Bagian 6

2373 Kata
Nala Aku membuka kedua mataku dan kulihat di sekelilingku air menggenang. Semakin lama, air itu semakin meninggi. Satu meter, dua meter, tiga meter; kamarku seperti terendam banjir secara perlahan. Dari lukisan itu, air masih saja mengalir, lantas meninggi dengan tenang, perlahan. Tak seperti kebanyakan air bah di banyak tempat, air yang saat itu memenuhi kamarku adalah air yang jernih, benar-benar jernih; seperti mata air yang baru saja keluar dari ubin-ubin lantai. Tapi kebenarannya, air itu muncul dari lukisan di dinding kamar. Aku menahan napasku ketika air itu menggulung tubuhku. Hingga tiba di langit-langit, aku masih saja menahan napas. Aku merasa detik ketika tubuhku diringkus air itu, sulit sekali rasanya bergerak. Oksigen yang tersedia semakin lama semakin menipis. Udara yang kuhirup dan kukumpulkan di dadaku sebentar lagi habis. Kukira aku akan mati ketika semua usaha untuk menggerakkan seluruh tubuh tak lagi membuahkan hasil. Kini pengap mulai menghampiri dadaku, aku butuhkan oksigen, dan aku harus bernapas! Tetapi rasanya langit-langit terasa jauh dari tempatku berbaring hingga aku mengembuskan udara terakhir dari pembaringan. Seperti inikah rasanya mati tenggelam? Pikiran semacam itu berpendar semakin sering di kepalaku. Oh, selamat tinggal… Aku merasa aku tengah diambang kematian. Dan suatu ketika, ketenangan menghampiriku. Saat itulah aku tidak pernah memikirkan apa-apa. Hanya kematian, dan segalanya nampak ringan. Ketika waktu semakin beringsut, aku tidak juga melayang pergi dari tempatku. Tak ada ruh yang keluar dari badanku, dan aku masih tetap dalam keadaan yang sama. Mataku kembali terbuka, tetapi tak lama, satu keanehan terjadi; aku… bisa… bernapas. Ya, bernapas. Napasku normal, senormal ketika aku menghirup udara di daratan lepas. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu mengusikku ketika berada di atas pembaringan. Karena air mengerubungi kamarku, seharusnya aku mengambang atau melayang-layang bersama dengan semua barang-barang yang ada di kamar, ‘kan? Atau seharusnya, aku terbatuk-batuk ketika air itu masuk ke tubuhku. Atau yang paling masuk akal, semua yang ada di sana haruslah basah, tak terkecuali pakaian yang kukenakan, dan ranjang tempatku berbaring. Tetapi nyatanya tidak. Walau setiap inchnya air memenuhi seluruh sudut kamar, tidak ada yang benar-benar basah karena air itu. Tak ada satu pun benda yang melayang, dan tak ada satu pun benda yang basah karena sentuhan airnya. Bagaimana aku menjelaskan ini? Tanyaku bingung dengan keadaan yang masih tetap di atas pembaringan, sedang aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku tahu pintu kamarku saat itu terkunci. Kulihat jarum pendek di dinding sebelah barat kamarku bergerak di angka sebelas. Dan ketika jarum-jarum jam itu berdetik, satu gelembung air tercipta. Menggumpal, mengambang, dan melayang hingga terjebak di langit-langit kamar. Suara pintu terketuk, aku tahu itu suara Ibu. Kemudian terdengar jelas ketika ia memanggil namaku beberapa kali. Nah, satu keanehan yang lain muncul lagi. Apakah banjir itu hanya terjadi di kamarku saja? Aku tak menyahut Ibu. Kubiarkan ia sendirian sambil mengetuk-ngetuk pintu, kubiarkan detik itu hening, dan kubiarkan diriku diam terpaku sambil berbaring digulung air yang berkubik-kubik. Kubiarkan juga kedua mataku menatap langit-langit yang semakin banyak mengundang gelembung udara. Kubiarkan pikiranku bertanya, dan kubiarkan diriku sendirian di tengah keanehan yang tak bisa kuterjemahkan ini. Aku tak melakukan apa pun. Aku juga tidak melakukan gerakan yang berarti lainnya. Satu-satunya yang kulakukan saat itu hanyalah bernapas. Ya, bernapas dalam air. Aku lekas menenangkan diriku sendiri. Lalu perlahan bangkit dari ranjang persis seperti ketika orang-orang naik ke permukaan. Aku mengambang dengan tenang. Perlahan, kaki dan seluruh badanku kini tidak menyentuh ranjang lagi. Aku benar-benar mengambang. Kucoba menggerakkan tangan, kaki, dan berenang menuju setiap sudut kamar. Berputar-putar di atas ranjang, ubin-ubin lantai, lalu aku bergerak melewati celah sempit di atas lemariku, meraih lubang ventilasi, menyentuh langit-langit dinding, meniup gelembung udara, dan kembali aku menyelam hingga tiba di dasar ubin lagi. Namun, kedua kakiku tidak menyentuhnya, melainkan melayang, mengambang, seperti di kolam atau di lautan, tentu saja. Dan dalam keadaan seperti itu pun, mengambil udara di langit-langit rasanya tidak berguna. Karena sekalipun di dalam air, aku masih bisa bernapas ternyata. “Bagaimana menghentikan semua keanehan ini?” tanya batinku penasaran. Andai kata aku menahan air yang mengalir dari lukisan di sana, akankah alirannya terhenti? Tanyaku lagi. Walau aku tidak terlalu yakin dengan gagasan seperti itu, tetapi aku tetap mencoba menutupnya dengan selembar kain di pojokan lemari. Sudah kukatakan sejak awal, di sini tak ada satu benda pun yang basah. Begitupun dengan kain yang kuraih itu, tak basah sama sekali. Gelembung-gelembung tercipta ketika aku mengibaskan kaki dan tanganku, mirip seperti gerakan ikan-ikan. Lalu aku kembali berenang menuju lukisan itu sambil menyertakan selembar kain. Kututup lukisan itu dengan kainku. Walau konyol sekali rasanya menutup aliran air dengan kain-kain. Tapi, bagaiamana mungkin air itu bisa tertahan? Bagaimana mungkin kain yang memiliki rongga-rongga itu dapat menghentikan air yang terus mengalir? Tapi apa yang terjadi, air itu berhenti mengalir. Dan banjir di kamarku perlahan-lahan kembali surut. Hanya butuh waktu tiga puluh detik saja ketika air-air itu menghilang. Seolah, di sini tak pernah terjadi apa pun. Bahkan orang-orang tak menyadari jika tiga puluh satu detik yang lalu, kamarku terendam air. Aku duduk beberapa detik di tepian ranjang. Tubuhku masih terasa pegal-pegal. Beberapa saat aku mematung memikirkan semua kejadian itu. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin aku memikirkannya, semakin tak kuketahui jawabannya. Saat itu waktu menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh tiga menit sebelum larut malam. Aku pergi ke dapur, membuka kulkas, lalu mengambil sekaleng minuman. Dari tempatku berdiri, aku menyusuri undakan tangga hingga tiba di area rooftop yang terbuka di atasku. Sejenak aku bisa melupakan kejadian tadi dengan memandangi pemandangan dari sana; aku dapat melihat lampu-lampu sedang dinyalakan, cahaya nyala-redup di jalan-jalan besar, bangunan-bangunan tinggi, tower-tower komunikasi, lalu rumah-rumah di bawahku yang nampak dalam keremangan. Dilihatinya langit tampak sangat cerah. Dan aku merasa, perasaanku seperti menjadi sensitif dan melankolis. Langit di atasku hitam gemerlap, tapi menawan ketika ruang-ruang kosong itu dihiasi oleh bintang-bintang yang terurai dari surga, pikirku kecil. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah melihat pemandagan yang sama di tepi pantai selatan. Aku tak tidur di bawahnya. Tak mengenakan jaket, tanpa syal yang melingkar di leher, dan angin laut bebas meraba setiap tubuhku. Tapi setelah itu, tak pernah lagi aku melakukan hal serupa di kemudian hari. Atau pergi ke gunung-gunung, ke desa-desa menghindari polusi cahaya, atau ke pantai-pantai yang jauh dari hingar-bingar perkotaan, tak juga kulakukan lagi.  Lampu kamar Ibu saat itu sudah mati. Aku memaksa diriku untuk tidur, tapi aku tidak bisa. Segera aku mengambil jaket dan aku pergi mengendap-ngendap keluar dari rumah. Aku menuruni jalan setapak hingga tiba di salah satu sudut jalan utama, di sebuah perpustakaan yang tak ditutup pintunya. Seorang perempuan tengah duduk sambil membaca buku dengan segelas kaleng minuman soda di dekatnya. Aku tidak datang ke perpustakaan itu karena mungkin tak sopan jika aku datang malam-malam. Lebih baik esok pagi, atau kapan pun selama perpustakaan itu buka di siang hari. Barangkali perempuan itu sekilas melihatku. Kemudian, ia memanggilku. Tak butuh banyak waktu sampai aku berbincang-bincang dengannya di depan perpustakaan. “Aku baru saja pindah ke sini,” kataku. Ia tak terlalu terkejut dengan kedatanganku. Tapi benar saja, perempuan ini unik. Biasanya jika orang baru datang, hal yang pertama kali mereka tanyakan adalah perihal nama, tempat tinggal, atau asalnya dari mana, atau beberapa pertanyaan umum lainnya. Tetapi saat itu berbeda, ia bertanya, “Apakah kamu suka minuman bersoda?” Tanyanya. Aku mengangkat bahu. “Tentu aku suka, tapi untuk beberapa jenis saja, tak banyak,” kataku. Ia menawariku minuman soda dan kami meneguknya bersama.  Perempuan itu bangkit setelah selesai dengan minumannya. Tiba-tiba ia menoleh kepadaku, “Mau ikut?” tanyanya. “Ke mana?” “Sebuah taman tak jauh dari sini.” “Untuk apa?” giliranku bertanya. Perempuan itu mendengus, “Hanya untuk cari udara segar,” sahutnya. “Mau ikut? Kukira akan menyenangkan berbincang di sana.” Aku menyeruput habis minuman kaleng yang sedari tadi bersamaku, lalu beranjak bangkit mengikuti perempuan itu. Setibanya di taman –namanya taman Antariksa, di sana terdapat padang gulma, hamparan rerumputan, juga danau kecil dengan salah satu batang beringin tumbang di salah satu sisinya. Tak jauh dari sana, terdapat satu tempat peneduh yang berdiri tegar tapi rapuh. Sepetak kecil yang perlu dikasihani, peneduh itu seperti seorang kakek tua yang selalu bernyanyi untuk kunang-kunang dan katak-katak di malam hari. Ia berdiam diri, termanggu, kesepian, kedinginan, pasrah, sabar, seperti sedang menunggu sang kekasih. Tetapi kekasih yang ia rindukan tak juga kunjung datang. Namun demikian, ia tetap setia menunggu kekasihnya pulang hingga waktu benar-benar membuatnya lapuk. “Sekarang, tubuhnya sudah tak kuat lagi,” jelas Erika. “Beberapa batang kayu penyangga atapnya sudah mulai terlihat keropos, tapi dia masih tetap bertahan. Sesekali di malam yang pilu, tempat peneduh itu senantiasa terlihat seperti sedang bernyanyi. Tapi suaranya sudah tak seperti dulu lagi. Suaranya kini semakin sumbang ketika ia bernyanyi bersama angin malam. Wajahnya tampak kusut. Tapi tempat peneduh itu benar-benar penantang nasib yang tangguh,” tutupnya. Kami duduk di sana untuk waktu yang lama. Kami berbincang banyak hal mulai dari soda hingga tikus-tikus. Sesekali, aku beranjak dari tempatku lalu merentangkan tangan di bibir danau. Perempuan penjaga perpustakaan itu namanya Erika–kutahu setelahnya, memalingkan wajah, lalu menegak tiga atau empat tegukan. “Jika aku berada di kota saat ini, mungkin aku sudah minum alkohol,” katanya. “Kau tahu, sebenarnya soda juga mirip dengan alkohol. Orang-orang akan meminum itu jika mereka sedang penat.” Aku menyilangkan kakiku lalu bersandar pada batang kayu di peneduh tua itu. “Soda juga termasuk minuman alkohol tanpa alkohol,” sambungnya. Aku tak menjawab. Kakiku berayun kecil seperti anak-anak. “Bukankah dulu air soda diciptakan untuk membunuh tikus?” tanyaku. Perempuan itu kembali menegak minumannya. “Aku dengar sih begitu. Tapi karena rasanya yang enak, air soda dihidangkan menjadi minuman segar.” Aku tertawa kecil. “Betapa konyolnya itu.” “Yaa, aku sepakat,” katanya. “Penemunya tak berniat untuk membunuh teman-temannya dalam satu jamuan. Ia hanya bermaksud untuk memberikan sesuatu yang baru, namanya air soda.” “Tapi itu agak lucu buatku. Teman-temannya adalah para tikus yang akan hendak dibunuh.” “Untung saja mereka tidak tahu…dan tidak mati,” katanya lagi. “Yang mereka tahu, minuman itu segar… Dan alasan itu sudah cukup.” Satu detik kemudian, kami tertawa lepas. Aku masih menatap perempuan bersoda itu dengan sedikit prihatin. “Jangan terlalu banyak meneguk soda,” ucapku tiba-tiba. Perempuan itu segera melirikku. Seringai tipis berlangsung di antara kedua sudut bibirnya. Tanpa basa-basi, perempuan itu membuang kaleng ke tempat sampah yang tersedia tak jauh dari tempatnya duduk. Ia bangkit, membenarkan sikapnya, tegap seperti pasukan batalion SS, lalu terpekik, “Siap kumendan!!” katanya tiba-tiba. Aku lantas memiringkan kepala ke salah satu sisi sambil berpikir, sinting. Aku beranjak berjalan sampai ke bibir danau sambil merentangkan tangan. Di depan itu, kilauan riak air danau sungguh menawan. Tetapi bagaimana jika di danau itu, cahaya yang datang dari sumber cahaya intensitasnya minim sekali?  Namun ketika melihat lebih dalam ke danau tersebut, seperti ada kilauan perak di dalamnya. Kilauan yang terpantul di riaknya pun begitu cerah, lebih kuat, dan lebih bersinar daripada cahaya yang berkumpul di atasnya. Apalagi ini? Apakah di dalam sana ada sebongkah perak? Malam itu aku dibuatnya heran. Tak habis sampai di situ, aku mengamati intensitas cahaya yang berkumpul di atas danau sekali lagi. Tapi semakin kuamati –dengan segala kesadaran yang kumiliki, bagaimana mungkin cahaya remang bisa memiliki pantulan yang lebih cerah daripada cahaya aslinya di riak danau? Bahkan sampai menembusi permukaannya segala. Aku kembali menghampiri Erika. Di dekatnya, ada botol kaca bening tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Kemudian aku meraihnya, bermaksud menerawang apa yang ada di dalam air. Apakah benar di sana ada bongkahan perak yang akhirnya muncul ke permukaan? Atau paling tidak, ada selembar kertas alumunium di dasarnya. Itu adalah dua indikasiku untuk menerangkan fenomena pantulan cahaya di riak air danau yang terlalu kuat, tentu saja. Satu indikasi konyol, satunya lagi mengandung sedikit… ya.. agak masuk akal. “Apa yang akan kamu lakukan dengan botol bening itu?” Tanya Erika penasaran. Aku lekas kembali ke bibir danau. Dari botol itu, aku meletakkan mataku persis di lubangnya, lalu perlahan kuturunkan botol itu sampai setengah badannya terendam air. Coba tebak, apa yang aku dapatkan dari dalam sana? Cahaya yang muncul di bawah riak air danau itu ternyata bukan berasal dari bongkahan perak, atau kertas-kertas alumunium yang tergeletak. Cahaya itu ternyata berasal dari lampu-lampu kota yang dinyalakan. Sebuah kota? Aku mengerjapkan mataku beberapa kali memastikan jika mataku tidak bermasalah. Namun semakin aku memandangi cahaya itu lewat sebening botol, aku tidak percaya jika ada sebuah kota di dalam danau. Benarkah itu sebuah kota? Kembali aku tak percaya dengan apa yang kulihat malam itu. Cahaya-cahaya gedung masih bersinar. Lampu merah di jalanan masih berfungsi, titik-titik cahaya dari rumah-rumah belum juga dipadamkan, begitupun dari lampu-lampu kendaraan yang bergerak, seperti seekor kunang-kunang yang terbang mengudara. Kereta-kereta malam masih bergerak sebelum gerbong terakhir diberangkatkan. Papan-papan iklan di pinggir jalan terlihat terang karena lampu sorot yang menyinarinya. Lampu dari tower pemancar jaringan nyala-padam seperti irama detak jantung. Dan lembah-lembah di pinggiran kota terlihat dipenuhi oleh pinus-pinus yang runcing. Aku menarik napas dalam-dalam. Mengerjapkan mata lagi, aku berusaha menyangkal untuk apa yang kulihat di bawah air danau itu. Tapi apa yang kulihat memang benar adanya. Untuk memastikan jika apa yang aku lihat itu tidak nyata, aku memanggil Erika yang tengah duduk di bawah peneduh tua. “Ada apa?” tanyanya sambil menghampiriku. “Coba lihat, ada apa di bawah air ini.” Titahku sambil menyerahkan botol beningnya. Erika berusaha menerawang melalui botol bening tersebut. “Tidak ada apa-apa,” sahutnya dengan mata tertutup. Aku mengangkat satu alisku. “Bukankah di sana kamu dapat melihat kota-kota begitu hidup?” Erika beranjak menatapku, “Apa? Kota-kota hidup?” Ulangnya sambil menatapnya heran ke arahku. “Ya, apakah kamu melihat cahaya di dalam sana? Dari gedung-gedung, dari lampu-lampu jalanan dan dari kendaraan-kendaraan yang seperti kunang-kunang?” Aku memasang wajah serius. Erika bergeming, menahan sesuatu di ujung lidahnya. Tangannya mulai bergerak menyentuh keningku. “Kukira kamu memang harus segera tidur, ini sudah malam,” jelasnya sambil tersenyum. Mendengar itu, dadaku berdentum. Bom waktu seperti meledak. Ada apa sebenarnya ini? Aku bertanya-tanya. Lalu aku menarik mundur badanku sesegera mungkin. Aku tertunduk, “Ya, mungkin kamu ada benarnya,” terangku setengah bingung. “Hari ini aku terlalu banyak menemukan hal-hal aneh, jadi seharusnya malam ini aku istirahat saja,” renungku sambil membalikkan badan, lalu berjalan meninggalkan Erika sendirian di bibir danau.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN