Nala Seorang lelaki berdarah Austro-Hungariaseumuran denganku datang ke kediaman bibi pagi-pagi buta. Ia mengetuk pintu, kemudian aku menghampirinya. Lelaki itu ternyata meminta bantuan bibi karena kudengar, ayahnya sedang sakit parah. Tapi Bibi tak memberitahuku apa penyakitnya. “Ayah kembali berhalusinasi,” jelas lelaki itu, Fransz Magnus. Bibi mengangguk. “Tunggu sebentar.” Bibi merapikan barang-barangnya, lalu memasukkan peralatan medis ke dalam tasnya. Aku pun membantu bibi membawa beberapa peralatan medis. Jadi mungkin, aku akan berguna sedikit buatnya, harapku demikian. “Maaf kalau aku sudah mengganggumu sepagi ini,” cetusnya dengan kepala tertunduk. “Tak apa. Tak perlu cemas,” jawab bibi santai. Lelaki itu memandang bibi dengan penuh harap. Tapi sekali-kali, ia juga me

