Something Ballerina

1072 Kata
18 Desember 2024 "Tunggu, hentikan mobilnya" laki-laki yang tengah menumpukkan kakinya itu memerintah supirnya. Mobil pun berhenti. Lalu ia menurunkan jendela mobilnya hingga membuat beberapa butir salju masuk ke dalam mobil. Ia memusatkan perhatiannya pada seorang gadis yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya di depan sebuah kedai dengan dikerumuni orang-orang untuk menontonnya. "Gadis aneh, menggunakan pakaian begitu di cuaca seperti ini" nada bicaranya terdengar sedikit mencemooh. "Akan lebih aneh lagi jika dia menari ballet menggunakan coat tebal" sahut seseorang di sampingnya yang merupakan asisten sekaligus sahabatnya. Tidak, tapi ia adalah saudaranya. "Menari yang dinilai itu gerakannya, bukan pakaiannya" sahutnya lagi. Pria disampingnya memutarkan bola matanya "Fazio Leonard dan sifat tidak mau kalahnya" Mendengar itu, Fazio mendengus tak senang. Lalu ia kembali memusatkan perhatiannya pada penafsiran ballet di depan sana yang kini terlihat gadis lain yang berpenampilan sedikit urakan membawa sebuah kotak kosong, lalu orang-orang memasukkan uang ke dalam kotak itu. Setelahnya orang-orang mulai meninggalkan kerumunan tadi. Sang gadis penari ballet tampak berpamitan pada gadis berpenampilan urakan, lalu setelah itu ia menghampiri gadis lainnya yang mungkin juga temannya yang berdiri di samping mobil Mr. Bean dan mereka memasuki mobil itu. "Jalan" ucapnya pada supir. Mobil pun kembali melaju. "Yeah, pertunjukan sudah selesai mari kita lanjutkan perjalanan" pria di sampingnya mendesah lega lalu menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya. "Matteo Da Vinci dan sifat tidak tahu dirinya" kelakar Fazio membalas ucapan Matteo sebelumnya yang membuat laki-laki yang tadi memejamkan matanya kini sontak terbuka terkejut. Setelah candaan receh itu, mobil kembali hening. Lima belas menit kemudian mereka tiba di kantor pusat perusahaan Leonard. "Apa saja jadwalku hari ini?" Fazio membuka suara setelah sebelumnya mereka saling berdiam diri.eteja kini tengah di koridor kantor menuju ruangan Fazio. Mateo membuka tab yang sedari tadi berada di genggamannya, melihat-lihatnya sebentar "hanya pertemuan dengan manager Sky Group satu jam lagi, lalu dilanjut rapat dengan direktur Leo Television jam satu nanti" Mereka menghentikan langkahnya saat sudah di depan pintu, Fazio membenarkan kancing pergelangan kemejanya lalu menaikkan tatapannya pada sang asisten dan mengangguk "Oke, tolong pastikan untuk rapat siang nanti direktur dan para staf Leo Television untuk tidak terlambat datang ke meja rapat seperti minggu lalu" "Si senor" Mateo membungkuk sedikit sebagai sopan santun kepada atasannya di kantor. Fazio kembali mengangguk sekilas sebelum membuka pintu ruangannya lalu mendapati wanita cantik dengan kulit eksotis yang membuatnya tampak seksi "Karra? Sejak kapan kau di sini?" Fazio melangkah mendekatinya. Pun wanita yang dipanggil Karra itu juga melangkah mendekat, lalu bergelayut manja mengalungkan kedua tangannya pada leher Fazio. "Mm mungkin 20 menit yang lalu, menunggumu" ia mendekatkan bibirnya pada telinga Fazio, berbisik sensual" Sejenak Fazio memejamkan matanya lalu membukanya kembali "walaupun begitu, seharusnya kau tidak memasuki ruanganku saat aku tidak ada, sayang" Lalu terdengar suara langkah terburu-buru mendekat "maaf senor, saya sudah melarang nona Karra untuk masuk ke sini, tapi nona Karra memaksa" Nadin, seorang perempuan asal negeri Taj Mahal yang merupakan sekretaris Fazio itu menunduk takut menautkan kedua tangannya di depan. Karra menurunkan kedua tangannya dari leher Fazio, lalu mendelik tak suka pada sekretaris prianya itu. Tadi ia memang memaksa masuk ke ruangan prianya ini, ia malas menunggu di luar terlebih ia ingin memberikan kejutan setelah satu minggu mereka tidak bertemu karena Fazio begitu sibuk satu minggu