Sebuah mobil Mr. Bean berhenti di depan sebuah rumah bergaya kastil yang dijaga oleh beberapa pengawal di depannya. Rumah itu adalah rumah keluarga ayahnya. Rumah yang sudah seperti kastil terkutuk milik para penyihir kegelapan. Oke itu berlebihan. Tapi hal-hal yang ia alami di rumah itu sebelumnya memang sangat-sangat tidak menyenangkan bahkan mungkin bisa dikategorikan buruk.
Ya, ia pernah tinggal di rumah itu. Dulu ketika ia masih kecil hingga ia memasuki senior high school. Sekarang, ia harus kembali tinggal di rumah itu karena kedua orang tuanya diminta untuk kembali ke rumah itu oleh keluarga besar Da Force. Dan dirinya, Hazel Da Force yang sialnya bagian dari keluarga itu juga harus ikut tinggal di rumah itu mengikuti kedua orangtuanya.
"Jadi kau benar-benar akan kembali tinggal di rumah ini?" Bianca, sahabat dekatnya yang paling mengerti dirinya diantara sahabat-sahabatnya yang lain tentu tahu cerita tentang hidupnya yang miris.
Hazel mengedikan bahunya "yeah, mau bagaimana lagi. Mom dan Daddy tidak mengizinkanku tinggal sendiri, tidak peduli seberapa banyak pun aku membujuk mereka"
"Jika mereka sudah bersikap keterlaluan seperti saat-saat itu, kau datang saja ke rumah ku, oke?" Bianca menatapnya sendu.
Hazel terkekeh pelan "tentu saja, biasanya juga seperti itu bukan?"
Mereka berpelukan sebentar setelah sebelumnya menurunkan koper dan tas besar milik Hazel dari bagasi, "kalau begitu masuklah, sebum keluarga penyihir kegelapan itu menuduh mu yang tidak-tidak karena terlalu terlambat datang dibanding orang tuamu"
"Terima kasih Bia sudah mengantarku kesini" Hazel menyunggingkan senyum hangat sebelum ia memasuki rumah.
Saat baru membuka pintu utama, Maurent-ibunya baru menuruni tangga dan bergegas menghampirinya "sayang kamu sudah sampai" ia langsung memeluk dan mencium pipi Hazel kiri kanan, lalu memanggil pelayan yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Tolong bawakan tas dan koper nona" titahnya yang diangguki sang pelayan.
"Gimana tadi perjalanannya lancar? Mommy dan daddy juga belum lama tiba" ia tersenyum seraya mengusap-usap bahu Hazel yang tengah dirangkulnya.
"Hm, lancar mom hanya saja kupingku sakit mendengar celotehan bianca yang bawel" Hazel memutar bola matanya lalu tertawa pelan yang membuat ibunya juga ikut tertawa. "Ayah mana Bu?"
"Daddy sedang di restaurant barunya, hari ini 'kan pembukaan dan peresmian restaurant itu. Kau juga harus bersiap-siap karena sore nanti kita berangkat bersama ke sana"
Hazel membulatkan mulutnya membentuk huruf o lalu mengangguk mengerti. Ya, sebelumnya Hazel sudah mendengar bahwa ayah sambungnya itu akan membuka cabang baru restaurantnya. Hanya saja ia tidak mengira bahwa peresmiannya hari ini bertepatan dengan kepindahan mereka ke mansion ini.
"Kalau yang lainnya di mana mom?"
Maurent mengedikan bahu "entahlah, mereka sibuk dengan urusan masing-masing, tadi saja saat mommy dan daddy tiba hanya ada grandma Diora"
"Apa tidak apa aku langsung masuk saja tanpa menyala mereka?" Jujur saja Hazel sedikit takut disebut lancang karena memasuki rumah ini tanpa bertemu sapa dahulu dengan pemilik rumah.
"Nanti juga akan bertemu di acara peresmian restaurant dad, mereka semua pasti datang" Maurent tersenyum hangat "sudah, ayo ke kamarmu. Mommy juga sudah siapkan gaun untuk ke acara peresmian nanti"
Bersama ibunya Hazel berjalan menaiki lantai mansion itu yang berdesain kuno namun tetap terkesan elegan. Tiap dinding-dinding yang dilaluinya di hiasi foto-foto keluarga Da Force juga barang-barang antik seperti gantungan dinding atau vas dan gucci yang terpajang hampir di setiap sudut. Setelah dipikir-pikir, tidak ada yang berubah dengan tata letak di rumah ini. Semuanya masih sama seperti dulu saat dirinya tinggal di sana.
Hazel terlalu fokus memperhatikan sekitar sampai ia tidak sadar sudah sampai di depan kamarnya. Rupanya, kamarnya pun masih sama, kamar yang juga ia tempati dulu. Kamarnya terletak di lantai 3 dan bisa disebut paling ujung juga menyatu dengan rooptop. Rooptop yang sangat luas dihiasi tanaman-tanaman pot. Saking luasnya di rooptop itu juga terdapat tempat santai untuk minum teh bersama keluarga.
Jujur saja, dari dulu Hazel menyukai kamar ini. Ia tidak tersinggung di tempatkan di kamar paling terisolir itu. Karena menurutnya kamar ini sungguh keren. Di kamar ini, ia bisa menatap langsung langit malam sembari rebahan lewat jendela kamarnya.
"Ini gaun untuk kau pakai nanti" Maurent menunjukkan sebuah gaun cantik berbahan sifon berwarna peach dengan panjang selutut.
"Terima kasih mom"
"Yasudah, istirahat dulu saja. Perjalanan tadi pasti melelehkan" Maurent tersenyum mengelus bahu Hazel. Lalu setelahnya beranjak keluar.
Sementara itu, Hazel langsung mendudukkan dan merebahkan tubuhnya di kasur begitu ibunya pergi. Karena memang tubuhnya cukup lelah setelah berkemas dan perjalanan hampir 3 jam ke sini. Belum lagi nanti sore ia harus menghadiri acara itu.
***
Da Force Restaurant
Bersama ibunya, Hazel memasuki restaurant yang sudah terdapat keluarga ayah sambungnya di sana. Ia begitu manis dengan balutan gaun yang diberikan ibunya. Ibunya memang selalu tau apa yang cocok dikenakan putrinya. Sesampai di dalam ia menyapa keluarga ayah sambungnya itu dan seperti biasa, mereka membalas sapaan seadanya dan dengan tatapan tidak suka yang mereka coba tutupi dengan senyum palsu.
Saat acar gunting pita, Hazel berdiri paling belakang. Lalu setelahnya saat akan dimulai makan malam bersama, ia meminta izin pada ibunya untuk pergi ke belakang dengan alasan merasa tidak nyaman dengan perutnya. Ibunya sempat khawatir dan menawarkan untuk pulang saja, tapi Hazel menenangkan kekhawatiran ibunya dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Karena sebenarnya ia memang baik-baik saja, perutnya tidak kenapa-kenapa. Yang benar itu ia tidak nyaman berada diantara keluarga itu.
Ia memutuskan untuk berkeliling restaurant baru ayah sambungnya itu. Tanpa sadar kakinya sudah menapaki halaman belakang restaurant. Halaman itu sedikit gelap hanya ada cahaya penerangan dari dalam restaurant dari kaca jendela juga penerangan alam, bias cahaya bintang dan bulan. Ya, langit malam ini sangat cerah hingga bisa nampak jelas bulan dan bintang berkilauan di atas sana.
Hazel menengadahkan kepalanya menatap bintang-bintang itu, seraya berpikir jika ayahnya sudah tidak ada di dunia ini, apakah ia salah satu bintang itu? Konyol, itu hanya pemikiran anak kecil. Namun apakah benar ayahnya sudah tidak ada seperti kata ibunya?. Meskipun ibunya sangat membenci ayahnya karena dahulu dia meninggalkan anak dan istrinya tanpa penjelasan dan tiba-tiba mengirimkan surat perceraian satu bulan semenjak dia pergi dari rumah.
Saat itu, saat ayahnya meninggalkan dirinya bersama ibunya, Hazel masih kecil dan belum mengerti situasi macam apa itu. Yang ia tahu, ayahnya sangat lama tidak pulang ke rumah meski ia menunggu berbulan-bulan bahkan tahun. Ibunya hanya mengatakan bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali dan telang membuang ia dan ibunya. Tapi dalam lubuk hatinya, Hazel percaya bahwa ayahnya tidaklah seperti itu, karena ayahnya begitu menyayanginya juga ibunya. Jadi tidak mungkin ayahnya membuangnya. Bahkan saat ibunya memutuskan menikah dengan Luis Da Force, tersimpan rasa kecewa yang ia sembunyikan karena ibunya memutuskan untuk menikah lagi dan tidak menunggu ayahnya kembali. Tapi jika pun ibunya menunggu untuk apa? Karena ayahnya sudah memberikan surat perceraian padanya. Mungkin itu yang membuat ibunya memutuskan untuk tidak menunggunya kembali dan menikah dengan pria lain.
Hazel membentuk dua tangannya menjadi kepalan longgar, lalu menaruhnya di depan salah satu matanya, seolah membentuk sebuah teropong. Dulu ketika kecil, ia sering melakukan itu bersama ayahnya. Ia tersenyum mengingat itu.
Setelah beberapa saat, ia menurunkan tangannya. Lalau membalikkan badan hendak kembali ke dalam. Namun tidak sengaja matanya menangkap seorang pria di balmon lantai dua tengah mengarahkan pandangannya pada langit seraya tersenyum. Apa pria itu tengah mengamati bintang seperti dirinya tadi? Well ia sudah mengatakan bahwa malam ini cuaca sangat cerah hingga langit malam yang indah itu bisa terlihat jelas. Jadi siapapun yang menatapnya pasti akan takjub.
To be continued