Something About Insident
Sisilia, Desember 2011
DORR DORR DORR.
“Mom, Dad ada di luar sana...” suara bocah laki-laki berusia 14 tahun terdengar lirih. Matanya berkaca-kaca, menahan gemuruh ketakutan yang terasa asing tapi nyata.
Di sampingnya, sang adik perempuan, tiga tahun lebih muda, terisak pelan. “Daddy…” panggilnya berulang-ulang, nyaris tak terdengar di tengah suara tembakan yang menggema dan membuat dinding-dinding bergetar.
Sang ibu meremas bahu kedua anaknya, matanya basah, tangannya gemetar. Dengan tergesa ia mendorong nakas di samping ranjang, menggesernya hingga terbuka sebuah lubang persegi kecil di dinding cukup untuk satu orang merangkak masuk.
Ia kembali berlutut di hadapan anak-anaknya. Napasnya pendek-pendek, tapi suaranya tetap lembut.
“Sayang... kau ingat apa kata Daddy? Anak laki-laki harus kuat. Harus bisa melindungi.” Ia menatap putranya dalam-dalam. “Ibu butuh bantuanmu. Bawa adikmu keluar dari sini. Lubang ini akan membawamu ke kebun anggur. Terus ikuti jalurnya. Dari sana, berjalan ke arah utara. Kau tahu tempat bunga-bunga yang biasa Ibu rawat, kan?”
Anak laki-laki itu mengangguk pelan.
“Di antara bunga-bunga itu, ada pintu tersembunyi. Di bawahnya, ruang bawah tanah. Bersembunyilah di sana. Hubungi Paman Antonie lewat handphone di dalamnya. Mengerti?”
Kepalanya kembali mengangguk, matanya tak lepas dari wajah ibunya.
“Bagaimana dengan Mommy?” suara kecil sang adik menyela.
“Iya, ikutlah bersama kami,” sambung sang kakak, mulai panik.
Ibunya tersenyum, pilu namun hangat, dan mengusap pipi mereka satu per satu. “Mommy harus bantu Daddy. Kami akan menyusul kalian nanti. Sekarang, cepat…”
Satu per satu, ia bantu mereka masuk ke dalam lubang. Namun tangan mungil Nala menahan erat jemarinya.
“Mommy ikut… kumohon,” pintanya gemetar.
Langkah kaki terdengar semakin dekat dari luar. Ibunya terpaksa melepaskan genggaman itu. “Cepatlah. Ingat, Mommy sangat mencintai kalian.”
Dengan cepat ia menggeser nakas kembali ke posisi semula, menutup lubang persembunyian. Lalu ia meraih pistol dari laci, berbalik tepat ketika pintu kamar terbuka. Tubuhnya menegang, namun pistol itu segera diturunkan yang berdiri di sana adalah suaminya, David, dengan darah membasahi baju dan wajahnya.
“Shena, cepat masuk ke—”
DORR.
Di balik lubang yang belum tertutup sempurna, kedua anak itu mendengar suara ayah mereka. Harapan sempat terbit. Nala merangkak, hendak membuka nakas kembali.
“Nala, tung—”
DORR.
Tembakan berikutnya membuat gadis kecil itu menjerit. Fazio, dengan refleks, membekap mulut adiknya erat-erat, menahan suara dan air mata yang mendesak keluar.
“DAVID!”
Raungan ibunya menyayat telinga, kemudian sunyi.
“Sebutkan di mana kalian sembunyikan chip itu,” suara asing, kasar, mengisi kamar.
“Ibumu menjawab dengan ludah,” pikir Fazio, tubuhnya mulai gemetar hebat.
Lalu....
DORR.
Tak ada lagi suara. Tak ada lagi harapan.
Air mata mengalir di pipinya saat ia merangkul adiknya yang membeku. Mereka menuruni lorong gelap perlahan, langkahnya berat, napasnya nyaris tak teratur.
“Fazio… lorongnya gelap sekali…” suara Nala lirih, hampir tak terdengar.
“Kita jalan pelan-pelan. Raba dinding. Ikuti suaraku,” bisik Fazio, tak berani berkata banyak.
Gelap seperti tak berujung. Namun akhirnya mereka menapaki tangga lain. Saat kepala Fazio terbentur sesuatu di atas, ia tahu mereka sudah dekat.
Di luar, kebun anggur tampak membentang seperti dalam mimpi. Sunyi, sepi, dingin. Mereka berlari, menyusuri jalur yang dikatakan ibu mereka. Namun setibanya di taman bunga itu, Fazio berhenti.
“Tidak ada apa-apa di sini…” katanya pelan, panik mulai menyeret suaranya. Ia menatap ke arah mansion, ke tempat teror tadi datang. Nafasnya berat.
Nala diam sesaat, lalu memandang pada sekelompok dandelion kekuningan. Ingatannya muncul, jelas sekali percakapan ringan bersama ibunya.
"The secret door..."
“Fazio, di sana…” tunjuknya dengan yakin.
“Yakin?” Fazio bertanya, berbalik padanya.
Nala mengangguk. “Mommy pernah bilang. Tempat sembunyi kalau aku main petak umpet.”
Fazio menyibak rerumputan tinggi, dan benar saja, sebuah pintu kecil tersembunyi di sana. Warnanya menyatu sempurna dengan tanah dan dedaunan.
“Nala, mereka datang,” ucapnya cepat.
Tiga bayangan mendekat dari kejauhan.
Pintu berhasil dibuka, mereka masuk dan menutupnya rapat. Di dalam gelap, suara langkah kaki kembali terdengar, menggetarkan kayu di atas mereka.
“Apa mereka akan menemukan kita?” bisik Nala. “Apa kita akan mati?”
Fazio menggenggam tangannya erat. “Kalau takdirnya begitu…”
“Aku takut.”
“Aku juga,” jawab Fazio dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, “Aku akan menjagamu.”
Dan di tengah gelap, di balik dinding-dinding tebal, hanya itu yang bisa ia lakukan. Menjaga. Bertahan. Dan menunggu entah apa yang akan datang lebih dulu. Harapan, atau kehancuran.