belakangan. "Tidak papa, kau boleh keluar" Fazio mengedikan dagunya ke samping meminta sekretarisnya pergi. "Apa kau marah?" Fazio tersenyum seraya menaikkan tangannya menyelipkan rambut Karra kebalik telinganya "tidak sayang, hanya saja lain kali jangan memasuki ruanganku saat aku tidak ada" ucapnya lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan mendudukkan di diri di kursi kebesarannya. Karra yang sempat terdiam membalikkan badannya menatap Fazio "aku minta maaf kalau begitu" Karra tidak berniat bertanya lebih mengapa Fazio melarangnya hanya untuk memasuki ruangannya. Karena yang Karra tahu, kekasihnya itu memang tidak menyukai jika orang asing menyentuh hal-hal yang bersangkutan dengan tempat atau barang pribadinya. Namun apakah dirinya ini orang asing? Tapi sekali lagi, Karra tidak berniat mempertanyakan apalagi mempermasalahkannya. Ia tidak ingin berdebat dengan Fazio hanya karena masalah sepele seperti ini. "Kemarilah, sayang" Ucapan Fazio membuyarkan fikiran Karra sebelumnya, lalu ia menuruti perkataan isyarat sang kekasih untuk mendekat ke arahnya dan mendudukkan diri di pangkuannya. "Jadi ada apa kau datang pagi-pagi sekali hm?" "Sore nanti ada acara pembukaan dan peresmian cabang baru restaurant Daddy, bisalah kau datang" Fazio tampak menimbang-nimbang sebentar sebelum mengangguk pelan "akan ku usahakan, tapi jika hanya itu saja kenapa tidak memintaku lewat pesan saja?" "Karena selain itu aku juga merindukanmu. Satu minggu penuh kita bertemu, apa kau juga tidak merindukanku?" Karra mencebikkan bibirnya, manja. Fazio terkekeh "begitu? Tentu aku merindukanmu dan merindukan hal lain juga" bisiknya sensual di akhir kalimatnya. "Aku punya waktu satu jam sebelum pertemuan dengan klian, jadi bisakah kau membantuku menuntaskan rasa rindu itu" "Of course, Mr. Leonard" Karra terpekik saat tiba-tiba Fazio mengangkat dan mendudukkannya di atas meja. Selanjutnya, yang terdengar di ruangan itu hanya desahan dan jeritan. *** Da Force Restaurant Karra menautkan tangannya pada lengan Fazio kala mereka berjalan beriringan menuju peresmian restaurant baru keluarga Force. Rapat dengan dewan direksi berlangsung cepat siang tadi, hingga sekarang ia bisa menghadiri acara keluarga kekasihnya ini. Ketika mereka sampai, acara sudah akan dimulai. Di depan restaurant itu tertera papan spanduk bertuliskan " Green Opening Free All Menu" tidak heran jika di dalam sudah banyak orang bahkan hingga mengantri. Tepuk tangan gemuruh terdengar sesaat setelah gunting pita selesai. Lalu acara dilanjut pesta kecil berupa makan malam bersama yang dilangsungkan di lantai dua. Karena lantai pertama diperuntukkan untuk warga yang ingin makan secara gratis untuk dua hari ke depan. "Terima kasih sudah menyempatkan datang pada acar kecil seperti ini di sela kesibukanmu" Luis Da Force yang merupakan ayah dari Karra berkata dengan rasa senang yang tidak bisa ditutupi saat kekasih dari putrinya yang merupakan salah satu penanam saham di keluarganya menghadiri acara kecilnya itu. Restaurant makanan Italia yang memiliki cabang di beberapa sudut Italia itu merupakan bisnis yang di kelola Luis. Sementara saham yang ditanam Fazio itu di perusahaan utama keluarga Da Force, perusahaan pada bidang furniture yang merupakan salah satu perusahan besar juga. Meski tidak sebesar perusahaan Leonard yang bergerak di bidang telekomunikasi. "Menu-menu di restaurant ini salah satu favoritku, Mr. Da Force. Jadi aku tentu akan menghadirinya, terlebih ini acara keluarga kekasihku" Fazio menyunggingkan senyum pada pria paruh baya yang selalu bersikap bersahaja padanya itu. "Kendati demikian, tetap saja kehadiran mu disini merupakan suatu kehormatan bagi kami nak" Maurent Da Force, istri Luis Da Force menyahut. "Anda terlalu berlebihan Mrs. Da Force" Fazio tersenyum hangat." To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN