Hann Alisa Naftalena, perempuan yang sempat kusukai (dulu) itu menatapku heran. Sambil memiringkan kepalanya ia bertanya, “Apakah aku mengenalmu?” tanyanya berusaha menautkan alisnya. Wajar, sudah bertahun-tahun kami berpisah, tapi aku tahu betul jika itu wajah Alisa. Tidak salah lagi. Wajah yang tak banyak berubah seperti terakhir kali aku melihatnya. Untuk soal ini, aku cukup jeli dan cermat. “Tidak, kah, kamu ingat siapa aku?” Alisa memerhatikanku dengan seksama. Matanya menyipit, berusaha keras mengingatku. Tapi sepertinya sia-sia mengingatku. “Maaf, aku tidak begitu mengenalmu,” jelasnya yang masih sama bingungnya seperti beberapa detik yang lalu. “Tapi aku merasa, sepertinya aku pernah bertemu denganmu. Di suatu tempat, entah di mana.”

