Di bawah terik matahari yang menyengat hingga menembus kulit, Pak Hadi berjalan menyusuri jalan setapak dengan sandal jepit karetnya sambil membawa singkong-singkong hasil panen di lahan yang tidak jauh belakang rumahnya. Bulir keringat mengalir deras hingga membasahi kaos oblong yang dikenakannya. “Ambu, Bapak sudah pulang nih! Bapak bawakan singkong untuk direbus dan dibagikan ke tetangga,” seru Pak Hadi saat kedua kakinya sudah tiba di teras belakang rumahnya. Dari dalam rumah tersebut sang istri menjawab seruan Pak Hadi. “Iya, Pak, sebentar!” “Lumayan singkongnya besar-besar, Ambu. Tidak banyak, tetapi cukup kalau mau dibagikan ke tetangga kiri dan kanan,” kata Pak Hadi seraya meletakkan singkong-singkong yang masih kotor karena berselimut tanah di depan pintu belakang rumahnya. “W

