09. Pendapat

2520 Kata
Sebaik apa pun kita, ada saja orang yang berpikiran buruk. “El, gue masuk kelompok lo ya.” “El, gue aja. Jangan dia, dia suka ngomongin lo. Lebih baik gue.” “Gue aja El, gue.” Elvy mengibaskan tangannya, menolak semua orang yang ingin bergabung dengan kelompoknya. Bukan dia sombong hanya saja malas, “kelompok gue udah lengkap. Gue, Maura, sama Tania,” ucapnya membuat wanita yang berkacamata menoleh kearahnya. Elvy tersenyum manis kepada wanita itu. “Sory ya, gue duluan, yuk Ra.” Elvy bankit dari duduknya lalu berjalan mendekati Tania. “El, lo nggak apa-apa tuh nolak mereka?” Maura menyamakan langkahnya sesekali melihat kebelakang, “kayaknya mereka ngomongin lo lagi deh El,” bisiknya saat melihat teman-teman kelasnya berbisik sambil melihat kearah mereka. Elvy menghendikkan bahunya cuek ,“makanya itu gue nggak mau sama mereka. Pas lagi butuh di deketin, di baik-baikkin, kalau lagi nggak butuh, di omongin seenak jidatnya. Dikira gue obat nyamuk, dipake pas dibutuhin aja.” Ucap Elvy santai. Bukannya dia tidak tahu bahwa dia sudah digosipkan sombong oleh teman-teman kelasnya, sombong karena tak mau bergaulah, nggak mau ramah lah, nggak mau bagi tugas lah, sok cantik lah, dan lain-lain, itu semua membuat Elvy menolak secara halus, mungkin. Maura tergelak, “Astaga kalimat lo itu El.” Sebenarnya dia juga menyukai kalimat Elvy, siapa sih yang mau berteman dengan orang muka dua, malah jadinya dia sendiri yang sakit hati. “Tapi, serius lo nggak apa-apa?” “Nggak apa-apa kok, udah biasa gue. Lagian,  masih ada lo kan Ra. Awas aja lo kayak mereka, gue babat habis lo,” ancam Elvy sambil memberikan pandangan tajam kearah Maura. “Iya-iya. Gue juga nggak mau jadi manusia muka dua, baik di depan, nusuk dibelakang. Dih, kayak nggak punya harga diri. Jadi, lo tenang aja. Gue selalu disamping lo kok.” Maura menepuk-nepuk pundak Elvy. “Oh ya, emang lo udah bilang sama Tania kalau kita satu kelompok?” Elvy menoleh lalu mengangguk, “udah kok.,” ujarnya santai “Kapan?” “Tadi kan.” “Lah si El.” Elvy tertawa, “ya belum lah. Ini mau bilang,” Elvy langung berjalan dengan cepat ke arah Tania yang kini sudah memasukkan bukunya. “Hai Tan,” sapa Elvy ramah, dengan senyuman lembut yang terbingkai di wajahnya. “O..oh hai, Elvy, Maura,” sapa Tania gugup. Sesekali dia menaikkan kacamatanya, kembali ketempat semula. Elvy terkekeh melihat sikap Tania yang gugup karenanya, “Udah biasa aja Tan. Kita nggak bakal gigit kok ya kan Ra,” guraunya sambil melirik Maura yang ada disampingnya. Maura mengangguk, “Iya, santai aja Tan, santai.” Marua menyenggol Elvy, memberikan kode untuk sahabatnya bicara. Elvy yang mengetahui kode itu, langsung membuka suaranya “Ehm gini Tan. Sebelumnya maaf nih, kalau gue nyebutin nama lo langsung tanpa konfirmasi dulu ke lo.” Elvy memberikan  raut wajah yang tak enak, dia benar-benar merasa tak enak karena langsung memutuskan kelompoknya. Itu semua karena dia tidak ingin satu kelompok dengan orang yang hanya memanfaatkannya saja. Tania terdiam sebentar, lalu mengangguk “Nggak apa-apa kok El,” ucapnya lembut sambil memperbaiki kacamatanya yang mulai melorot dari tempat yang seharusnya. “Tapi, kalau lo boleh tahu, kenapa lo nyebut nama gue?” Sejujurnya dia juga penasaran alasan kenapa Elvy yang memilihnya dibandingkan dengan teman-teman kelasnya  yang lain. Elvy memirikan kepalanya sebentar sebelum menjawab, haruskah dia mengatakan jawaban sebenarnya?. Dia menoleh melihat Maura meminta bantuan, dan langsung mencibir saat melihat sahabatnya itu memberikan tatapan yang seakan mengatakan ‘Apa?’. “Soalnya lo kayaknya apa adanya.” Elvy akhirnya jujur. Tania menaikkan sebelah alisnya, “Apa adanya?” “Ya apa adanya. Lo nggak cari orang pas lo butuh, nggak kayak mereka yang baik pas ada maunya. Pas enggak lo dibuang bahkan di jelek-jelekkan, karena itu gue milih lo, karena menurut gue lo beda.” Semoga saja memang berbeda, tapi dia langsung menepuk jidatnya, setelah menyadari sesuatu, “gue juga minta maaf Tan.Gue ngerasa kalau gue itu nggak jauh beda dari mereka, sorry ya,” ucapnya malu-malu dan merasa tak enak. Elvy sadar bahwa dirinya mirip dengan mereka, yang hanya mencari Tania saat dia butuh. Sebenarnya dia tidak seperti itu, dia ingin berbicara pada Tania, mengajaknya berteman. Karena dikelasnya, wanita itu jarang sekali dianggap oleh teman-teman kelasnya. Setiap dia ingin menyapa banyak hal yang terjadi dan itu membuat dia gagal menyapa. Tania, termangu sejenak sebelum mengangguk, “nggak apa-apa kok. Gue malah  udah seneng banget disapa sama lo sama Maura.” Tania tersnyum ramah. “Apaan  sih. Lo kan temen kelas gue sama Maura, jadi wajar kan kalau kita nyapa lo, Tan.” “Iya tuh bener kata Elvy,”sambung Maura “Oh iya, lo belum ada kelompok kan buat tugas ini?” tanyanya to the point. Tania menggeleng, “belum. Lo kan tahu gue nggak dianggep di kelas.” Elvy langsung berdecak, dia bersedekap “Siapa bilang lo nggak dianggep? Lo dianggep kok, nih buktinya gue sama Maura.” Elvy menepuk pundak Maura. “Kalau mereka nggak nganggep orang itu ada, berarti mereka udah nyia-nyiain sebuah kesempatan buat menambah pengalaman dan teman baru. Kecuali tuh orang, ngeselin, bikin sakit hati, bikin kecewa, boleh tuh lo nggak anggep orang.” Tambahnya. Maura yang awalnya sudah terharu dengan kalimat Elvy langsung memukul pundak sahabatnya itu pelan, “lu ya, emang bisa bikin orang kesel. Udah bagus-bagus denger kalimat bijak lo, eh malah lo hancurin,” semprotnya. Elvy menaikkan alisnya sebelah, “lah lo sih yang salah kenapa baper sama kalimat gue.” Dan terjadilah percekcokan dari keduanya. Percekcokan yang memperlihatkan keduanya sebagai sahabat. Semua adegan itu diperhatikan oleh Tania, wanita tersenyum kecil. Andai dia mempunyai sahabat seperti mereka berdua. “Jadi kita mau kerjain kapan?” Pertanyaan tania itu membuat Elvy dan Maura menoleh, mereka saling pandang lalu menjawab secara bersamaan. “Sore ini.” Tania mengangguk, mengangkat tangannya membuat simbol ok. “Oke.” **** Elvy, Maura dan Tania, ketiga orang itu terlihat sangat serius dalam mengerjakan tugasnya. Sesekali mereka berdiskusi, membahas sesuatu menurut mereka sulit untuk dimengerti. Dan selanjutnya mereka kembali fokus pada bagian mereka. Line. Suara itu membuat ketiganya otomatis menghentikkan kegiatannya. Elvy, pemilik benda yang berbunyi itu langsung mengambil dan membuka chat yang baru masuk, sebelumnya meminta maaf pada mereka. “Lah si gila,” ucap Elvy saat melihat siapa yang mengiriminya pesan. Tangannya dengan lincah membuka chat itu. Eldwin Permana M. Lagi dimana? ReadKenapa? Jawab aja. Dimana? ReadPerpus. Kenapa sih? Jangan gaje deh. Enggak ada. Udah makan? Tuhkan nih anak gaje. Males banget ngurusin. Elvy meletakkan kembali hpnya, tidak berminat membalas chat-chat Eldwin yang pasti berakhir dia ingin berkata kasar pada cowok itu. Baru Elvy, mau mengetik kembali tugasnya, suara dentingan Line itu kembali terdengar. “Ya elah El. Udah bales dulu kali chatnya, dari siapa sih?” Maura yang sejak tadi memperhatikan Elvy, tak tahan lagi untuk diam tanpa bertanya. Maklum sifat keponya sudah muncul. “Dari si gila. Udahlah diemin aja, tuh anak lagi gaje.” Elvy kembali mengetik bagiannya, tak perduli dengan dentingan-dentingan pemberitahuan yang terus berbunyi. “Si gila siapa?” Tania mengernyitkan keningnya, lalu menatap kedua wanita itu bergantian. “Eh, sorry gue kepo,” lanjutnya lagi seakan dia melakukan sesuatu kesalahan. “Nggak apa-apa. Santai aja, kepo mah manusiawi.” Maura menghentikkan kegiatannya, lalu menopang dagunya “si gila itu Eldwin. Laki-laki yang mulai deket sama Elvy.” Lanjutnya. Elvy menoleh kearah Maura sekilas, “jangan ngomong-ngomong aneh-aneh deh, Ra. Deket darimananya coba,” tegurnya membuat Maura terkekeh. “Eldwin, anak manajemen bukan?” Tania kembali bertanya. Elvy, mencibir karenanya. Maura mengangguk dan menjetikkan jemarinya, “benar sekali. Eldwin Permana Meshach, anak manajemen, yang cakep itu loh.” Maura mengucapkan itu sambil melirik ke arah Elvy dan dia tertawa tanpa suara saat melihat Elvy menggerutu tak jelas. “Kalian jangan gosip deh,” tegur Elvy, dan dia langsung mengambil hpnya saat mendengar pemberitahuan yang terus berbunyi. “Ni anak juga kenapa sih. Udah nggak dibales masih aja chat.” Dibukanya line itu, dan dia mendengus saat melihat apa yang dikirimkan oleh Eldwin. Eldwin Permana M. Jangan dibaca aja. Ini bukan koran. Lo udah makan belum? El El Elvy Elvy sayang El Lo gue cium kalau nggak bales chat gue. Elvy ReadApaan sih El. Udah deh jangan ganggu gue. Gue lagi sibuk. Makanya jawab dulu. Udah makan? Udah shalat? ReadBelum makan dan udah shalat.Kenapa sih Ini anak, emang nggak ada kerjaan atau apa sih, langsung di read aja, batinnya. Oh iya udah kalau gitu. Gue off ya. Jangan malem-malem pulangnya. “Tuh kan ini anak emang pingin dicincang, nyesel gue balas.” Elvy langsung meletakkan hpnya dengan kasar, sambil bangkit dari tempat duduknya. “Gue mau ke toilet bentar,” ucapnya dan langsung pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari kedua orang yang cengo melihat sikapnya. Dia benar-benar kesal dengan Eldwin, “Awas aja tuh kalau ketemu, gue siksa tuh anak.” Elvy berjalan dengan gerutuan dan langkah yan g lebar.  Saking kesalnya Elvy tak melihat ada seseorang yang membuka pintu kelas. “Aw..” Elvy menringis kesakitan,  tangannya menyentuh dahinya yang  terasa nyut-nyutan. Bakal benjol nih.  Siapa sih yang buka pintu nggak liat-liat, batinnya sambil mengadahkan kepalanya dan menemukan wanita berambut sebahu yang berdiri di depannya. “Sorry ya, gue nggak sengaja,” ucap wanita itu dengan penuh penyesalan “Lo nggak apa-apa? Gue obatin ya, dahi lo merah.” Lanjutnya saat memperhatikan dahi Elvy. “Kalau nggak sengaja, nggak apa-apa. Lain kali,  liat-liat orang ya kalau buka pintu.” Elvy sebenarnya  mau marah, tapi melihat bahwa wanita yang ada di depannya itu benar-benar menyesal, dia jadi tak tega. Meski dahinya yang ia yakini akan membiru. Maafkan gue ya dahi. “Serius lo nggak apa-apa? gue obatin aja deh ya, gue bener-bener nggak enak.” “Nggak apa-apa. Gue ke  toilet dulu ya, lain kali buka pintunya pelan-pelan,” pamit Elvy dan saat wanita yang ada di depannya mengangguk dan sekali lagi mengucapkan minta maaf, dia langsung meluncur ke arah toilet. Tapi baru beberapa langkah dia menghentikkan kakinya,  menolehkan kepalnya sambil menajamkan indra pendengarnya saat namanya disebut-sebut. “Gimana? Berhasil ngerjain si Elvy? “Berhasil dong. Lo nggak liat tuh jidat si Cabe merah,” ujar wanita  yang tadi membuat jidat Elvy benjol dengan suara bahagia, beda saat dia berbicara dengan Elvy.  Wah dia sengaja ngelakuin itu ke gue, k*****t emang nih cewek, dan dia semakin tak percaya saat mendengar kalimat selanjutnya. “Hahaha, mampus dah tuh cewek. Kenapa nggak jatuh aja sekalian,  biar dia nggak usah ganggu-ganggu Eldwin.” “Bener tuh, gue aja harapnya dia jatuh terus memar-memar gitu. Eh cuman jidatnya doang yang merah. Tapi tak apalah biar dia tahu rasa, siapa suruh deket-deket sama Eldwin, mana sengaja panggilannya sama lagi El. Cih.” Hello, itu panggilan gue dari orok yang dikasih emak, bapak, dan kakak gue. Kurang kerjaan banget gue samain nama panggilan kayak si gila. Karena kesal Elvy menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu, dan senyumnya  merekah saat melihat ada kaleng bekas yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Elvy memungutnya, lalu melakukan ancang-ancang untuk melemparkan kaleng kosong itu. Saat sudah yakin dengan arah angin yang mengarah pada cewek k*****t itu, dia langsung melempar dan kabur dari sana. Dia tertawa puas mendengar pekikan korbannya. “Siapa suruh jadi orang yang muka dua. Lo baik gue bisa baik, lo jahat ck gue bisa lebih jahat.” Elvy tertawa penuh kemenangan. Begitulah Elvy, dia akan membalas perbuatan orang kepadanya lebih dari apa yang dia terima. Hidup itu harus adil bukan? **** Senyum Elvy terus muncul saat mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum dia ke toilet, tapi langsung hilang saat melihat orang dengan kaos merah, dengan kacamata yang bertengger dihidungnya tengah asik memainkan laptop milik Elvy, yang sesekali berbicara pada kedua temannya. Eldwin, cowok penyebab semua ini. Dengan tergesa dia menghampiri Eldwin, dan merebut laptopnya kasar, “lo ngapain disini?” Elvy memandang Eldwin tak suka.  Eldwin mendongakan kepalanya dengan senyum kecil yang terpantri dalam wajahnya, tak ada rasa tersinggung dalam hatinya saat Elvy bertanya dengan nada ketus seperti itu. “Jemput lo,” ucapnya santai, tapi tiba-tiba Elwin berdiri, tangannya langsung menyentuh kening Elvy. “kenapa jidat lo?” tanyanya, sambil mengusap pelan kening Elvy. Elvy yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba oleh Eldwin, hanya bisa terdiam. “El, jidat lo kenapa bisa merah gini?” tanyanya ulang dan sukses membuat Elvy tersadar akan kondisi. “Kejedot pintu. Ini nggak usah pegang-pegang.” Elvy menjauhkan tangan Eldwin dari keningnya, risih karena tatapan Maura dan Tania dan juga karena detak jantungnya yang langsung berdebar. “Kenapa bisa?” “Nggak usah kepo deh. Lo pulang sana, gue bisa pulang sendiri.” Elvy menjatuhkan tubuhnya ditempat semula setelah berhasil mendorong Eldwin menjauh sedikit. Eldwin menarik kursi di samping Elvy, mengarahkan tubuhnya menghadap wanita itu, “Kepo sama lo ini. Nggak ada pulang sendiri.” Eldwin menarik pergelangan tangan Elvy, membuat Elvy mau tak mau menoleh ke arahnya. Elvy menatap Eldwin tak suka, laki-laki itu tak tahu apa kalau sikapnya selalu sukses membuat perasaan aneh muncul dan ditambah jantungnya berdebar, “dibilangin jangan pegang-pegang sih. Pulang sana,” usirnya lagi. “Itu jidat kenapa?” Eldwin mengabaikan perintah Elvy, pikirannya kini fokus pada kening Elvy. “Dibilangin kejedot pintu, nggak percaya amat sih.” “Kok bisa?” kini Maura masuk ke dalam komunikasi antara Eldwin dan Elvy. Jangan mengira bahwa saat ada kejadian yang sangat langka dia bisa mengabaikannya begitu saja, oh tidak bisa. Setiap peluang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, begitu juga dengan kondisi sekarang. Kalau ada kesempatan untuk mengorek informasi, dia juga harus memanfaatkannya sebaik-baiknya, begitulah kehidupan. “Gara-gara manusia muka dua.” “Muka dua? Siapa?” “Fans lo. Udah jangan ditanya lagi, lo pulang sana. Semakin lo lama disini, bikin gue risih.” Risih karena detak jantung gue yang nggak menentu, dan gue nggak tahu alasannya apa, lanjut Elvy dalam hati. Mimik wajah Eldwin langsung berubah, “siapa namanya?” tanyanya dingin, bahkan tatapan yang dia berikan pada Elvy berbeda dari biasanya. “Gue nggak tahu.” Elvy menolehkan kepalanya ke arah Eldwin, hendak menyuruh cowok itu pulang, tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat ekspresi Eldwin. “Kok lo bilang Muka dua Elvy?” Pertanyaan Tania itu seperti sebuah air dalam gurun dalam pikiran Maura, karena sejak tadi wanita itu sudah mau menanyakannya tapi tak jadi. Elvy mengalihkan pandangannya dari Eldwin kearah Tania dengan cepat, “iya emang kalau selain muka dua emang apalagi sebutannya yang cocok. Kalau dia udah minta maaf, eh ternyata dia sengaja ngelakuin itu ke gue, bahkan dia hrapnya gue kepleset dan memar-memar,” ujarnya penuh emosi. Edwin membuang nafasnya pelan, tangannya menyentuh kening Elvy lembut, “Maaf ya. Habis kerjain ini langsung diobatin. Gue tungguin lo sampai selesai, tapi makan dulu.” Eldwin menyerahkan kantong plastik warna putih ke arah Elvy, “gue nggak mau lo sakit.” Kalimat itu sukses membuat Elvy merasakan ada beribu kepakan sayap dalam tubuhnya, sedangkan Maura dia seperti  kembang api yang sangat banyak karena mendengar perhatian Eldwin pada Elvy, wah terima kasih untuk si muka dua ini karena berkat dia, Maura bisa melihat kejadian yang langka. Dan untuk Tania, dia berkesimpulan bahwa Eldwin dan Elvy mempunyai suatu hubungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN