Nala Sore hari itu, aku bergegas pulang ke Verge setelah cukup menghabiskan waktu seharian di taman Veyssierre. Aku ingat ketika aku pulang itu, mawar-mawar merah tampak mewarnai jalan-jalan menuju Verge. Bahkan di dalam trem-trem yang lewat, di depannya dihiasi setangkai mawar. Aku tahu bahwa hanya ada satu orang yang memiliki bebungaan sebanyak itu. Lunin, siapa lagi. Karena akhir-akhir ini tokonya tak begitu ramai dengan para pembeli, jadi mungkin ia berpikir akan lebih baik jika bebungaan itu dibagikan saja kepada orang lain daripada layu terus dibuang. Ya, kelihatannya itu bukan ide yang buruk-buruk amat, tentu saja. Hari-hariku rutin kuhabiskan di sore bersama lelaki tua di tokonya. Bercengkrama, tertawa, bersendagurau, sendu, dan ia selalu mengajakku makan bersama, atau seseka

