Bagian 7

1116 Kata
Hann Ada dua rute untuk menuju Belousva. Pertama, jalur langsung ke Belousva. Tapi jalur ini terkenal dengan jalur gersang dan panas. Dan di sepanjang perjalanan, aku hanya akan melihat gedung-gedung kota dan industri-industri tak beradab. Ditambah, kedatangan kereta ini pun cukup lama. Paling sebentar –setidaknya aku harus menuggu sekitar dua jam atau lebih. Lalu jalur kedua, jalur yang paling diminati orang-orang karena kereta itu bergerak ke selatan prefektur Horvarth yang mana rute ini akan melewati celah-celah gunung dan menerobos masuk hutan-hutan. Tak jarang juga, di rute ini orang-orang akan melewati padang-padang rumput maha luas. Danau-danau, peternakan, perkebutan, dan taiga-taiga. Pokoknya, rute ini adalah rute yang paling dinikmati oleh orang banyak karena perjalanannya pun akan terasa sangat menyenangkan dengan pemandangan yang sangat menarik. Jadi karena pertimbangan itulah, kuputuskan untuk melalui jalur kedua ke selatan prefektur Horvarth dan berhenti di sebuah stasiun kecil bernama Zsigrid. Setelah itu, aku baru meneruskan ke Belousva, pusat ibu kota Horvarth. Sekitar hampir pukul 11 siang, setelah menikmati perjalanan yang teduh menyusuri jalur yang malang-melintang di selatan prefektur Horvarth, aku tiba di satu stasiun kereta Zsigrid. Sesampainya di sana, aku pergi ke toilet untuk membasuh wajah dan menyirami rambutku yang kering. Aku kemudian bergegas melihat daftar keberangkatan di papan jadwal. Belousva: 11.15. Melihat itu, aku lantas bertanya kepada salah seorang penjaga di sana untuk memastikan, “Permisi,” sapaku. Dan penjaga stasiun itu menengok membalas. “Ya?” timpalnya, “ada yang bisa saya bantu?” “Aku hendak pergi ke Moruz. Apakah dengan kereta ini aku bisa sampai ke sana?” tanyaku. “Oh tentu,” jawab penjaga stasiun itu dengan riang-gembira serta ramah dan rajin menabung. “Kamu bisa menaiki kereta yang akan berangkat pukul 11.15 nanti ke Belousva. Dari sana kamu bisa pergi ke Moruz ke bagian mana pun yang kamu suka.” “Bahkan hingga ke ujung pulau ke pantai-pantainya?” Penjaga itu mengangguk, “Bahkan hingga ke pantai-pantai di sisi timur,” tambahnya. Tepat sekali. “Terima kasih,” kataku sekaligus mengakhiri percakapan singkat itu. Aku melangkahkan kakiku untuk membeli karcisnya di loket 1. Jika di hitung, tidak lebih dari enam orang yang mengantri. Lalu aku berjalan menuju tempat antrian, meliuk-liuk di antara pagar-pagar pembatas untuk pengantrian tiket. Dilihatinya papan jadwal keberangkatan, 11:15. Kutengok jam tanganku, waktu saat itu menunjukan pukul 10:58. Itu artinya 17 menit tersisa sebelum waktu keberangkatanku ke Belousva. Aku duduk menunggu bersama penumpang lainnya di kursi panjang yang telah disediakan. Sambil duduk, aku mengeluarkan walkman di sakuku. Kemudian memasang headset, kuputar beberapa musik klasik. Kala itu aku mengulang-ngulangi Trout Quintet milik Schubert. Beberapa kali juga memutar lagu Chopin, Spring Waltz. Hingga beberapa lagu setelahnya, kereta yang aku tunggu telah berdiri di depanku, demikian ia membuka pintunya untuk kami. Segera aku bergegas setelah pintu terbuka di gerbong 2. Bersama dengan enam orang lainnya, aku masuk. Ternyata ketika pandanganku menjamah seluruh gerbong 2, tidak ada siapa pun yang telah duduk di kursi kereta. Nyata-nyatanya penghuni gerbong hanyalah kami bertujuh (enam orang penumpang lain, satu denganku). Aku duduk direntetan kursi bagian depan gerbong sesuai dengan tempat yang tertera di karcisnya. Begitu pun dengan keenam penumpang lain, mereka menduduki kursinya masing-masing. Tak lama sebelum kereta menguik dan mengepulkan asap di kepalanya, seorang perempuan seusiaku terengah-engah masuk sambil menyampirkan tas kecil dipunggungnya. Dalam hitungan detik saja, matanya yang besar dan jernih itu sempat bertemu dengan mataku yang t*******g. Dan tak lama berselang, perempuan itu berlalu ke belakang. Roda berputar, kereta melaju. Hingga dua kondektur datang, aku masih terjaga di tempatku. Setelah beberapa menit kereta melaju, kedua kondektur itu datang mendatangi setiap penumpang untuk pemeriksaan tiket. “Tiket-tiket,” kata salah seorang kondektur. Aku merogoh saku jaket lalu mengambil selembar tiket untuk diserahkan kepadanya. “Terima kasih,” kataku setelah pemeriksaan tiket. Kedua kondektur itu bergegas pergi, menghilang di balik pintu antar gerbong di bagian belakang. Satu gerbong kini dihuni oleh tujuh orang sebelum perempuan itu datang. Total dalam satu gerbong itu fantastis, delapan orang. Itu adalah kabar yang bagus. Kemudian aku beralih ke kursi deret belakang, duduk di tepi jendela dan kubuka kacanya. Aku tak menyadari bahwa perempuan tadi ternyata duduk di sebrang kursi yang sedang aku duduki itu. Dia melihatku dengan tatapan yang seolah berkata, “dasar orang udik! Tak tahu aturan, seenaknya saja duduk.”  Tapi kenyataannya tak seperti itu. Ia malah tersenyum kepadaku dan setelah itu ia memalingkan kembali wajahnya ke balik jendela. Ah, benar rasanya jika perempuan itu memiliki bola mata besar yang indah, benar-benar indah. Sibar-sibar angin di penghujung kain, memberontak halus menerpa wajah. Udaranya tentu dingin, atau terlampau dingin ketika kubuka jendela kereta di sampingku. Tetapi aku telah mengenakan jaket. Maka itu tidak berarti lagi buatku. Sepanjang jalan di atas rel, kupandangi ladang yang berpetak-petak. Riak air sungai terdengar alami walau berbenturan dengan suara roda besi kereta. Pemukiman warga-warga begitu tradisional tetapi damai dan sejuk. Orang-orang berlalu-lalang melintas jalanan karena mengejar waktu. Dari gerbang perusahaan-perusahaan yang sudah di tutup dua hari yang lalu karena libur, hingga wajah asri pegunungan kecil mungil di samping kiriku; siapa pun pasti kian menikmati perjalanan singkat ini. Pesona di dalam kereta, jendela yang terbuka, angin yang menyelisik, ladang-ladang di pedesaan, hutan-hutan di sepanjang rute kereta, sampai pada wajah pengunungan berwarna hijau tua, semuanya membuatku lalai karena ternyata, tak lama berselang aku terlelap di dalam gerbong kereta dan terbangun sejam kemudian di Belousva. Dari sini, aku hanya perlu menaiki satu kereta lagi untuk sampai ke Moruz, tak susah memang. Di antara banyaknya jalur kereta yang berseliweran, aku bersyukur ada kereta yang langsung sampai ke Prynne sekali naik, itu praktis dan mudah, dan tentunya, sebuah kabar baik dari Belousva. Oh, karena kereta ke Prynne datang beberapa jam lagi, akhirnya aku bertolak keluar stasiun untuk menghirup udara segar di luar sana, menjauh dari aroma kereta api yang tak ada habis-habisnya. Dan tak jauh dari Belousva, ada sebuah taman bernama Veyssierre. Kau tahu, betapa takjubnya ketika tahu jika di taman itu, adalah taman yang dipenuhi oleh trik-trik licik, dihuni oleh tipu muslihat yang tak pernah kuterka, dan satu taman dimana sihir kecil dapat bekerja dengan maksimal. Di taman itu pula, perjalananku yang sesungguhnya baru saja di mulai. Di sana aku sempat terjatuh (dalam makna yang lain), dan di Veyssierre jugalah, taman itu membuatku menanggalkan semua tujuanku untuk pergi ke ujung Moruz, ke pantai-pantai yang selama ini menjadi tujuan pelarianku. Ya, kamu benar. Sekali lagi kamu benar. Perjalanan panjang ini ternyata mengarahkanku pada satu cerita yang lain, satu cerita mistik tentang kekagumanku pada seorang manusia yang lain. Ia bukan siapa-siapa, ia hanya manusia yang sama sepertiku, yang pernah duduk satu deret denganku, yang pernah berada dalam satu gerbong bersamaku ke ibu kota prefektur, Belousva; kota yang mampu mencairkan butiran-butiran es dan menumbuhkan musim-musim yang baru, yang mana orang-orang menyebutnya sebagai, musim semi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN