan yang ada di depan El, tanpa sengaja dia melihat tatapan sinis dari wanita lemper itu. Lah ini cewek kenapa lagi, batin El heran. Karena tidak tahu salah apa, Elvy membalas tatapan sinis itu dengan tatapan yang tak kalah sinisnya dan langsung membuang muka, bodo amat sama cewek lemper itu.
***
Elvy menatap punggung Eldwin yang ada di depannya, laki-laki yang dari awal sangat gila. Dia tak bisa menebak isi otak Eldwin, laki-laki itu kadang-kadang susah dimengerti. Apa memang sifat semua laki-laki tidak bisa untuk ditebak, atau hanya laki-laki di depannya ini. Ah, Elvy tidak tahu dan tak mau tahu. Kenapa juga dia harus meribetkan hal itu, sekarang yang penting dia mau dibawa kemana sama laki-laki gila ini. Ini sudah lebih dari setengah jam tapi tujuan laki-laki itu tak jelas juga.
“Lo mau bawa kemana El?” teriak Elvy, karena jika tidak teriak Eldwin tak akan dengar karena helm yang dikenakannya.
Eldwin melihat Elvy melalui kaca spion matornya, dibukanya kaca helmnya “kuburan mungkin.” Balasnya tak kalah keras.
“Nggak lucu.” Elvy memukul pundak Eldwin, membuat laki-laki itu tertawa.
“Udah lah diem aja. Gue mau bawa lo ke suatu tempat, jangan cerewet lagi.” Eldwin kembali menutup helmnya dan itu pertanda bahwa percakapan mereka selesai.
Elvy hanya mengerucutkan bibirnya kesal, mau marah juga percuma. Mau pulang? Nggak mungkinkan dia lompat dari motor yang sedang melaju kencang. Begini-begini dia masih ingin hidup, jadilah dia diam sambil mengeratkan pelukannya ke Eldwin. Bukan modus tapi dia masih nyawa untuk tidak berpegangan, apalagi laki-laki itu mengancamnya jika melepaskan pelukannya dia tidak diajak ngebut-ngebutan, dan sekali lagi dia mengalah. Awas aja kalau mereka kenapa-kenapa, dia cincang juga nih orang.
Mata Elvy mengerjap bebera kali, dia melihat ke kanan dan ke kiri, tadi laki-laki itu bilang mau bawa dia kesuatu tempat, ya benar memang ini tempat, tapi pasar. Kenapa nih laki bawa gue kesini. El, lo dikerjain bener.
“Ngapain lo bawa gue ke pasar?! Lo ngibulin gue ya?” semprot Elvy masih di atas motor Eldwin. Laki-laki itu menoleh lalu kembali mengahadap ke depan melepaskan helmya, dan turun dari motor. Semua itu tak lepas dari mata Elvy, wanita itu sudah benar-benar geregetan.
“Ayok turun.” Eldwin mengulurkan tangannya pada Elvy, yang hanya dilihat saja oleh Elvy. Eldwin menghela nafas, susah sekali dekat dengan satu wanita ini. Dengan terpaksa dia mengangkat Elvy untuk turun dari motornya.
“Eldwin, lo apa-apaan sih. Lo cari kesempatan ya?” tuduhnya langsung saat dia sudah menginjak tanah.
“Kesempatan apaan sih. Lo sendiri yang nggak mau turun, seharusnya lo bilang makasih karena gue dengan senang hati turunin lo dari motor gue.”
“Males. Gue mau pulang, bad mood gue.” Elvy menghentakkan kakinya kesal sambil berbalik meninggalkan Eldwin. Tahu gue dikerjain lebih baik gue nolak dari awal, lain kali ogah banget gue di ajak pergi sama si gila. Langkah Elvy yang mulanya cepat kini semakin melambat, pelan tapi pasti dia menoleh kebelakang dan berdecak.
“Lo ngarepin apa sih. Nggak mungkin si gila mau ngejer lo,” gumamnya pada diri sendiri, lalu kembali berjalan. Diedarkan pandangannya ke arah kanan dan kiri, mencari taxi. Tangannya terulur kedepan menyetop taxi, tepat sebuah motor berhenti di depannya.
“Ojek neng.”
Elvy mendengus, lalu kembali mengulurkan tangannya kedepan menyetop taksi yang masih beberapa meter dari tempatnya.
Eldwin, laki-laki itu memegang tangan Elvy lembut, sambil turun dari motornya. “Udah jangan marah. Sama gue aja baliknya.”
Elvy menghempaskan tangan Eldwin kasar, “nggak perlu, gue bisa pulang sendiri,” ucapnya ketus. “Dasar tukang PHP,” lanjutnya yang tentunya di dengar oleh Eldwin.
“PHP? Gue PHP apa sih El? Jangan ngambek deh, lo pulang sama gue.” Sekali lagi Eldwin meraih tangan Elvy, dan sekali lagi wanita itu menghempaskan tangan Eldwin.
“Jangan pegang-pegang gue,” bentaknya. “Lo..” Elvy menunjuk Eldwin dengan jari telunjuknya “gue saranin sama lo. Kalau lo lain kali ngajak orang jalan, kasih tahu yang pasti kemana lo ajak anak orang jalan. Jangan malah PHPin anak orang, lo kira enak di PHPin.” Jelasnya panjang lebar, masih dengan emosi yang berada di ubun-ubunnya.
Diam, itulah yang dilakukan oleh Eldwin sebelum sebuah senyuman jail muncul di wajahnya. Perlahan dia maju, mendekat keararh Elvy yang kini sedang mencari taxi. Eldwin merendahkan sedikit tubuhnya, sejajar dengan wajah Elvy.
“Lo ngapain?” Elvy tersentak dan reflek mundur beberapa langkah, saat melihat wajah Eldwin dekat dengan wajahnya.
“Lo..” Eldwin menggantungkan kalimatnya, matanya memperhatikan wajah wanita di depannya. “Jangan bilang lo ngarep gue aja pergi ke tempat romantis,” tuduhnya dengan senyuman jail yang terlihat jelas di wajahnya.
Mendengar itu, wajah Elvy langsung memerah, jantungnya berdebar “ng...ngawur banget sih. Siapa juga mau pergi ke tempat romantis sama lo.” Elvy membuang wajahnya ke arah lain, kenapa gue jadi gugup gini sih. Dan ini kenapa jantung gue berdebar nggak jelas, perasaan gue nggak punya penyakit jantung.
Eldwin sudah tak bisa menahan tawanya lagi karena melihat ekspresi wanita di depannya, astaga sangat menggemaskan. Reflek dia mengacak rambut Elvy, “iya bukan lo bukan. Tapi, orang yang lagi cemberut, terus kabur karena merasa di PHPin, padahal orang yang ngajak nggak PHPin dia.”
Elvy sadar bahwa Eldwin tengah menyindirinya, dengan kekesalan luar biasa dia menginjak kaki Eldwin keras, sampai laki-laki itu mengerang kesakitan.
“Mampus. Makanya kalau punya mulut dijaga.” Elvy berbalik hendak meninggalkan Eldwin yang masih meringis, tapi dengan cepat Eldwin menahan tangannya.
“Jangan ngambek lagi. Kenapa cewek suka ngambek sih.” Eldwin menarik Elvy untuk mendekat ke arahnya. “Dengerin gue Elvy. Gue nggak PHPin lo, gue emang ngajak lo jalan kan, dan bener kan kita lagi jalan sekarang.”
Elvy sudah siap untuk membantah, enak aja dia bilang kalau dirinya ngerasa di PHPin sama Eldwin. Tapi, Eldwin lebih dulu melanjutkan kata-katanya, dan kalimat yang diucapkan oleh Eldwin sukses membuat dia perasaan aneh lagi.
“Oke gue becanda tadi. Tapi serius gue nggak PHP in lo, karena gue emang niat buat ngajak lo jalan berdua, atau lebih tepatnya gue ngajak lo kencan.” Eldwin tersenyum manis, sangat manis, dan itu membuat debaran jantung Elvy semakin berdebar kencang. “jadi sekarang kita pergi kencan oke. Biar lo nggak nganggep gue PHP,” ucapnya yang diselingi dengan tawa yang menggoda Elvy.
Sedangkan Elvy hanya mengikuti tarikan Eldwin, karena sekarang dia tidak bisa bereaksi apa-apa selain mencoba menghentikan debaran jantungnya yang semakin teratur karena kalimat tadi, dan karena genggaman tangan mereka yang semakin kencang.
***
“Lo kenapa diem aja sih?” tegur Eldwin dengan permen kapas di tangan kanannya “lo nggak suka gue ajakin ke pasar malam?” tanyanya.
“Siapa bilang? Gue suka kok, suka banget malah. Gue udah lama nggak kesini, terakhir gue kesini pas kecil.” Elvy menoleh kearah Eldwin sambil tersenyum, senyum pertama kalinya yang ia berikan pada Eldwin, dan itu membuat Eldwin terpaku sejenak. “Makasi ya.”
Eldwin membenarkan tubuhnya, dia menatap Elvy dengan intens “lo bilang apa tadi?”
Kening Elvy mengerut, wanita itu memikirkan apa yang tadi dia ucapkan, “makasi. Gue bilang makasi ke lo. Emang salah?” tanyanya.
Eldwin menggeleng cepat, “enggak. Gue kira gue salah denger tadi.” Eldwin kembali memakan permen kapasnya, begitu juga dengan Elvy yang kini masih menganggumi suasana di pasar malam itu.
“Eldwin,” panggil El pada laki-laki yang sibuk memakan permen kapas di sampingnya. Sebenarnya dia sudah sangat ingin tertawa, melihat bagaimana cara laki-laki itu memakan permen kapas, seperti anak kecil yang baru bagaimana rasa permen kapas.
“Iya?” Kini Eldwin menoleh kearah Elvy, dengan mulut yang masih terdapat sisa permen kapas.
“Lo kenapa ngajak gue kesini? Lo nggak punya niat aneh-aneh kan, ke gue?” Elvy memandang Eldwin penuh curiga. Jangan salahkan dia kalau tiba-tiba dia perasaan curiga, karena dia lupa kalau Eldwin mempunyai sifat yang harus membuat dia berhati-hati.
Eldwin menggeleng mantap, memasukkan sisa permen kapas ke dalam mulutnya sekaligus “kalau gue punya niat yang aneh, bukan kesini gue ajak lo. Tapi ke tempat sepi.” Laki-laki itu bangkit, menepuk-nepuk pantatnya, sebelum mengulurkan tangannya ke Elvy.
“Kita lanjutin kencan kita.” Bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang juga menekankan bahwa malam ini adalah kencan pertama mereka, meski dia yang harus memaksa.
Elvy sendiri, menatap uluran tangan itu dengan gugup, benarkan ini kencan mereka?, lagi-lagi perasaan aneh itu hadir dalam dirinya. Belum sempat dia bereaksi, tangannya sudah ditarik lembut oleh Eldwin.
“Lo nggak usah banyakan mikir, pokoknya malam ini kencan kita.” Eldwin lalu menarik Elvy untuk ikut menyusuri pasar malam, dengan tangan yang menggenggam erat tangan mungil Elvy tanpa tahu bawah Elvy mati-matian meredakan debaran jantungnya yang makin menggila.