Geya sekali lagi melirik Dharma yang masih termenung di kursi kemudi bahkan setelah lima menit berlalu. Ujung bibirnya tertekuk ke bawah dengan samar, sementara matanya yang biasa memancar tajam kini tampak sayu. Bahkan orang asing pun bisa menebak jika kini Dharma sedang sedih. Oke, kali ini Geya tidak akan mengejeknya. Jika Geya berada dalam posisi Dharma, sudah pasti dirinya juga sedih. Well … siapa yang tidak sedih saat tidak dikenali ibunya sendiri? Terlebih lagi, ibunya mengira Dharma adalah Ahmad—orang yang paling ia benci. Untuk yang kesekian kalinya, Dharma membuang napas dengan kasar. “Ge, coba kamu lihat muka saya.” Kening Geya berkerut mendengar instruksi tak jelas itu secara tiba-tiba. Meski begitu, Geya tetap menurut. Menatap wajah Dharma dengan serius walaupun ia tak ta

