GAME

1176 Kata
CHAPTER 8 *** Setelah acara tunangan ala kadarnya di Bali dan entah siapa yang menyebarkan foto dan video Kenzie tengah melamar Alllisya. Sekarang, menjadi tranding topick no1 membjat semua netizen bahkan para pembawa acara televisi juga selalu menampilkan video mereka. Tapi, beruntunglah karena haters tidak sebanyak awal dan Allisya bisa bernafas lega. Tapi masalahnya, sekarang banyak wartawan yang mengejarnya untuk meminta penjelasan lebih. Allisya menolak, dia selalu menghindar dari wartawan. Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan, dia menatap setumpuk berkas yang harus ia perbaiki sebelum sampai dimeja Kenzie. Karena banyaknya berita mengenai tentang dirinya, pekerjaannya jadi terbengkalai. Allisya merenggangkan ototnya, dia mulai mengerjakan setumpuk berkas itu agar pekerjaannya cepat selesai. Kalau pekerjaannya selesai, dia bisa pulang dan beristirahat. Dia ingin mengistirahatkan otaknya agar ia tidak terlalu memikirkan berita tentang nya dan Kenzie. Waktu terus berjalan, tidak terasa sekarang sudah pukul 7 malam. Seharusnya Allisya sudah pulang sejak pukul 5, tapi pekerjaannya menuntutnya untuk terya berada diruangannya. Kenzie juga sama sibuknya dengan Allisya. Beruntunglah karena tidak ada meeting yang akan mengganggu mereka. "Akhirnya" desah Allisya lega, dia bangkit lalu mengangkat berkas yang akan ia serahkan pada Kenzie. "Bisa kau tanda tangani sekarang?" pertanyaan Allisya membuat Kenzie yang tengah fokus membaca berkas terlonjak kaget. "Allisya buat Kenzie kaget" Allisya hanya nyengir, dia meletakkan setumpuk berkas itu diatas meja Kenzie. "Kenapa banyak sekali?" tanya Kenzie tidak percaya. "Salah dirimu yang sakit dan terlalu lama di Indonesia" ujar Allisya, dia duduk disofa ruangan Kenzie. Menyenderkan tubuhnya dan menutup matanya. Kenzie mendengus, dia bangkit lalu berjalan menuju Allisya. Dengan gerakan tiba tiba, dia berbaeing disebelah Allisya lalu menjadikan paha Allisya sebagai bantal. Wanita itu terlonjak kaget lalu membuka matanya dan melihat Kenzie yang tengah memejamkan matanya. "Kenzie lelah" ujar Kenzie, matanya masih terpejam. "Kenzie lelah dengan pekerjaan ini. Bisa ngga Kenzie ngga usah kerja aja" Allisya mendengus, sifat manja Kenzie keluar lagi. "Kau tidak boleh seperti ini Kenzie! Kan ada aku disebelah kamu" Kenzie membuka matanya perlahan, dia melihat Allisya yang tengah tersenyum kearahnya. "Bukan cuman kamu yang lelah, Kenzie. Aku juga. Tapi, setidaknya ada kamu disebelah aku yang membuat aku semangat" lanjut Allisya sebelum Kenzie membuka mulutnya. Kenzie tersenyum lebar, dia memeluk pinggang ramping Allisya lalu menenggelamkan wajahnya diperut Allisya. Wanita itu tersenyum, dia mengacak acak rambut Kenzie yang sudah berantakan. *** Matahari mulai menampakkan cahayanya, masuk kedalam sebuah kamar melewati celah celah gorgen. Sang pemilik kamar mengerang, tidur nyenyaknya terganggu karena panas sinar matahari. Kenzie menaikkan selimutnya sampai sebatas kepala, untung saja hari ini ia libur jadi dia bisa bermalas malasan dirumah. Dia juga tidak peduli pada Mom dan Dad nya yang baru pulang semalan sudah menggedor gedor pintunya sejak jam enam pagi dan sekarang jam sepuluh pagi. Tok..tok Suara ketukan pintu terdengar, Kenzie enggan untuk membukanya. Dia terlalu nyaman didalam selimut. Melanjutkan mimpinya bersama sang kekasih. "Kenzie" mendengar suara yang begitu familiar dan ia sukai, Kenzie langsung membuka matanya. Menyibakkan selimut itu sampai terjatuh diatas lantai. Kenzie berlari karah pintu, memutar kuncinya lalu membuka pintu berwarna coklat. Laki laki itu tersenyum kearah Allisya yang datang kerumahnya. "Kamu baru bangun, Kenzie?" tanya Allisya saat melihat penampilan Kenzie. Laki laki itu hanya memakai celana pendek, rambut acak acakkan dan muka khas orang bangun tidur. Kenzie nyengir lalu menguap sebentar. Tangannya mengacak acak rambutnya sendiri. "Abis Kenzie cape. Lagin ini juga libur, jadi puas puasin tidur" Allisya menggeleng. Dia masuk kedalam kamar Kenzie dan melihat tempat tidur Kenzie yang sangat berantakan. "Sekarang kamu mandi aja dulu" Kenzie hanya menurut, dia masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Allisya membereskan tempat tidur Kenzie sampai rapih. Setelah selesai, dia keluar dari kamar Kenzie. Berjalan santai menuju dapur. "Hai..Mom" sapa Allisya pada Liana, Mom Kenzie. Liana menengok kebelakang dan melihat calon menantunya datang kedapur. "Ohh..hai, sayang. Baru datang?" Liana tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Allisya. Mereka sangat akrab, dan Liana sangat menyukai Allisya. Dan Liana tidak ingin menantu selain Allisya. "Ngga Mom, tadi ke kamar Kenzie dulu buat bangunin dia" ujar Allisya, dia mulai mengambill makanan untuk Kenzie karena Allisya yakin jika Kenzie libur laki laki itu akan menghabiskan waktunya dikamar, bermain game. "Anak itu! Memang tidak pernah berubah. Masih saja susah buat bangun pagi" dumel Liana, terkadang dia kesal dengan Kenzie yang sangat susah bangun pagi jika dihari libur. "Namanya juga Kenzie, Mom" Allisya mengangkat satu nampan berisi makanan Kenzie dan segelas s**u putih. "Allisya anter ini kekamar Kenzie dulu ya, Mom" "Iya, tapi jangan habiskan waktu dikamar untuk bermain game. Keluar jika sudah sore" ujar Liana yang mendapat anggukan dari Allisya. "Siap, Mom" sahut Allisya, dia mulai berjalan meninggalkan dapur. Menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Kenzie. Allisya mrmbuka pintu kamar Kenzie sedikit susah, tapi ia tetap berhasil. Wanita itu masuk lalu melihat Kenzie yang sudah duduk didepan layar televisinya. Bermain ps. "Makan dulu, Ken. Kamu ngga laper?" tanya Allisya, dia duduk disebelah Kenzie. Laki laki itu melirik Allisya sebentar, jika sudah bertemu game dunia Kenzie hanya ada dirinya dan game. "Laper" Allisya mendengus, sifat datar dan dingin Kenzie muncul saat bermain game. Laki laki itu memang memiliki banyak sifat, dan kapan saja bisa berubah. "Makan dulu. Main game nya nanti" suruh Allisya tapi Kenzie menggeleng dengan mata yang masih tertuju kearah layar televisi. "Ngga mau. Allisya suapin Kenzie aja" wajah Kenzie berubah cemberut, tapi tangannya terus bergerak diatas stick ps. Allisya pasrah, perlahan dia mulai menyuapi Kenzie. Laki laki itu akan makan dengan lahap jika disuapi oleh Allisya atau tidak ya masakan buatan Allisya. "Allisya ngga makan?" tanya Kenzie disela sela kunyahan dan bermain game nya. "Udah tadi sebelum kesini" jawab Allisya, dia menyuapkan sendok terakhir kemulut Kenzie. "Beneran?" tanya Kenzie memastikan, dia menatap Allisya sebentar lalu kembali menatap layar televisi. "Beneran, Kenzie. Ngga guna juga bohong" ujarnya, dia menyerahkan segelas s**u ke Kenzie. Laki laki itu menghentikan permainannya, menerima gelas berisi s**u itu dan meminumnya sambil melihat Allisya. Kenapa wanita didepannya ini begitu perhatian? "Kok natap aku sampe segitunya?" tanya Allisya, dia malu karena ditatap begitu intens oleh Kenzie. "Kenapa Allisya ba-" "Eh Kenzie, kamu mau ngga ngajarin aku main ini" potong Allisya sambil menunjuk ps Kenzie. Allisya sengaja memotong ucapan Kenzie. Dia tidak tau harus menjawab apa. Karena Allisya tidak tau alasan kenapa dia bisa mencintai Kenzie, menyayangi Kenzie dan begitu baik ke Kenzie. Semua itu masih menjadi teka teki dalam dirinya. Padahal Kenzie itu childish, possesive, pemaksa, otoriter, cemburuan dan lainnya. Dan Allisya masih mencintai Kenzie. Mata Kenzie berbinar, dia mengangguk semangat. Dan dengan gerakan tiba tiba dia mengangkat tubuh Allisya membuat wanita itu terpekik kaget. Kenzie mendudukkan Allisya dipangkuannya. "Kita main berdua aja ya" ujar Kenzie, dia meletakkan stick ps itu diatas tangan Allisya lalu tangannya berada ditangan Allisya. Kenzie menggerakkan jari Allisya dengan jaringa. Meletakkan dagunya dipundak Allisya. Sebenarnya, Allisya tidak fokus. Dia lebih fokus ke Kenzie karena laki laki itu begitu serius saat bermain game. "Mau main game apa liatin, Kenzie?" pertanyaan Kenzie membuat Allisya malu. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah Kenzie ke layar televisi. Wajahnya berubah merah karena sangat malu. Kenzie terkekeh kecil melihat Allisya yang bersemu malu. Dia mengecup pipi Allisya sekilas membuat wanita itu semakin malu. "Allisya lucu" ujar Kenzie sambil sedikit terkekeh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN