Nala Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Bagaimana bisa lelaki itu ada di rumah Anna? Pikiranku kusut untuk sementara waktu. Di bawah peneduh tua, aku terdiam sambil menekuk kedua lutut. Inginnya aku beristirahat di atas pembaringan. Tapi nyatanya tidak. Pikiran itu –entah mengapa terus menggangguku. Hingga pukul lima sore, aku masih belum beranjak. Setengah jam kemudian, aku tidak berkutik dari tempatku. “Hei.” Seseorang memanggil. Aku menoleh, dan… Aku benar-benar tidak menyangka lelaki itu akan datang ke sini. Aku menarik napas. Mengatur sebaik mungkin agar nanti tak terlihat gamang. Suara dengusan dan detak jantungku pun tak terdengar. Wajaku juga tak kaku-kaku amat. Pertama, itu adalah gelagat yang bagus. Lelaki itu menghampiriku. Lalu tanpa permisi ia dudu

