Pagi hari yang sibuk selalu menghiasi kota Jakarta. Bunyi klakson bersahutan dari banyaknya kendaraan bermotor yang berusaha menembus kemacetan mengular di jalan, tidak terkecuali dengan angkot yang kini dinaiki oleh Damar. Meski jarak yang tidak terlalu jauh dari kost tempat tinggalnya ke kampus, tetapi kemacetan mengular pagi ini bisa dipastikan akan membuat Damar terlambat jika tetap memaksakan duduk di dalam angkot yang bergerak bagai siput. “Bang, saya berhenti di sini saja!” seru Damar seraya bergerak keluar angkot. Walaupun angkot yang dinaiki Damar barusan belum mengantarkannya hingga ke tempat tujuannya, tetapi Damar tetap memberikan uang pada supir angkot tersebut sebagai ongkos perjalanan. Dia membayar penuh, tidak dikurangi sebagian, dan tidak juga diberi kembalian. Kemudia

