Pertanyaan Ana

1072 Kata
Mulut Ana hanya mengomel tak jelas. Ia sebal tapi juga puas dengan hasil kerja teman-temannya. Mata panda yang sempat bertandang di wajahnya kini telah hilang. Wajah Ana kembali segar bugar dan ketika ditambah mandi, sempurnalah penampilannya. Walau tadi malam adalah lembur yang menyakitkan, pagi ini ia harus tetap segar bugar demi melakukan dawuh bu nyai. Seusai sholat, Ana menemui Gus Fikri di parkiran. Gamis putih bergaris abu-abu begitu serasi dengan baju koko putih lelaki berahang kokoh itu. Ana tercengang. Pikirnya, pantas saja tadi Alipeh dan Reni tertawa setelah Ana memakai gamis tersebut. Beruntung expresi Gus Fikri biasa-biasa saja, tanpa “wow kamu cantik sekali” atau “Wah ... kok couple sih.”. “Sudah siap?” tanya Fikri. Ana mengangguk canggung. Kenapa aku agak kecewa karena Gus Fikri bersikap biasa-biasa aja ya?, batinnya. “Ayo berangkat!” Fikri tersenyum. Nggak-nggak-nggak. Aku kan sudah mencintai seseorang dan itu Panji. Nggak seharusnya aku malah berharap dilirik oleh putra kiaiku sendiri. Pokoknya aku harus bisa mempertahankan ikatan yang telah kuciptakan. Ya Allah, jagalah hatiku!. Ana memantapkan dirinya sendiri. Ban mobil meluncur cepat. Percikan air seketika mengambang, menyembur ke samping. Hujan tadi malam, membersihkan udara pagi ini. Mobil sedan berwarna putih itu, tak perlu memakai AC. Cukup jendela dibuka dan udara segar akan masuk. Pemandangan sawah yang tersiram cahaya mentari, terpantau dari jendela. Indah sekali. Pilar-pilar cahaya yang menembus sela-sela dedaunan terlihat menyejukkan. Dedaunan pohon angsana di pinggir jalan terlihat bercahaya akibat terpaan matahari. Suasana sunyi jalan di pagi hari membuat rileks. Jika saja bu nyai tidak menyuruh Ana untuk menggantikan dirinya membaca Al-Qur’an di sebuah pengajian, pasti dirinya sekarang sudah mendengkur dalam dekapan sarung. Sayangnya tidak ada satu pun yang berbicara. Baik Ana, Gus Fikri atau santri-santri abdi dalem sungkan untuk mengawali pembicaraan. Suasana canggung sempurna membalut mobil itu. Ana tak tahu apa yang sedang dipikirkan Gus Fikri sembari menyetir, ia memilih tak acuh dan melempar pandangannya ke luar. Itung-itung ya demi mengalihkan perhatiannya juga dari wajah tampan Gus Fikri juga. “Ehm ... kayaknya tadi malam kamu nglembur ya?” tanya Fikri. Ana refleks menatap Gus Fikri di depannya. “Tadi malam seperti biasa aku sempatkan ke masjid, eh malah liat kamu lagi di serambi sambil terkantuk-kantuk.” Pipi Ana memerah, malu. “Ndak usah grogi, An. Umi memilihmu pasti karena kamu bisa menjalankan titahnya dan aku juga yakin kamu bisa. Bismillah, An, kamu pasti bisa!” Sekelebat tatapan Gus Fikri dari kaca spion dalam, membekas di hati Ana. Tatapan itu mengusir sisa-sisa keraguan dalam jiwanya. Ia jadi ingat perkataan Umi tempo hari. “Tartilmu sangat indah. Bacaan tajwidmu juga pas. Saat ini kamu sudah sampai juz 27, maka Umi mau kamu menggantikan Umi membacakan satu juz di pengajian besok bersama Fikri.” “Dulu waktu Abah menyuruhku untuk mewakilinya di pengajian juga membuatku grogi. Tapi Abah pernah berkata ‘yakinlah! Bahwa Allah bersama di setiap napasmu’ dan itu berhasil. Pengajian pertamaku sukses.” Fikri bercerita riang. Bibir Ana mengembang, menyemburatkan senyum tipis nan halus. Gus Fikri berhasil mendapat posisi di hati gadis mungil nan manis itu, meski tak bisa menggantikan posisi Panji seutuhnya. Kesunyian masih menyelimuti mobil. Senyap. Hening. Angin yang sibuk hilir mudik di dalam mobil, menyelingi kesunyian. Berkali-kali Ana mencoba memulai