Rematan Aleena pada bahu Aksa mengendur. Wanita itu lemas hingga hampir tumbang dengan posisi setengah terduduk jika saja Aksa tidak dengan sigap menahan wanita itu. Wajahnya tiba-tiba saja memerah, air mata turun tanpa bisa ia komando. Wanita itu tidak bisa menangis, kepalanya masih saja memproses apa yang baru saja dikatakan Aksa. Itu tidak mungkin. Anak nya, anak yang dikandungnya kini telah tiada. Tidak mungkin! “Ka… kamu bohong, ‘kan? Kamu lagi bercanda, kan Aksa. Anak kita…. Dia nggak mungkin pergi secepat ini, bukan?” Aleena menggeleng, ia masih saja belum bisa menerima jika anak dalam kandungannya sudah pergi lebih dahulu. “Ini demi kebaikan kamu, sayang. Nggak ada pilihan lain,” kata Aksa coba menenangkan. Dipeluknya tubuh sang istri yang sedang menangis hebat, keduanya mena

