Chelsea merenggangkan tubuh, sementara Prasetyo masih mengecek artikel yang telah disiapkannya. Mereka baru berkenalan selama beberapa bulan, namun Chelsea tau jika Prasetyo menaruh hati padanya. Bukan besar kepala, namun wanita mana yang tak merasa demikian saat menerima perhatian yang tak seharusnya. Chelsea tersenyum miris. Sayang hatinya tak bisa lagi merasa, ia telah meninggalkannya pada Angga. Hanya membawa raga kosong bersamanya. Chelsea menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dan mengusap cincin bermata satu di jemari manisnya, kebiasaan yang kerap ia lakukan saat mengenang masa lalu, ketika bayangan lelaki itu kembali menyeruak ke dalam benaknya. Ia penasaran bagaimana hidup lelaki itu sekarang, namun ia tak berani mencari tau dan kembali mematahkan hatinya sendiri. “Chel … aku k

