“Ngapa Na kok lesu?” Ana menengok dan mendapati kakak iparnya datang dengan botol s**u yang sudah kosong. Dia baru memberi si gendut s**u lagi. “Gakpapa, Mbak...” Ana terlihat lesu sekali. Bahkan menyuapkan nasi pun tak bertenaga. “Jujur deh, pasti ada apa-apa. Makan aja gak nafsu gitu. Kalo sakit ngomong lho...” Nasehat Dini dengan tangan cekatan mencuci botol bekas s**u. Setelah selesai mencuci, Dini mengelap tangannya dan mengambil posisi duduk di depan Ana. “Apa jangan-jangan karena Fernando?” “Hah?” Tangan Ana yang ingin menyuapkan sesuatu terhenti di udara. Mulutnya terbuka sedikit saking tidak percayanya kalau kakak iparnya ini tahu apa yang ada di pikirannya. Dini tersenyum sumringah melihat ekspresi Ana yang seperti itu. “Ketahuan banget sih...” Ana menghembuskan nafasnya.

