Berjalan keluar dari hutan membuat seluruh tenagaku terkuras habis. Langkahku berat, nyaris terseok. Walaupun Arvind sengaja melambatkan langkahnya, tetap saja tubuhku terasa seperti tak memiliki tulang. Lemas. Lelah. Letih. Seperti perempuan bunting yang tak tahu diri, aku memaksakan langkah padahal tubuh ini sudah memberi tanda bahaya sejak tadi. Napas ini tak lagi teratur. Keringat membanjiri tubuhku seperti hujan deras di malam yang tanpa bulan. Setiap jengkal kulit terasa lembap, lengket, dan panas. Bahkan udara hutan pun tak mampu memberi kesejukan. “Tunggu sebentar…” aku terpaksa menghentikan langkah. Tangan kananku refleks memegangi perut yang mulai terasa nyeri menusuk. Arvind langsung menoleh cepat. Sorot matanya yang biaSanaza datar, kini berubah jadi tajam dan menyelidik. “K

