Setiap hari Farel dan Gina terus mengedarkan petisi untuk ditandatangani oleh mahasiswa dan mahasiswi di kampus mereka. Farel dan Gina ingin Damar bisa kembali dan mengikuti kuliah seperti sedia kala. Saat semua petisi yang ditandatangani sudah terkumpul, Farel dan Gina beserta satu angkatan mereka didampingi Pak Mulyana menghadap ke rektor mereka. “Semua ini bentuk dukungan kami terhadap Damar, Pak. Dia tidak bersalah dan berhak untuk tetap berkuliah di sini,” kata Farel dengan sorot mata tegas pada rektor yang duduk di hadapannya. Rektor tersebut tampak tercengang dengan tumpukan kertas yang menggunung di atas mejanya. Rektor tersebut juga sedikit tidak percaya jika sebanyak itu dukungan untuk Damar. “Pak, kami semua mau Damar kembali ke kampus, dan jangan cabut beasiswa dia. Damar

