Something About Phone

1125 Kata
"Mencari ini nona?" Hazel menoleh pada suara yang tiba-tiba menyeruak. Untuk sesaat ia dibuat tertegun dengan pria dihadapannya kini. Paras begitu tampan dengan pesona yang begitu kuat. Sampai Hazel berpikir apakah ada pria yang setampan ini? Tapi ia segera mengerjap dan menormalkan ekspresi wajahnya. Ia tidak ingin pria dihafal ini mengira ia begitu terpesona padanya, meskipun iya. "Oh ya, terima kasih tuan" Hazel langsung mengambil jepit rambut dari tangan Fazio. "Oh tuhan aku hampir saja kehilangannya" lanjutnya bergumam serama menggenggam erat jepit rambut itu dengan mata memejam. Fazio memperhatikannya lekat dengan tersenyum kecil. Hazel kembali membuka matanya "sekali lagi terima kasih tuan, ini sangat berharga bagiku" "Kalau begitu simpan baik-baik" "Ya, aku akan lebih menjaganya" Lalu Hazel melirikkan matanya pada pria itu yang kini menyodorkan tangannya "Fazio" ucapnya. Hazel mengulurkan tangan menjabat tangan Fazio "Hazel" Untuk beberapa saat mereka saling menatap dalam diam sebelum anak kecil yang tengah dikejar ibunya sedikit menabrak Hazel. Namun untungnya ia mempunyai kemampuan menyeimbangkan tubuhnya dengan baik hingga ia tidak perlu malu dengan drama terjatuh lalu ditangkap oleh pria di depannya. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Fazio setelah tadi Hazel tertabrak anak kecil itu. Dan Hazel mengangguk sebagai balasan. "Mau pulang bersama? Ini sudah cukup larut tidak baik jika pulang sendiri" tawar Fazio kemudian. Hazel mengangkat sebelah alisnya "lalu pulang dengan orang yang baru aku kenal itu lebih baik?" Fazio terkekeh dengan jawaban gadis di depannya. Ia terlalu blak blakan. Tidak seperti gadis-gadis lain yang akan kegirangan ketika ia ajak pulang bersama seperti ini. "Lagipula, aku tidak pulang sendiri, aku bersama temanku" lanjutnya lagi bersamaan dengan suara teriakan di sebrang jalan. "Hazel, ayo" Seorang gadis melambaikan tangannya dari dalam mobil. Keduanya menoleh pada arah gadis yang berteriak itu sebelum kembali saling menatap kembali. "Baiklah, terima kasih sekali lagi. Permisi" Fazio menatap gadis itu yang kini tengah berjalan menuju mobi temanya. Gadis itu terus berjalan hingga memasuki mobil itu tanpa menoleh lagi kepadanya. Dugaannya lagi-lagi meleset. **** "Jadi siapa pria itu?" Bianca, sahabatnya mengerling menggoda. "Hanya pria asing" jawab Hazel seadanya. "Benarkah hanya pria asing?" goda Bianca lagi membuat Hazel mendelik. "Sungguh, ia hanya mengembalikan jepit rambutku yang terjatuh tadi" Hazel mengacungkan jepit rambutnya menunjukan. Mata Bianca menyipit "itu yang terselip di jepit rambut mu kerya apa?" Hazel ikut melarikan matanya pada jepit rambut itu. Dan benar saja, ada secarik kertas kecil yang dijepit oleh jepit rambutnya. Tadi ia tidak melihat kertas itu karena terlalu panik dan terlalu senang mendapatkan jepit rambut itu kembali. Hazel mengambil kertas itu dan saat ia membukanya, di sana tertera sebuah— nomor handphone. Hazel mengernyit, nomor handphone siapa ini? Apa– "Ekhem" Bianca berdehem sedata menyenggol lengan Hazel. Membuat Hazel lagi-lagi mendelik kesal. "Pria asing itu rupanya meninggalkan nomor teleponnya agar kalian tidak menjadi asing lagi" lanjutnya seraya tergelak sebelum menjalan mobilnya. Meskipun beberapa kali ia mendelik kesal pada godaan sahabatnya, namun tak ayal ia mengulum bibirnya menahan senyum. Apakah pria tampan itu tertarikbl padanya sampai meninggalkan nomor teleponnya?. Oh tentu saja, ia cantik, manis, berbakat. Setidaknya itu yang selalu dikatakan Ben, teman yang kerap menjadi pasangan tarinya. **** Da Force Mansion "Bye, terima kasih sudah mengantar pulang" Hazel melambaikan tangannya pada Bianca yang kini sudah meninggalkan pekarangan mansion itu. Temannya itu memang yang terbaik, setelah pulang dari membantu orangtuanya berjualan di kedai, Bianca selalu menjemputnya ke sanggar untuk pulang bersama. Ia sungguh beruntung punya sahabat sebaik gadis itu. Hazel membalikkan badan untuk memasuki mansion. Dan kejutannya, saat tepat melangkah melewati pintu utama. Grandma Merlina bersama anak-anak dan menantunya juga cucu-cucunya tengah berkumpul di ruang keluarga dengan tatapan mengarah pada Hazel. "Malam semua" sapa Hazel, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya. "Anak itu harus diperingati agar tidak selalu pulang malam" "Hazel hanya dari sanggar, ibu" Samar-samar Hazel mendengar ibunya dan nenek itu berdebat kecil. Tapi Hazel tidak mempedulikannya. Memang selalu seperti itu. "Hazel" panggil suara dibelakangnya. Hazel membalikkan badannya "kak Damian?" Damian adalah anak dari adik ayahnya. Sejak beberapa hari lalu ia tidak ada di rumah karena ikut ayahnya untuk perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan hari ini Hazel baru melihatnya lagi. Damian tersenyum lalu menghampiri adik sepupunya itu. "Kapan kak Damian tiba?" "Tadi sore, saat sampai rumah aku langsung mencarimu, tapi kau tidak ada" "Kakak kan tau aku selalu ke sanggar sepulang kuliah" "Ya aku melupakan itu" ucapnya terkekeh. "Boleh aku memelukmu? Aku merindukanmu" Hazel tertawa kecil "tentu saja, tapi oleh-oleh dulu" Hazel menadahkan tangannya di depan Damian. Damian kembali terkekeh seraya mengacak-acak rambut Hazel "kalau begitu tunggu sebentar" Damian membalikkan badan kembali ke kamarnya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan menenteng satu tote bag berukuran sedang. "Ini, oleh-olehmu tuan putri" Hazel terkekeh seraya mengambil tote bag itu dan langsung membukanya. "Apa ini— ya ampun kau kira aku anak kecil?" Hazel mencebikkan bibirnya saat melihat isi di dalam tote bag itu yang ternyata sebuah boneka Mariposa. "Tapi kau menyukainya, bukan?" "Hehe, iya" ucapnya menampilkan deretan giginya yang rapi. "Yasudah, sekarang la jut ke kamarmu, mandi lalu istirahat" Damian mencubit gemas pipi Hazel. "Kak Damian juga, istirahat, perjalan kakak jauh pasti melelahkan" Damian tersenyum mengangguk, lalu Hazel melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Sampai di kamar, ia tidak langsung menuju kamar mandi. Namun mendudukkan dirinya di pinggiran kasur lalu membuka tas rajutnya dan mengambil secarik kertas yang ditinggalkan pria asing itu. Hazel merebahkan dirinya dengan masih menatap nomor handphone di kertas itu. Di dalam kepalanya terus bertanya-tanya, apakah ia harus menghubungi nomor ini? Atau ia simpan dulu? Lalu kirimkan pesan 'hey ini aku gadis yang kau temui tadi'. Tidak-tidak ia tidak akan pernah melakukan itu. Hey, itu sangat memalukan. Prinsipnya sampai saat ini, tidak akan menghubungi laki-laki lebih dulu. Itu meruntuhkan harga dirinya. Tapi, apakah pria itu kini tengah menunggu ia menghubunginya? Atau menunggu ia mengirimkan pesan?. Harusnya dia tidak meninggalkan nomor telepon seperti itu. Harusnya ia meminta nomor teleponnya saja lalu menghubunginya terlebih dahulu. Huh, dasar pria aneh. "Fazio" "Fazio" "Faz–" Hazel terus menggumamkan nama pria itu sebelum teringat sesuatu. Ia lalu membuka laman Instragram di handphonenya untuk mencari tahu. Dan setelah ia cari-cari, tidak ada nama Fazio yang isinya foto-foto pria itu. Sekarang ia jadi berpikir apa pria yang tadi ditemuinya itu adalah arwah? Karena masa iya di zaman serba teknologi ini pria seperti dia tidak mempunyai aku i********:. Hazel jadi semakin penasaran sekarang, ingin sekali ia menekan nomor telepon itu lalu menghubunginya. Tapi tidak. Hazel terlalu gengsi untuk itu. Tapi, kalau ia tidak menghubunginya, pria itu tidak akan tahu nomor teleponnya. Ia juga tidak tahu apakah bisa bertemu pria itu lagi atau tidak. Jadi, ia memutuskan untuk menelponnya. Tenang saja, ia akan tetap menjadi kegengsiannya. Ia hanya akan menelpon lalu mematikannya lagi. Iya begitu. Hazel menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia meneka n tombol hijau, lalu memejamkan matanya. Dring pertama Dring ke-dua Dring ketiga Dring ke– "Hallo?" To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN