Hann Aku kembali ke stasiun sore itu. Menatap papan jadwal, dan kudapati keberangkatan selanjutnya, Prynne, 20:20. Tiga jam lagi aku harus menunggu. Aku duduk di pinggiran taman di dekat peron stasiun. Waktu itu, bulan begitu cemerlang berwarna merah. Aku pikir sedang terjadi gerhana. Tapi perhatianku bukan itu. Aku mengamati orang berbondong-bondong turun dari kereta, yang baru saja pulang sambil menyeret kopernya. Di seberang rel kereta, beberapa orang tengah menanti sanak kerabatnya. Seorang petugas keamanan berdiri sambil mengatur arus penumpang. Lalu suara dari peron-peron masih saja didengungkan. Seorang kakek tengah meminum-minuman bersoda di sampingku. Anak-anak kecil sibuk menendang-nendang dinding membuat irama ketukan nada. Di taman itu, tak henti-hentinya pikiranku melayan

