Something About Marco

1156 Kata
Fazio baru sampai di mansion ketika sudah hampir pagi. Tadi sebelum pulang ke mansion ia mampir ke club hanya untuk sekedar minum. Di sana ia juga mendapat pesan dari Jeremi tentang orang yang selama ini ia cari. Namun ia tidak berencana untuk ke markas sekarang. Ia perlu tidur. Selain karena mabuk, ia juga merasa cukup lelah meski hari ini tidak melakukan banyak hal. Di jam-jam ini mansion tampak sepi, hanya beberapa penjaga yang masih bangun. Ruangan juga sedikit gelap, hanya beberapa lampu yang dibiarkan menyala. Fazio melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Namun matanya menyipit saat melihat bayangan orang di ujung lorong yang memang terbuka dan mengarah langsung keluar. Fazio berjalan sedikit mendekat dan ia menghembuskan nafas kasar saat melihat sesuatu di depannya. Dua orang yang tengah berciuman panas.h "Sudah sejak kapan?" Tanya Fazio langsung tanpa embel-embel berdehem, pura-pura batuk atau apa pun. Dua orang yang tengah bertukar Saliva itu sontak memisahkan diri saat mendengar pertanyaannya. "Kak" "Faz" Dua orang itu menoleh ke arahnya dengan raut panik di wajah keduanya. "Sudah sejak kapan?" Tanyanya sekali lagi. "Satu tah–" "Sejak kecil!" Potong Nala cepat menyangkal ucapan Nick. Ya, dua orang yang tadi berciuman panas itu adalah Nick dan Nala, adik Fazio. Sebenarnya Fazio tidak heran, karena dirinya, Nala, Nick dan Candy tumbuh bersama di tempat yang sama sejak ia dan Nala pindah ke mansion kakeknya ini. Jadi wajar jika Nick dan Nala memiliki perasaan istimewa satu sama lain. Seperti dirinya dan Candy. Namun Fazio tidak yakin jika kakeknya akan merestui mereka. Karena Nick hanya anak dari seorang bawahan. "Ya, aku minta maaf jika lancang telah mencintai adikmu" aku Nick akhirnya menjawab pertanyaan Fazio sebelumnya. Fazio menghela nafas "aku tidak mempermasalahkannya, yang harus kalian khawatirkan itu bukan aku" terang Fazio secara tidak langsung mengingatkan tentang kakeknya. Setelah mengatakan itu, ia berbalik kembali melangkah menuju kamarnya. Fazio menyampirkan jasnya pada lengan sofa lalu mendudukkan dirinya di sana. Ia membuka ponselnya dan melihat foto yang dikirimkan Jeremi tadi. Tanpa sadar ia meremat kencang ponselnya. Rasa-rasanya ia ingin melemparkan ponselnya hingga hancur berkeping-keping. Lalu jarinya bergeser pada log panggilan, nomor asing yang tadi tiba-tiba menelponnya namun tidak bersuara. Fazio sedikit menyunggingkan senyumnya saat menerka siapa penelpon itu. Setelahnya ia meletakkan ponselnya di meja dan beranjak menuju kamar mandi. **** "Kak Faz boleh aku menumpang denganmu?" Naura, adik sepupunya tiba-tiba mengejarnya saat ia baru hendak memasuki mobil. "Naura ada supir, kau menumpang dengan Fazio artinya menyuruhnya mengantarmu ke sekolah, arah kantor dan sekolahmu berbeda" tegur Maurent yang ikut menyusul ke luar. "Tapi mom" Naura mencebikkan bibirnya dan menghentakkan kakinya. Fazio hanya tersenyum mengelus lembut kepala Naura. Ia memang sangat menyayangi adik sepupunya ini, sama seperti ia menyayangi Nala adik kandungnya. "Tidak apa aunty, ini masih pagi aku bisa mengantarnya dulu sekolah" "Tuh kan?" Naura sedikit mendelik pada ibunya. "Makasih" ucapnya memeluk manja lengan Fazio yang dibalas Fazio cubitan gemas di pipinya. "Kalau begitu kami berangkat" pamit Fazio kemudian menaiki mobil diikuti Naura. "Hati-hati" ucap Maurent melambaikan tangannya. "Naura berangkat dengan Fazio lagi?" Antonio yang baru akan berangkat juga menyeruak. Maurent menoleh "ya, dia memaksa ingin berangkat dengannya" "Anak itu memang selalu saja menempel pada kakak sepupunya itu" "Tidak ada yang namanya kakak sepupu! Hanya kakaknya. Aku yang membesarkan Fazio dan Nala, jadi mereka anak-anakku bukan keponakanku" tegas Maurent bersedekap d**a lalu beranjak memasuki rumah. Antonio hanya tersenyum. Ia cukup senang istrinya itu sangat menyayangi dua keponakanya, padahal Fazio dan Nala adalah keponakan dari pihaknya bukan pihak Maurent. Sementara itu, di dalam mobil yang dikendarai Fazio, Naura tampak asik dengan ponselnya seraya bersenandung. Fazio menoleh "Nau?" "Iya?" Naura ikut menoleh. "Kau tau Hazel?" Tanya Fazio kemudian. "Maksudnya nona Hazel pelatih ballet ku?" Fazio mengangguk mengiyakan "Kenapa memangnya dengan nona Hazel?" Naura memicingkan matanya menyelidik dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Fazio. Fazio terkekeh seraya mengacak-acak puncak kepala Naura "hanya bertanya saja" **** Fazio langsung menuju kantornya setelah mengantar Naura ke sekolahnya. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya menuju ruangannya, ponselnya berdering. Jeremy "Iya, ada apa?" "Salah satu anggota komplotan Agnor, berhasil ditangkap orang kita" Fazio menelan salivanya kasar "aku ke sana sekarang" ucapnya seraya memutuskan sambungan teleponnya. "Ke mana?" Sahut Nick yang kini berdiri di sampingnya. Fazio menoleh setelah memasukkan ponselnya pada saku jasnya "aku harus Dark Lion, kau bisa menghandle urusan disini kan?" "Baiklah, kau pergilah" ucap Nick kemudian setelah menghela nafas kasar. Selanjutnya Fazio melarikan kakinya menuju basement kembali. **** Dark Lion Brak "Di mana k*****t itu?" Dengan mata tajam memancarkan api kemarahan, Fazio memasuki markas Dark Lion. Tangannya mengepal kuat seolah ingin menghancur kepala orang itu saat itu juga. "Dia ada ruang eksekusi" sahut Jeremy. Kemudian tanpa kata lagi Fazio melangkah cepat memasuki ruangan yang ditunjuk. Bau tidak sedap langsung menyeruak sampai ke area luar saat ruangan itu dibuka. Campuran antara bau besi dan busuk yang menyengat. Seorang pria berambut gondrong tanpa baju dengan tubuh penuh luka hingga luka-luka dan darah itu menyamarkan tato di kulitnya. Ia terikat di sebuah kursi di tengah ruangan dikelilingi para anak buah Fazio. Fazio melangkah perlahan mendekat pada pria gondrong itu. Lalu mengangkat sebelah kakinya dan ditumpukkan pada paha pria itu. Raut wajah Fazio begitu santai tidak seperti saat ia baru memasuki markas. Dengan sikap tenangnya Fazio meraih bungkusan rokok dari saku jaketnya, mengambil satu batang, menyelipkan di bibir lalu menyalakan dan menyesapnya. "Di mana Markus?" Tanyanya dengan masih sama tenangnya. Pria itu menoleh menatap Fazio lalu tersenyum miring "kau tidak akan mendapatkan apa yang kau cari" ucapnya sarat akan nada remeh. Fazio terkekeh "oh ya?" Lalu dengan santainya ia memasukan rokok yang masih menyala itu pada lubang telinga pria itu hingga pria itu menggeram sakit. Fazio kemudian menurunkan kakinya yang tadi menginjak paha pria itu. Lalu ia berjalan kembali ke tempat semula. "Ku tanyakan sekali lagi, di mana Markus?" "Kau membunuhku pun takan ku beritahu di mana dia berada" desisnya tajam. Fazio tersenyum miring seraya mengambil kembali satu batang rokok "aku kagum kesetiaanmu" setelah mengatakan itu Fazio membalikkan badannya menuju pintu keluar. "Masukan dia ke kandang Beti" ucapnya lagi seraya menyesap rokoknya dan keluar dari ruangan pengap itu. Terdengar suara auman harimau dan teriakan seseorang sesaat setelah Fazio keluar dari ruangan itu. "Jadi siapa pria itu?" Tanya Fazio kemudian pada Kenzo, anggota Dark Lion yang bertugas di bagian pengamat. Seorang hacker dengan kemampuan luar biasa. Bahkan ia mampu menyabotase data-data semua orang. Karena itulah Fazio sangat mengandalkannya di kelompoknya. "Marco Van loui, seorang keturunan Belanda namun dibesarkan oleh Markus. Jadi tidak heran dia memilih tetap bungkam saat nyawanya terancam sekali pun demi melindungi kendaraan aya angkatnya" terang Kenzo. "Sepertinya dia juga tangah di tugaskan di kota ini, mereka memilih mengirim Marco melalui jalur air, karena itulah orang-orang kita menemukannya tidak jauh dari sekitar pelabuhan" timpal Jeremy. "Karena jalur air salah satu yang tidak akan terdeteksi, tidak seperti jalur darat ataupun udara" sahut Maikel. Fazio menumpukkan keduanya tangannya pada meja de ngan sorot mata yang begitu dingin "lacak seluruh area di sekitar pelabuhan, mungkin pria itu tidak datang sendiri" To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN