Tubuhnya memang ada di sana, duduk diam di depan ruang tunggu kamar rawat Aleena. Kepalanya sejak tadi menunduk dalam, menatap lantai rumah sakit berwarna putih tersebut. Sudah hampir satu jam lamanya Aksa di sana. Duduk dengan pikiran menerawang atas permintaan gila yang dilontarkan Aleena beberapa saat lalu. “Nggak, aku nggak mau. Aku nggak mau pisah sama kamu, sayang,” tolak Aksa tegas. Ia tentu saja tidak ingin kembali kehilangan orang yang begitu dicintainya. Saat ini dirinya sudah kehilangan sang buah hati, ia takkan sanggup apabila harus kehilangan Aleena juga. Ia mencintai wanita itu. “Kamu bisa. Kamu harus. Ini demi kebaikan semua orang, Aksa. Kamu tahu, peneror itu baru saja mengancam ku untuk segera bercerai denganmu atau dia akan melakukan hal-hal jahat pada orang-orang di

