Genggaman tangan itu tidak kunjung terlepas sejak tadi. Senyum merekah yang terpampang nyata di wajah Aksa membuat Aleena hanya bisa tersenyum geli. Ia belum terbiasa dengan sikap Aksa yang berubah menjadi manis juga romantis. “Kita kan nggak bakalan nyebrang, kenapa pengangan tangan?” iseng, Aleena berniat untuk menjahili sang suami. “Emang yang boleh pegangan tangan cuma orang yang mau nyebrang?” Aksa bertanya balik. Pria itu mengeratkan genggamannya, dengan sesekali menciumi punggung tangan si wanita. “Ya nggak juga sih, tapi kan kamu lagi nyetir. Masa pake satu tangan?” “Tenang aja, sayang. Aku itu handal dalam urusan menyetir, jangankan urusan menyetir mobil urusan nyetir yang lain aja aku jago. Kamu tahu, ‘kan?” Aleena terdiam saat Aksa menatapnya dengan ekspresi aneh. Juga

