MANJA TERUS

1107 Kata
CHAPTER 9 *** "Akhirnya kalian keluar juga" ujar Liana saat melihat Kenzie dan Allisya menuruni tangga. "Mom, nungguin Kenzie?" tanyanya, dia langsung duduk disebelah Liana, memeluk lengan Liana erat. Dia memang manja dengan Liana. "Udah dari pagi" ujar Liana ketus, dia mengelus rambut Kenzie perlahan dan penuh kasih sayang. "Dad, mana, Mom?" tanya Allisya, dia duduk sofa panjang, memperhatikan ruang keluarga yang hanya terisi tiga orang. "Dad lagi jemput, Kenzo, tau sendiri lah, Sa-" "Mom jangan panggil Allisya, Sayang! Cuman Kenzie yang boleh manggil, Allisya sayang" potong Kenzie, dia menatap Liana kesal. "Suka suka, Mom, dong! Kan mulut, Mom" ujar Liana, dia menatap Kenzie sinis. "Lagian, nanti Allisya juga bakal jadi menantu, Mom." "Iya, tapi jangan panggil Allisya sayang juga" ujar Kenzie dengan menekankan kata sayang. Dia duduk tegak, melipat kedua tangannya didepan d**a. Wajahnya berubah merajuk. Liana terkekeh melihat kelakuan Kenzie yang seperti anak kecil. "Ngga usah cemberut juga, Ken. Lagian Allisya bakal tetep jadi milik kamu" Liana menarik kepala Kenzie sampai laki laki itu jatuh kepangkuan Liana. Paha Liana menjadi bantalan Kenzie. Laki laki itu senang seperti ini karena mereka jarang bersama, ditambah Gavin, ayahnya tidak memperbolehkan dirinya seperti ini. Allisya tersenyum melihat kelauan Liana dan Kenzie. Laki laki itu seperti bocah berumur lima tahun yang tengah bermanja dengan Ibu nya. Walaupun Allisya tersenyum, dalam hatinya dia merasa iri. Seandainya Ibu nya bersamanya saat ini. Tapi, ahh sudahlah tidak penting. Liana mengelus rambut Kenzie perlahan. Dia tersenyum. "Udah gede, mau nikah juga, tapi kenapa sifat kamu kek bocah umur lima tahun?" "Itu masih mending, Mom. Kemarin waktu sakit, Allisya ngga boleh jauh jauh dari Kenzie. Apa apa harus Allisya" adu Allisya, dia menatap Kenzie geli. "Kenzie mau jadi anak kecil aja supaya ngga ngerasain sakit hati" ujar Kenzie, dia menutup matanya, menikmati elusan tangan Liana. "Ngga gitu juga, Kenzie" Liana rasanya sudah tidak bisa berbicara dengan Kenzie lagi jika harus belajar dewasa. Anaknya ini memang sangat kekanakan, manja, tapi bisa tegas. "Mom-" Liana menghentikan ucapannya saat melihat Gavin dan Kenzo berjalan mendekat kearah mereka. Gavin memerintahkan Allisya dan Liana agar diam. Perlahan, Gavin mendekat kearah Kenzie. Memukul p****t anak pertamanya dengan keras sampai Kenzie memekik sakit. Laki laki itu bangkit duduk, menatap Dad nya dengan kesal. "Sana! Manjanya sama Allisya, jangan sama, Mom. Mom cuman milik Dad!" ujar Gavin, dia mendorong tubuh putranya agar menjauh dari Liana. "Dia anak kamu loh" ujar Liana, sekarang dia beralih mengelus rambut suaminya yang kepalanya disenderkan ke bahu Liana. Kenzie mendengus, dia mengusap pantatnya yang terasa panas dan perih. Dia melihat, Kenzo, saudara kembarnya dengan tajam karena laki laki itu tengah menahan tawanya. "Kalo mau ketawa ngga usah ditahan!" Kenzie duduk disebelah Allisya, membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Allisya sebagai bantal. "Lagian, umur udah 22 kelakuan masih kek bocah. Kamu kapan gedenya?" tanya Kenzo, dia duduk tepat disofa depan Liana dan Gavin. "Ngga peduli" Kenzie menutup matanya, membalikkan tubuhnya sampai wajahnya menghadap keperut Allisya. Memeluk wanitanya dengan erat dan possesive. "Kenzie, aku bel-" "Kenzie ngga mau jadi dewasa, jadi dewasa itu ngga enak. Mending jadi anak kecil yang bisa manja manjaan kesemua orang. Kenzie ngga peduli, yang jelas Kenzie bahagia" ujar Kenzie membuat semua terdiam. Bahkan, Allisya yang tadi mengelus rambut Kenzie menghentikan gerakannya dan melihat wajah Kenzie yang terbenam diperutnya. "Dari pada Kenzo ngurusin hidup orang lain, mending Kenzo cari pacar. Kasihan banget dari dulu jomblo terus" perkataan Kenzie membuat Kenzo melongo. Astaga, Kenzie bisa berubah secepat itu? "Aku ngga jomblo ya, aku tuh pilih pilih. Cari yang berkualitas" jawab Kenzo, kesal juga berbicara dengan kakak kembarnya. "Emang kalo udah dapet yang berkualiatas, itu perempuan mau sama Kenzo yang nakal, suka tebar benih, main kelab?" tanya Kenzie, dia tidak menatap Kenzo sama sekali. Tapi, dia yakin kalau wajah Kenzo sudah merah padam karena rahasianya terbongkar dengan mulusnya. "Ken-" "Ehemm" deheman Gavin sukses membuat wajah Kenzo memucat, dia menatap Dad nya sambil nyengir tanpa dosa. "Aku janji, Dad, ngga bakal lagi kok" Kenzo menunjukan dua jarinya, dia meminta damai. Sifat Kenzie dan Kenzo berbeda. Kalau Kenzie itu childish, manja, namun tegas dalam dunia bisnis, berbanding terbalik dengan Kenzo. Dia itu nakal, mandiri, dan dia tidak bisa tegas, Kenzo lebih suka bermain dari pada ia bekerja. Buat apa kerja jika jika harta orang tuanya aja ngga bakal habis sampe tujuh turunan, mungkin lebih. "Lebih baik, Mom, nikahin kamu sama wanita pilihan, Mom. Berkualitas, baik dan pastinya bisa didik kamu supaya bisa kejalan yang bener lagi" Kenzo mengerjap mendengar ucapan Liana yang tidak bisa dibantah. Dia meringis dalam hati jika dia dijodohkan. Kenzie tertawa kencang. "Makanya ngga usah nakal, ujung ujunnya dijodohin kan" Ledekan Kenzie membuat Kenzo kesal. Dia melempat bantalan sofa ke Kenzie tapi laki laki itu masih saja tertawa meledek. "Kenzie!" tegur Allisya yang sedari tadi hanya diam. Dia mengelus rambut Kenzie. Mendengar teguran Allisya, Kenzie langsung diam walau sesekali dia masih terkekeh kecil. "Karena Kenzie udah punya pacar sejak SMA tapi kamu masih gini gini aja, ya udah Mom sama Dad bakal jodohin kamu. Makanya car-" "Iya iya nanti aku cari pacar. Tapi jangan jodohin aku. Apa kata temen temen aku nanti kalo mereka tau aku dijodohin" potong Kenzo. "Ya udah, dalam tiga hari kamy harus udah punya pacar. Kalo bisa yang kek Allisya. Baik, pinter masak, sopan, jangan ambil sembarangan!" suruh Liana. "Jangan sama samain Allisya sama yang lain. Lisya cuman satu!" ujar Kenzie ketus, dia melirik Liana tidak suka. "Elahh Mom, cari cewek kek Allisya susah. Dia udah paket lengkap" Kenzo menghela nafas. Dalam tiga hari dia harus bisa mendapatkan wanita seperti Allisya? Astaga, jarang bisa. Mentok mentok pasti cewek nakal juga kek Kenzo. "Ya Mom ngga mau tau. Yang jelas harus baik, ngga matre. Kalo matre apalagi ngga sopan, pakaiannya ketat, siap siap aja kamu hengkang dari rumah Mom" ancam Liana, pasalnya dia sering melihat Kenzo bersama wanita wanita yang memakai pakaian kurang bahan dan ketat saat berada di mall atau tidak dari anak buahnya yang ia suruh mengikuti Kenzo kemanapun. "Mom" rengek Kenzo tapi Liana tidak peduli. "Dad-" "Nurutin kemauan Mom atau Dad sita semua fasilitas kamu?" ancam Gavin yang ternyata sama saja. "Makanya kerja" ledek Kenzie, dia bangkit duduk. Tangannya memeluk pinggang Allisya erat. "Diem, kamu!" ujar Kenzo ketus. Dia melirik Kenzie tajam. Allisya tersenyum tipis melihat kelakuan keluarga Keenan. Hangat dan penuh canda, tidak seperti keluarganya yang berantakan. Dia beruntung bisa memiliki kekasih seperti Kenzie yang masih mengajarkannya untuk tetap mencintai kedua orang tua. Dan itu juga yang membuat Allisya masih mencintai kedua orang tuanya sampai sekarang, walaupun mereka sudah membuat Allisya mengalami broken home bahkan saat dia masih berumur 7 tahun. "Bahagia selalu" batin Allisya, dia terkekeh saat Kenzie dan Kenzo saling meledek satu sama lain. Keluarga yang bahagia bukan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN