Kencan Ana dengan Fikri

1847 Kata
Malam menggelayut. Tirai hitamnya menutupi cakrawala. Deru angin malam sedikit kencang, mengibaskan perasaan yang tak kunjung sampai. Terlebih listrik padam. Sesekali kilat petir menyalak, membuat kegelapan hilang. Namun keadaan yang sungguh tak mendukung kegiatan belajar-mengajar itu, tak berpengaruh sama sekali. Santri-santri dengan sigap, tetap mengaji. Berpuluh-puluh lilin dan damar segera menemani malam kelam mereka. Bagi para penghafal Al-Qur’an di pondok ini, tidak ada bedanya antara listrik padam maupun nyala. Mereka sama-sama setoran hafalan di tempatnya masing-masing. Terlebih bagi yang sudah hafalan di ruang tengah dalem. Cahaya remang yang menenteramkan selalu menemani setiap ayat mereka. Tradisional dan klasik memang, tapi akan selalu terkenang. Damar yang bersinar itu ibarat hati para penghafal Al-Qur’an yang semakin terang dengan hafalannya, sedang asap yang keluar seperti halnya iman mereka yang melambung tinggi menuju Sang Khalik. Yang Ana suka dari ruang dalem itu, damar-damar itu bersandar di lima saka rumah, yang tak lain mencerminkan lima rukun Islam. Entah disengaja atau tidak, tapi dalem ini merupakan bukti kalau ajaran Jawa dan Islam tak saling bertentangan. Seperti biasa, santriwati mengantre rapi. Bertahap-tahap ruang sunyi itu diisi oleh dawaian ayat suci. Tidak ada satupun yang bercanda, mereka semua sibuk dengan hafalan masing-masing. Membuat suasana semakin syahdu oleh dendangan ayat suci. Kadang kalau sedang kelelahan, mereka akan tertidur dalam diam, namun waktu tubuhnya bergerak ke bawah, mereka langsung bangun dan mengambil wudu kembali. Kini cahaya putih lampu berganti cahaya temaram. Mati listrik tidak membuat kesan pesantren seram, malah membuat wajahnya kian tentram. Indah. Corak Jawa yang memang sejak awal telah menyelimuti pesantren kini terlihat lebih bermakna. Cahaya temaram dan ukiran Jawa membuat pondok kian menakjubkan. Hentak-serentak, santri-santri yang masih tahap awal, membaca Al-Qur’an bersama-sama. Suara mereka beradu-adu, saling keras-mengeraskan. Mereka percaya bahwa dengan suara keras, lantang, dan maksimal, mereka akan cepat hafal. Malam itu, satu damar menjadi pelita untuk lima santriwati dengan satu guru. Malam itu, dalam bungkus cahaya remang, pembelajaran berjalan seperti semestinya. Hanya saja setelah isa’, kegiatan yang biasanya diisi dengan pengajian tafsir, diganti dengan sholawatan burdah. Santriwan-santriwati menjadi satu, mereka hanya dipisahkan tembok. Dipimpin langsung oleh grup hadroh pondok, syair sholawat burdah pun menggema syahdu. Meski tanpa pengeras suara, lengkingan suara para vokalis mampu mengomando jalannya sholawatan. “An! Kamu dipanggil Gus Fikri tuh,” kata Alipeh setengah berteriak. “Eleh, tipuanmu nggak mempan tahu ...” selidik Ana. “Mana mungkin sih, Ana dipanggil putra dari Kiai pondok kita. Dia kan jutek, nggak mungkin kenal sama Gus Fikri yang sama-sama jutek,” tanggap Reni. Ana memincingkan matanya, mulutnya manyun ke samping. Sebal. “Mau percaya silahkan, nggak silahkan, bukan urusanku,” pungkas Alipeh. “Yakin kamu Peh?” tanya Ana, memastikan. “Yakin lah. Tadi aku ketemu beliau di lorong masjid. Dia sedang mencari santriwati yang bisa mijit, lah aku usulkan namamu. Langsung di-ACC. Ayo cepat-cepat! Ndak baik loh membiarkan putra guru kita menunggu.” “Aku disuruh mijit Gus Fikri? Iih ogah, bukan mahrom.” “Hush ngaco! Jangan su’udzon dulu, An. Beliau pasti paham mati hal begituan lah,” tandas Reni. Maka berangkatlah Ana memenui Gus Fikri di lorong masjid. Dinginnya angin malam membuat Ana menyilangkan tangannya, berusaha agar tubuhnya tetap hangat. Damar yang dipajang di sepanjang lorong, menyinari wajah putih mulusnya. Cantik sekali. Gaun putih yang dikenakannya sangatlah anggun. Tubuhnya yang mungil, snagatlah elok dipandang. Ana terkesan seperti masih berumur tujuh belas. Umur yang masih belia tapi sebenarnya dia sudahlah berumur dua puluh tiga tahun. Kecantikan itu tak hanya terekspose dari wajahnya, hatinya pun. Berulang kali ia beistighfar demi menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang Gus Fikri. Mata Ana mengerjap. Hampir saja wajah ganteng berhidung mancung itu terpatri dalam benaknya. Buru-buru ia menundukan pandangannya sementara langkahnya terus bergerak menuju Gus Fikri yang sedang memandangi lukisan menthok. “Maaf mengganggu. Umi sedang masuk angin, biasanya Mba Ningrum yang mijit, tapi katanya sedang pulang. Kamu bisa mijit Umi?” tutur Fikri, sopan dan halus. “Nggih Gus. Insya Allah.” Reni kali ini benar. Prasangka buruk terlalu cepat meliputi hati Ana. Untuk pertama kalinya, Ana masuk ke dalem. Dia tak pernah mengira bahwa suatu saat ia bisa menjelajahi rumah ‘sakral’ ini. Perlahan ia menapakkan kakinya, takut membuat suara. Sejauh pandangan Ana, desain rumah kiainya memang unik. Dalem sang pendiri pondok ini, sarat akan filosofi Jawa. Dalem Kiai Murtadho, guru Ana ini, jauh dari kata mewah. Omah adat Jawa ini amat sederhana. Temboknya sekedar kayu ukiran. Tembok pembatas ruangan malah cuma berupa anyaman bambu. Penerangan rumah pun masih terbilang klasik, hanya menggunakan bohlam lampu bercahaya merah. Benar-benar rumah tradisional. Tangan Ana perlahan menyentuh saka rumah yang terbuat dari kayu. Saka rumah ini mirip sekali dengan saka masjid Demak tempo dulu. Saka unik yang berupa gelontongan kayu utuh dan dipernis halus. Sungguh rumah yang unik, membuat hawa tentram nan mendamaikan, menyerbak memanjakan setiap tamu yang berkunjung. Gus Fikri berbelok, masuk ke dalam kamar bu nyai. “Umi ... ini namanya Ana, insya Allah dia bisa mijit Mi,” ujar Fikri lembut. Bu Nyai memperbaiki posisi duduknya, beliau mencoba melihat sosok wanita yang berdiri di dekat Fikri. Segera Ana mendekat dan mulai memijat guru yang sangat dihormatinya itu. “Maaf merepotkan ya. Terima kasih sudah berkenan memijat, Umi,” kata bu nyai. Hati Ana berdecak kagum dengan sikap keluarga gurunya. Mereka sangat sopan santun meski itu pada muridnya sendiri. Kasih sayang yang tulus dalam kelembutan keluarga mereka, dapat Ana rasakan. Tapi justru semua itu menambah rasa ta’dim Ana terhadap gurunya. Rasa yang akan ia pegang agar guru di matanya selalu menjadi teladan bagi setiap langkah hidupnya kelak. Lengang. Sesekali desisan sakit bu nyai terdengar karena pijatan Ana. Sesekali juga bu nyai ringan hati menyeritakan kehidupan sederhananya dibalik kesibukan pesantren. Pekik tawa pun tak luput terdengar. Suasana yang tadinya canggung, mencair begitu saja. Meski bu nyai sangat rileks mengajak Ana bercerita, Ana tetap menjaga tindak-tunduknya. “Mijatnya berhenti dulu An, Aku mau dengar kamu membaca Al-Qur’an,” pinta bu nyai. Tak perlu disuruh dua kali, Ana menghentikan pijatannya. Ia pun duduk iftirosy di samping ranjang. Ana memperbaiki posisinya, begitu juga bu nyai. Perlahan ia mulai melantunkan hafalannya secara tartil. Suara Ana yang lembut menggantung di awang-awang, menyerbak memenuhi ruangan. Dalam kesempatan kali ini, Ana membaca surat Ar-Rahman, Bismillahirohmanirohim.... Ar-rahman.... ‘Allamal Quraan... Bu nyai mendengarkan dengan hikmat setiap ayat. Ketika kidung surat cinta Tuhan itu selesai, Fikri datang membawa dua gelas wedang jahe. “Bacaan yang indah,” pujinya. Ana tersipu. Kepalanya semakin tertunduk malu. “Semua ayat suci memang indah, Fik,” bu nyai menimpali. “Umi-Umi, suara Ana memang merdu. Oh ya ini, aku buatkan wedang jahe. Satu buat Umi dan satu buatku.” “Loh buat Ana mana?” “Mboten usah Bu. Saya langsung kembali ke pondok saja.” Bu nyai melotot, menyuruh Fikri untuk membuatkan wedang jahe satu gelas lagi. Fikri tiba-tiba tertawa, “Aku bercanda. Ini buat Umi dan ini buat Ana. Pasti kamu haus kan setelah memijat Umi, disuruh melantunkan Ar-Rahman pula.” Tangan Ana sedikit gemetar menerima gelas dari gus-nya. “Loh kenapa wajah Umi jadi cemberut. Ayo diminum sebelum dingin lho.” “Ah ... dasar anak Umi, tingkah lakunya tidak pernah berubah. Selalu menjadi biang kerok.” “Umi ... kalau hidup serius terus, nanti cepet tua. Lagian aku kan belum nikah, masa sudah tua duluan.” Rasanya sedikit aneh melihat Gus Fikri yang di luar sana sangat kalem dan pendiam, tapi di dalam sangat penyayang dan sedikit usil. Dua perangai yang hampir bertolak belakang. Sosok pria di depannya sangat tahu tentang sikap profesional. Astaghfirullah ..., desis Ana. Seketika ia menghentikan hatinya agar tak terjun terlalu dalam. “Ayo diminum, An!” “Nggih Gus. Saya minum di luar saja.” “Sebentar, An, Ibu ada sebuah permintaan.” “Kalau begitu, aku keluar dulu, Mi.” Fikri melangkah pergi. Gus Fikri tersenyum dan untuk pertama kalinya, Ana baru menyadari itu adalah senyum terindah yang pernah ia lihat. “Ayo naik!” kata bu nyai seraya menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Bu nyai menjelaskan tentang sesuatu. Air wajah yang tadinya ringan dan riang, mendadak menjadi serius. Sesekali beliau berhenti untuk meminum wedang jahenya. Entah kenapa, meski kamar ini bersuhu sekitar 25 derajat celcius, Ana seperti berada di kutub utara. Hangatnya selimut, tak mampu membuatnya kian hangat. “Kamu siap?” “Sendiko dawuh, Bu.” Ana tak yakin apa yang ia katakan. Kelabut malam seakan membisu, membiarkan kebingungan Ana meraja lela. Permintaan dari gurunya barusan tak mungkin ia tolak. Mau tidak mau, besok ia harus seharian bersama Gus Fikri. Dengan ditemani beberapa abdi dalem, mereka akan pergi seharian penuh. Entah apa yang akan terjadi besok, tapi tugas dari bu nyai itu membuat Ana cemas. Kata sendiko dawuh yang keluar dari mulut Ana, menjadikannya terjaga semalaman. Ia sibuk menyiapkan diri. Semburat warna putih yang mengambang di udara, senantiasa menemaninya. Secangkir kopi dan setangkai lilin, erat menjaganya. Ana yang terus-terusan mengulang hafalannya, malam itu terjaga. Tanpa ia sadari, malam itu juga ada yang tengah bersamanya. Bergadang membuat wajah Ana tampak lesu. Wajahnya cukup kontras dengan hamparan cakrawala. Kicau burung prenjak, mencoba memberinya semangat. Cahaya emas sang mentari, memandu tubuh Ana agar bergerak lincah. Kegugupan Ana untuk pergi bersama Gus Fikri membuat penampilannya bak mak lampir. “Ya ampun Ana!!! Kamu kok kucel banget sih ...,” cetus Alipeh. “Mukamu kok kusut, An, malah lebih kusut daripada kaos Alipeh,” Reni ikutan menanggapi. “Enak aja,” Alipeh mendadak protes. “Aku disuruh menggantikan Bu Nyai murotal Al-Qur’an bersama Gus Fikri,” ujar Ana tak berselera. “Apa?!” jerit Alipeh dan Reni bersamaan. “Kalau kamu mau ngedate sama Gus Fikri, tampilannya jangan gini dong. Ayo, aku dandanin!” Ana tak berkutik ketika lengannya ditarik Alipeh. Reni pun ikut-ikutan mendorong tubuh Ana dari belakang. Dua wanita gaje itu, siap mendadani temannya secantik mungkin. Mereka tak akan membiarkan kencan pertama Ana dan Gus Fikri menjadi hambar. Padahal secara hakikatnya, mereka tak pacaran. “Kalian ini ngapain sih?” protes Ana. “Udah diem aja!” bentak Alipeh. “Kamu ngedate jam berapa, An?” “Apanya yang ngedate, orang cuma berangkat pengajian doang.” “Tetep saja ngedate. Ciee ....” “Ciee yang sudah move on dari Panji,” bisik Reni. Ana mengerutkan alisnya, mendadak ia langsung melotot, menyuruh Reni tutup mulut. Belum juga Reni sadar akan tatapan itu, Alipeh telah mengoleskan lidah buaya di kelopak mata Ana. “Merem An!” perintahnya. Perlahan Alipeh memijat kelopak mata itu lalu bilang, “Jangan buka mata sampai 15 menit.” “Kenapa?” “Udah nurut aja!” Tangan Alipeh sibuk dengan muka Ana, sedangkan tangan Reni sibuk dengan baju-baju gadis manis berlesung pipi itu. Kamar yang berukuran 5x5 m2 yang dihuni oleh sepuluh orang, penuh dengan gerak-gerik tiga sahabat itu. Alipeh dan Reni bahu-membahu mendadani Ana senatural mungkin. Mereka sadar kalau cantik itu adalah apa adanya, mereka hanya perlu menaturalkannya lagi. Satu jam berlalu. Mentari kini telah mencapai sepenggalah, tanda bahwa waktu duha sudah tiba dengan sempurna. “Nah, sekarang kamu mandi habis itu wudu lalu sholat.” Alipeh menyilangkan tangannya. Wajahnya nampak puas melihat hasil jerih payahnya. “Setelah itu, baru pakai baju ini dan ....” “Selamat berkencan!!!” teriak Alipeh dan Reni semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN