Sudah satu minggu setelah acara mediasi berlangsung. Aleena sudah dalam kondisi yang jauh lebih baik. Ia yang saat itu tengah duduk sendirian di taman belakang rumahnya terkejut saat mendapati sang Ibu menyentuh bahunya pelan. Wanita baya itu tersenyum tipis, mengambil tempat di sebelah sang Puteri dan mengusap tangannya pelan. “Gimana?” Pertanyaan sang ibu membuat alis Aleena naik, apanya yang bagaimana? Batinnya. “Gimana apanya, bu?” tanya Aleena tidak mengerti. “Hati kamu. Apakah dia menginginkan untuk berhenti berusaha, atau kembali bangkit dan berusaha sembuh bersama.” Aleena menunduk. Jika boleh jujur Ia tentu ingin kembali dan sembuh berdua dengan Aksa, bukankah bersama lebih baik daripada berusaha sendiri. Tapi apa pria itu juga menginginkannya? Ia memang terlihat seperti