pembicaraan, tetapi rasa segan dan enggan masih saja membungkam mulutnya. Para santri dalem pun ikutan diam. Sekali, dua kali mereka menyahut, itupun hanya jawaban pendek, setelah itu diam lagi. Aneh. Walau beberapa santri dalem ikut, bukan mereka yang menyetir. Tadi sebelum berangkat salah seorang di antara santri dalem hendak menyetir, namun dicegah oleh Gus Fikri. Parahnya mereka pun tak mau menghidupkan suasana. Ana yang baru pertama kali menaiki kendaraan pribadi gurunya ini, rikuh setengah mati. Maka dari itu, sepanjang perjalanan Ana kebanyakan diam. Matanya hanya menatap jalanan yang lengang sementara mulutnya sibuk mengulang hafalannya. Sebenarnya jauh dalam hatinya, Ana ingin mengenal lebih jauh tentang Gus Fikri. Baginya beliau pemuda yang unik. Bagaimana tidak? Ia bisa menjaga sikapnya. Di luar jutek, tapi di dalam halus, penuh dengan kasih sayang. Ayolah, An! Tanya ke dia, kan nggak ada salahnya. Ana memotivasi dirinya sendiri. Ia ingin mengenal Gus Fikri. Kesempatan seperti inilah saatnya, tapi apakah ia berani? Gagal. Ana menghujat dirinya sendiri yang bahkan sudah membuka mulut tapi urung berkata. Padahal ia dulu dan Panji tak sesulit ini memulai hubungan. Tunggu-tunggu! Apa? Tidak. Ana tak ingin mengawali hubungan dengan Gus Fikri. Maka dari itu Ana pun diam, sediam ia dengan hafalan di hatinya. Namun di tengah hafalan ia baru ingat tentang kata Gus Fikri beberapa hari lalu. Ana masih ingat jelas ketika dia dan dirinya berduan di lorong pesantren. Gus Fikri bilang ‘Saya suka kamu’. Dan itu cukup untuk mendirikan gerbang pertanyaan di otak Ana. Kalau saja ia tak terlalu sibuk untuk menyetor hafalan, ia pasti akan terngiang-ngiang terus. Ana menyapu pandang. Santri-santri dalem tengah terkantuk-kantuk. Bahkan yang di samping Gus Fikri telah tertidur nyenyak. Ana mengumpulkan tenaga. Ia menarik napas hendak berbicara. Tapi ketika ia hendak melepas unek-uneknya, tiba-tiba Gus Fikri berkata. “Aku suka kamu yang punya wawasan luas tentang ajaran Jawa. Aku juga suka suaramu saat mengaji. Jadi kamu nggak usah grogi nanti, ya. Dari sekian santri yang mengaji, aku paling suka suaramu.” Ana sempurna terbungkam. Apa yang ia sangka ternyata salah. Gus Fikri bukan menyukasi dirinya tapi ia suka akan wawasan Ana. Tapi tunggu dulu. Ada yang aneh. Loh bagaimana Gus Fikri tahu apa yang aku pikirin? heran Ana. Bukannya rasa penasaran Ana berkurang, malah kini kian bertambah seperti halnya rumput di sawah, dicabut satu, menumbuhkan yang lainnya. Sekarang di otak Ana hanya beredar informasi tak jelas. Logikanya sedikit ngawur, tapi masuk akal. Tadi Gus Fikri berkata kalau ‘dari sekian santri yang mengaji, aku paling suka suaramu.’ itu berarti selama ini dia mengawasi Ana. Benarkah begitu? Entah mengapa setelah Gus Fikri berkata demikian, udara di dalam mobil mendadak sesak. Ana hendak bertanya lagi. Sayangnya para santri dalem yang bersamanya sudah bangun. “Nah, kita sudah mau sampai!” ucap Gus Fikri bersemangat. “Siap kan An?” tambahnya. Ana spontan mengangguk. Ia buru-buru membuang semua prasangkanya. Semua itu tak penting lagi. Sama halnya gambar yang dilukis di atas air. Ana yakin semua itu pasti hanya angan-angannya saja. Tak ada yang spesial. Tak ada juga rasa dari Gus Fikri ke padanya. Mungkin hati Ana tengah kesepian, jadi dia beranggapan yang tidak-tidak. Yang penting sekarang adalah, bagaimana ia menunjukan bahwa pengganti Bu Nyai Murtadlo bukan santri yang main-main. Amanah yang di pundaknya harus dijalankan dengan benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN