Bagaikan kilat Zea mengendarai mobilnya untuk segera kerumah Eyangnya. Disana sudah ada Devano yang sedang menunduk lesu. Ditemani juga bibi Ani dan Eyang yang nampaknya sudah mengetahui keadaan ibu Devano. "Dev!" Panggil Zea. Devano menoleh, diikuti bibi Ani dan Eyang. "Ayo kita ke rumah ibu kamu" "Tapi Ze... Apa boleh?" Zea mengangguk. Dia rasanya ingin menangis melihat wajah muram Devano. Meski Devano tidak menangis, Zea yakin hati Devano sekarang sedang terpukul. Tak menunggu lama. Devano dan Zea berpamitan untuk segera kerumah kediaman Ibu Devano yang ada di Bogor. Pakaian Zea dan Devano juga sudah disiapkan oleh Bibi Ani agar mereka berdua bisa langsung pergi dari sini. Disepanjang perjalanan Devano masih diam sambil menatap mobil-mobil yang melintas di jalur jalan tol. Zea ju

