7

1527 Kata
"Kak, aku janji engga akan kayak gitu lagi. Please jangan tarik uang jajan ku," mohon Cakra. Kia mengabaikan adiknya itu dan memilih menyalami tangan ibu dan ayahnya. "Kak, dengerin aku dong!" rajuk Cakra. Candra menatap bingung kedua anaknya, begitupun Ria yang hanya terbengong melihat Candra yang memohon pada kakaknya sedangkan Kakaknya sengaja mengabaikannya. "Ada apa sih?" tanya Candra akhirnya. Kia tidak menjawab dan malah sibuk menyendokan nasi dan lauk ke piring. Dia belum makan siang tadi, dan karena emosi dia menjadi semakin lapar. "Kak Kia jahat, Yah. Masa uang jajan ku mau ditarik," adu Cakra pada Kia. Kia tetap diam dan memilih pura-pura tidak mendengar aduan adiknya itu. "Masalahnya apa?" Ria ikut bertanya. Cakra memasang wajah sedih dan menatap kedua orangtuanya. "Aku engga sengaja ngepost foto aku sama Kak Kia di sosmed, dan mantan pacar ku kirim chat spam ke Kak Kia karena ngira Kak Kia pacar baru ku," ucap Cakra. Mendengar ucapan adiknya itu, Kia yang sedari tadi pura-pura tidak mendengar langsung menatap adiknya tajam. "Kamu bilang apa? Engga sengaja?" tanyanya pelan. Cakra meringis, dia paling takut dengan Kakaknya saat sedang dalam mode marah seperti ini. Dia buru-buru bersembunyi dibalik ibunya dan mengucapkan kata maaf berkali-kali. "Orang kayak kamu yang bikin aku males percaya sama orang," ujar Kia lalu langsung berlalu ke kamarnya. Meninggalkan Cakra yang menatapnya dengan rasa bersalah dan juga Ria yang memandang anak gadisnya dengan tatapan iba. Dia jadi teringat, sejak mereka memutuskan pindah rumah Kia jadi berubah. Anaknya jadi pemurung dan lebih suka sendirian. Bahkan Kia yang tadinya mudah akrab dengan orang baru, menjadi menutup diri dan terkesan judes sampai Kia hanya memiliki Melodi sebagai temannya. Kia juga tidak banyak bicara dan akan berkata ketus pada orang yang tidak disukai nya. Hanya satu kebiasaan manis yang dipunyai Kia, anaknya itu akan memberikan permen coklat pada siapapun yang berkata jujur di depannya. Menurutnya, itu tanda apresiasi Kia terhadap mereka yang mau berkata jujur dan bukan malah berbohong. Tapi sebaliknya, Kia akan bersikap dingin pada siapapun yang berbohong di depannya. Seperti tadi saat Cakra sengaja berbohong. "Kamu tahu kalau seharusnya kamu engga bohong di depan kakak mu," tegur Ria. Cakra menunduk dengan tatapan sedih. "Cakra lupa, Bu," jawabnya. Candra menggeleng pelan menatap anak bungsunya itu. "Besok, minta maaf sama Kak Kia. Akuin semua kesalahan kamu dan janji untuk engga ngulangin lagi," titahnya. Cakra mengangguk tanpa mengangkat wajahnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat kakaknya marah. Padahal selama ini walaupun Kia terkesan dingin, kakaknya itu selalu menuruti apapun yang Cakra minta. Kia juga akan dengan senang hati membantu Cakra jika ia dalam kesulitan entah itu pelajaran atau dengan masalah teman, tapi Cakra merasa bodoh karena sampai melupakan fakta jika Kakaknya itu bisa melihat saat seseorang berbohong atau jujur dan dia malah berkata bohong di depan kakak dan kedua orangtuanya hanya untuk membela diri. "Makan dulu, kamu juga belum makan, kan? Biarin dulu Kakak kamu itu, tunggu sampai benar-benar tenang," saran Ria. Cakra menuruti perkataan ibunya dan langsung duduk di meja makan. Sedangkan Ria berjalan ke arah kamar Kia untuk melihat keadaan anak gadisnya itu. "Kia, mau Ibu bawakan makananya ke kamar?" tawar Ria dari luar pintu. "Engga usah, Bu. Kia mau tidur," balas Kia tanpa membuka pintu kamarnya. Ria menghela nafas pelan. Jika sudah begini, yang bisa dia lakukan hanya menunggu sampai emosi anak gadisnya itu mereda baru bisa diajak bicara. __ Kia benci orang yang berbohong, tapi dia justru berbohong pada ibunya. Dia tidak ingin tidur. Matanya tidak mengantuk sama sekali walaupun tubuhnya sangat lelah. Di kepalanya, kembali berputar kejadian-kejadian di masa lalu nya. Kejadian saat ia berusaha keras mengambil perhatian ayahnya kembali dengan berpura-pura hidup normal. Kia menahan diri untuk tidak mengungkap kan kebohongan orang lain dan memilih hanya memendamnya lalu berusaha ia lupakan sambil lalu. Semua itu ia lakukan demi membuat Ayahnya kembali bersikap hangat padanya. Kemampuan yang entah sejak kapan ada pada dirinya itu, hanyalah sebuah kecacatan di mata Candra. Hingga Kia memutuskan untuk berpura-pura bahwa dirinya juga normal. Bahwa tidak ada yang aneh padanya. Hanya saja, Kia jadi tidak bisa bersikap lepas. Dia cenderung menghindari orang-orang yang terlihat sering berbohong olehnya. Kia juga jadi sering emosi saat melihat seseorang yang berkata bohong demi menyelamatkan dirinya sendiri, seperti yang dilakukan Cakra tadi. Satu tahun, selama satu tahun dia berjuang keras menjadi anak kesayangan ayahnya lagi dan upayanya berhasil saat tiba kelahiran Cakra. Ayahnya seperti tiba-tiba lupa bahwa Kia adalah anak yang pernah dikatai cacat olehnya. Candra kembali bersikap hangat dan manis pada Kia, seperti memang tidak pernah terjadi masalah di antara mereka. Kia tersenyum getir. Kadang ia ingin memberangkatkan melawan Candra. Memangnya siapa yang meminta memiliki kemampuan seperti itu? Memangnya Kia tahu akan terlahir dengan kemampuan anehnya itu? Kenapa harus Kia yang disalahkan hanya karena berkata jujur? Kenapa Ayahnya bahkan sampai melabelinya cacat hanya karena kesalahan yang tidak Kia lakukan? Walaupun Kia bahagia Ayahnya sudah kembali seperti dulu, tapi dia belum berdamai dengan sakit hatinya di masa lalu. Itu lah yang membuat Kia menjadi pribadi lain yang seakan tidak membutuhkan teman. Hanya Melodi yang bertahan di sampingnya dengan segala ke anehan yang Kia miliki. Karena menurut Kia, Melodi juga sama anehnya. Kia tertawa kecil memikirkan sahabatnya itu, Melodi bahkan tidak pernah marah walaupun Kia selalu bersikap judes dan mengatasinya macam-macam. Haruskah ia bersyukur memiliki teman aneh seperti Melodi? __ "Pagi, Kak!" sapa Cakra dengan ceria. Kia hanya menatap sekilas ke arah adiknya itu dan memilih langsung duduk di kursi yang biasa ia tempati. Melihat kakaknya kembali mengabaikan dirinya, Cakra tidak menyerah. Dia langsung bangkit dan mengambil alih piring di tangan Kia dan buru-buru mengisinya dengan nasi. "Mau lauk yang mana, Kak?" tanyanya. Kia merasa jengah sekaligus lucu melihat adiknya yang berusaha keras meminta maaf padanya. Kia bahkan mendengar ayahnya berdehem beberapa kali untuk meredam tawa yang Kia yakin siap keluar. "Ayam sama lalapan," jawab Kia pada akhirnya. Cakra langsung tersenyum senang mendengar Kakaknya mau menjawab pertanyaannya. Dia dengan semangat mengambilkan dia potong ayam dan seabrek lalapan ke piring Kia yang membuat kakaknya itu melongo. "Aku engga makan sebanyak ini," protesnya. Cakra terkekeh dan menaruh piring Kia di depan kakaknya itu lalu dia kembali ke tempat duduknya. "Maafin aku ya, Kak. Engga apa-apa deh kalau mau narik uang jajan ku, asal Kakak mau maafin aku," pinta Cakra. Dia sudah rela melepas uang jajan dari kakaknya yang bahkan jumlahnya nyaris sama dengan pemberian ayahnya itu, asalkan Kia mau memaafkannya. Kia tidak langsung menjawab. Dia memilih mengunyah makanan yang terlanjur masuk ke mulutnya dulu. "Aku janji engga akan bohong lagi, di depan kakak," cicit Cakra di akhir kalimat. Candra akhirnya tertawa mendengar ucapan anak bungsunya itu. Sedangkan Ria hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Hm," gumam Kia sebagai jawaban. Cakra langsung berseru senang. Dia bahkan berdiri dan memeluk kakaknya itu. "Makasih ya, Kak. Aku tahu Kakak engga akan marah lama sama aku," ucapnya percaya diri. Kia hanya memutar bola matanya malas. "Udah lepasin, kakak mau makan," suruh nya. Cakra menurut. Tapi sebelum beranjak kembali ke tempat duduknya, Cakra menyempatkan diri mencium pipi Kia hingga pipi Kakaknya itu merona. "Mulut kamu bekas Ayam, Cakra!" pekik Kia menutupi rasa gugupnya. Cakra malah cengengesan melihat Kia mengusap-usap pipinya bahkan mengelapnya dengan tisu. "Kak Kia setiap aku cium selalu merah pipinya, Bu," lapor Cakra. Ria tertawa kecil dan menatap ke arah Kia yang cemberut. "Kakak kamu itu masih suci, belum pernah pacaran. Jadi wajar kalau malu dicium kamu, orang kamu nya juga udah segede ini masih iseng cium-cium kakak mu," bela Ria. Cakra tertawa bersamaan dengan Candra. "Kan itu sebagai tanda sayang aku sama Kak Kia, Bu, aku bahkan engga pernah loh cium pacar-pacar ku walaupun aku sering pacaran. Aku cuma nyium Kak Kia aja," jawab Cakra. Kia mendengkus mendengar ucapan adiknya itu. "Terus aku harus bangga karena jadi orang pertama yang kamu cium gitu? Lagian aku engga yakin kalau kamu belum cium pacar-pacar mu itu," cetus Kia. Cakra menatap kakaknya dengan wajah serius. "Aku beneran engga pernah gitu tahu, Kak. Mereka kadang yang nyosor aku duluan, tapi aku engga pernah tuh cium-cium sembarangan," elaknya. "Wah, jadi kamu udah pernah dicium anak gadis? Habis itu ngapain lagi kamu kalau pacaran, hah?" sergah Candra yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dua anaknya. Kia tertawa kecil saat melihat wajah Cakra yang memerah karena tertangkap basah. Adiknya itu bahkan tidak berani mengangkat wajah. "Engga ngapa-ngapin kok, Yah. Kan tadi Cakra bilang kalau mereka duluan yang nyium, Cakra engga pernah cium balik," akunya. Kia semakin tersenyum saat melihat tanda plus biru muncul di kepala adiknya itu. Dia tahu kalau sedari tadi Cakra memang berkata jujur, bahkan saat bilang bahwa Kia lah orang pertama yang diciumnya. "Tuh, Yah! Lihat! Kak Kia senyum-senyum berarti Cakra jujur. Iya kan, Kak? Bener kan?" tanya Cakra antusias Kia sengaja mengabaikan pertanyaan adiknya itu dan memilih bangun dari duduknya saat nasi di piringnya masih tersisa setengah. "Kia berangkat dulu, Yah, Bu," pamitnya lalu mencium tangan Ayah dan Ibunya bergantian. "Kak, jangan pergi dulu. Bilang dulu sama Ayah kalau aku emang jujur," rajuk Cakra. Kia hanya tersenyum tipis dan mengambil kunci mobilnya di nakas. "Mobil hari ini Kakak bawa," beritahu nya lalu keluar rumah tanpa memperdulikan rengekan Cakra. __
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN