Something About Ravello

1158 Kata
San Lorenzo Apartemen "Ahh" Lenguh kedua anak manusia itu saat mencapai pelepasan masing-masing. Fazio membaringkan tubuhnya di samping Candy, kekasihnya sejak 2 tahun lalu. Meski sebenarnya mereka saling mengenal dan dekat jauh lebih lama. Tepatnya, sejak mereka masih kecil. "Kau akan ke Dark Lion?" Candy menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya seraya menatap wajah tampan sang kekasih. "Tidak, aku harus ke Leonard Corp terlebih dahulu, ada meeting yang mengharuskan aku ikut serta di dalamnya" jawab Fazio seraya beranjak turun dari kasur lalu berjalan menuju kamar mandi. "Kau tidak mengajakku" Decak Candy dengan suara manjanya. Fazio berbalik dan terkekeh "kemarilah" ucapnya. Lalu dengan sumringah Candy turun dari kasur setengah berlari menyusul Fazio. **** Leonard Corp "Da Force mengajukan penawaran untuk membangun restaurant di sekitar wilayah resort kita di Amalfy" Antonio sebagai CEO Leonard Corp memulai percakapan. "Bagaimana menurut kalian" imbuhnya lagi. "Sepertinya tidak masalah, lagipula restaurant akan menambah daya tarik pengunjung" sahut salah satu dewan direksi. "Saya setuju tuan, apalagi resort kita jauh dari tempat makan" Nick yang merupakan asisten pribadi Fazio ikut menyahut. Lalu pandangan Antonio beralih pada Fazio "bagaimana menurutmu?" Fazio yang sejak tadi hanya menyandarkan punggungnya pada kursi seraya memainkan balpoint, menegakkan duduknya "kalau itu menguntungkan- kenapa tidak. Lagipula Da Force adalah keluarga teman kencanku, akan tidak enak jika menolaknya" "Kita kesampingkan tentang masalah pribadi, namun dari saran kalian yang menyetujui pengajuan Da Force, baiklah kita akan menerima mereka untuk membangun restaurant di wilayah resort kita" putus Antonio. Meeting ditutup dan tanpa tunggu lama Fazio keluar dari ruangan itu diikuti Nick. "Fazio" panggil seseorang dibelakangnya. Fazio berbalik, dan yang memanggilnya rupanya pamannya. "Tentang staycation di Pulau Jeju, apa kau sudah menghubungi pihak arsitektur?" "Aku masih menyusun rencana, paman" jawab Fazio seadanya. Karena tentang proyek di pulau iconic Korea Selatan itu masih baru rencana. "Baiklah kalau begitu, tapi segera kau pikirkan dan jangan terlalu sibuk mengurus bisnis gelap itu" pungkas Antonio seraya menepuk-nepuk pundak keponakannya itu sebelum beranjak pergi. Fazio menghela nafas "bawel seperti biasanya" ucapnya seraya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. "Bersabarlah" Nick ikut menepuk-nepuk pundak Fazio seraya berjalan mendahuluinya. Fazio menggerakkan giginya melihat tingkah kacung tidak diri itu. Nick yang memang asisten pribadinya sejak lahir yang sayangnya merangkap sebagai sahabat satu-satunya itu terkadang membuat tingkahnya pada Fazio yang notabenenya atasannya, bersikap seenaknya. Seperti sekarang contohnya. Rasanya hanya Nick kacung yang berani berjalan mendahului atasannya. Keterlaluan memang. Tapi Fazio tidak pernah marah padanya. Hanya kesal, dan itu wajar. **** Drrrtt Fazio yang baru akan membuka pintu mobil, mengurungkannya saat merasakan ponsel di saku jasnya bergetar. Nama bibinya yang tertera di sana saat Fazio melihat layar ponselnya. "Iya aunty" "Faz, bisakah aunty minta tolong jemput Naura di tempat lesnya?" Pinta Maurent di seberang sana. "Tentu, di mana ia?" "Nanti aunty kirim alamatnya " "Baiklah" Fazio memasuki mobilnya setelah Maurent menutup sambungan telepon dan mengirimkan pesan alamat tempat les Naura. "Kita langsung ke Dark Lion?" Tanya Nick yang sudah duduk manis di mobil lebih dulu. "Hmm, tapi sebelum itu kita terlebih dahulu menjemput adik sepupuku yang manis" jawab Fazio. "Rom, Fairy Ballet, Ravello" lanjut Fazio pada sang supir. "Baik tuan." **** Fairy Ballet, Ravello Fazio menatap sebentar gedung sanggar ballet yang menjadi tempat less adik sepupunya. Gedung dua lantai yang lumayan bagus. Lalu ia melangkahkan kakinya memasuki gedung itu diikuti Nick. Ya, kali ini kacungnya itu bersikap baik dengan tidak bersikap seenaknya seperti sebelumnya. "Mencari siapa tuan?" Seorang wanita paruh baya berkacamata menghampirinya. "Adik saya, Naura" Jawab Fazio seadanya. "Oh Naura, sebelumnya perkenalkan saya Mona pengelola sanggar ballet ini" wanita bernama Mona itu menyodorkan tangannya yang disambut hangat oleh Fazio. "Fazio, kakaknya Naura" Mona tersenyum "Naura dan teman-temannya masih melakukan latihan beberapa gerakan lagi, mungkin sekitar lima belas menit lagi. Tuan bisa menunggu disini" Mona menunjuk tempat duduk yang memang dikhususkan untuk para orang tua atau tamu yang hendak menjemput murid-murid ballet sanggar itu. "Atau, jika tuan ingin menunggu sambil melihat kegiatan latihan, tuan bisa menunggu di bangku penonton. Karena kebetulan sebentar lagi akan ada acara pentas seni jadi anak-anak berlatih di panggung mulai hari ini kedepan" terang sang pengelola sanggar. Fazio mengangguk "baiklah, saya akan menonton di sana" "Kalau begitu mari ikut saya" ucap Mona ramah seraya menunjukkan jalan menuju bangku penonton. Fazio dan Nick mendudukkan diri di bangku penonton itu. Dan benar adik sepupunya tengah menari bersama teman-temannya mengikuti arahan pelatih- tunggu, gadis yang melatih itu, rasanya ia tampak tidak asing. "Nyonya" panggil Fazio pada Mona. Mona lantas menoleh "ya tuan?" "Gadis yang menjadi pelatih itu?" Fazio sedikit mengerutkan keningnya. "Hazel, ia salah satu penari ballet terbaik di sanggar kami. Ia terkenal dengan tarian swan lake yang paling indah di kota ini" ucap Mona menjelaskan"apa anda mengenalnya tuan?" Fazio menoleh dan tersenyum tipis lalu kembali mengalihkan tatapannya ke depan "tidak, hanya merasa pernah melihatnya saja" Di atas panggung para penari itu berkumpul saling menumpukkan tangan lalu bersorak. Sepertinya latihan hari ini sudah selesai. Fazio tak melepaskan tatapannya dari gadis berambut indah itu. Ia tampak tengah berbincang seraya tertawa kecil bersama salah satu muridnya sebelum pergi meninggalkan area panggung. "Nick, bisa mau antarkan Naura?" Ucapnya seraya mulai beranjak. Nick mengerutkan kening "kau akan kemana memangnya" "Aku ada urusan" jawabnya yang kini sudah berjalan cepat meninggalkan bangku penonton. Sementara Nick hanya menggeleng melihat tingkah bosnya itu. **** Fazio berdiri bersandar di dinding dekat pintu belakang gedung sanggar itu seraya menyesap rokoknya. Lalu matanya teralihkan pada gadis yang ia tunggu yang kini tengah berjalan keluar. Ia sudah berganti pakaian, tidak lagi mengenakan pakaian tari. Tentu saja. Ia kini memakai dress bunga-bunga dipadukan dengan sepatu boot. Tas slempang rajut tersampir manis di pundaknya. Dan rambutnya tidak lagi di kucir seperti tadi, tapi digerai hingga semakin terlihat keindahannya. Gadis itu berjalan memasuki jalan kecil, bukan menuju kendaraan atau jalan raya seperti dugaan Fazio. Entah akan ke mana gadis itu pergi. Fazio mengikutinya dengan tetap menjaga jarak. Setelah berjalan cukup jauh, rupanya gadis itu menuju pasar pinggir jalan yang menjual berbagai macam barang. Mulai dari topi-topi, sepatu, barang-barang antik, pernak-pernik, buku dan masih banyak lagi. Saat gadis itu tengah sibuk memilih buku, sesuatu terjatuh dari tasnya saat ia mengambil dompet untuk membayar bukunya. Dan dia tidak menyadarinya. Fazio baru saja akan mengambilnya sebelum sebuah tangan lebih dulu mengambil barang itu dengan wajah berbinar seperti baru saja menemukan sebongkah emas. "Bisa kau berikan barang itu?" Pinta Fazio. Orang itu menoleh "tentu saja tidak, aku lebih dulu menemukannya dan ini barang bagus, akan mahal jika dijual" Fazio meronggoh dompetnya lalu meraih tangan pria tambun itu dan meletakkan uangnya di telapak tangannya "Apakah ini cukup?" Mata pria tambun itu lebih berbinar lagi melihat segepok uang di tangannya "sangat cukup tuan! Ini ambilah jepit rambut ini kau memilikinya sekarang" pria itu menjejalkan jepit rambut gadis itu. Kemudian Fazio melanjutkan langkahnya seraya mengedarkan pandangannya mencari gadis ballet itu. Tapi ia tidak menemukannya. Hingga di ujung pasar, Fazio melihat gadis itu berdiri seraya mengorek-ngorek tas nya dengan raut panik. Fazio segera menghampirinya "kau mencari ini nona?" Maluma As Fazio Leonard Elle Fanning As Hazel Da Force To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN