Damar menatap kedua makhluk yang sekarang ada didepannya. Kedua kaki Damar awalnya ingin mendekat namun dia urungkan karena Zea nampaknya sangat senang saat berada dekat dengan Devano. Satu langkah kakinya hendak pergi, namun seorang wanita tua keburu mencegahnya untuk pergi. "Damar kamu mau kemana? Cucu Eyang kan belum kamu obati" Ucap Eyang dengan suara khas nenek-neneknya. Sontak Zea dan Devano menoleh. Eyangpun mendekat, Zea serta Devano ikutan duduk didekat Eyang. Dan Damar pula rasanya malu jika harus menolak perkataan Eyang yang selama ini dia hormati. Bahkan bukan hanya dia yang menghormati Eyang, namun semua orang yang ada di kota ini juga menghormati wanita yang sudah tua ini. "Iya eyang" Ucap damar sambil menenteng kotak obat. Lalu duduk didekat Zea. Zea rasanya sangat malas

