Tamu Tak Terduga

1192 Kata
Gelombang suara tepuk tangan riuh terdengar. Akhirnya senam berakhir, menyisahkan peluh dan keringat di mana-mana. “Alhamdulilah, kelar ... sekarang beritahu!” Mata Reni mendelik ke arah Ana. “Woy, nggak usah ngegas, kalee,” Alipeh ngegas “Iya tuh, sabar dikit napa?!” Reni memasang wajah ketus. Diserang dua orang sekaligus, mana bisa dia menang. Akhirnya dia mengalah. “Iya-iya sory. Cepet dong beritahu! Penasaran nih.” “Yang mau kulakukan untukmu hanya satu. Cara menjadi tour guide yang bener,” Ana menjawab singkat. “Loh darimana kamu tahu aku mau jadi tour guide?” “Reni yang gaje, bukannya ketika pertama kali kita kenalan kamu selalu gembor-gemborkan impianmu itu ya?” “Eh, iya lupa.” Reni menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ayo ikut aku! Kamu mau ikutan nggak Peh?” Ana mengalihkan perhatiannya ke Alipeh. Alipeh tidak menjawab, melainkan langsung melangkahkan kakinya mengikuti Ana. Ana mengajak Reni serta Alipeh menuju sebuah TPA yang diampu oleh santri-santri pondok. Pondok mereka terbagi menjadi dua. Satu pondok khusus remaja dan dewasa, sedangkan satunya adalah pondok laju bagi anak-anak. Persyaratan untuk bisa berkontribusi dalam pengajaran anak-anak hanya lulus tes lima belas juz. “Aku maunya jawaban Ana, bukan malah jalan-jalan ke pondok anak-anak kaya gini,” sergah Reni. “Iya nih. Idemu aneh-aneh saja, An. Tahu kaya gini, mending aku mandi busa aja,” seringai Alipeh. “Hadeh, kalian terlalu buru-buru nyimpulin sih. Nih aku jelasin. Syarat menjadi tour guide adalah berwawasan luas ples sabar. Ngajar TPA kan butuh kesabaran, jadi ngajar di sini bisa melatih kesabaran Reni. Selain itu, ngajar TPA juga menambah ilmu bagaimana menghadapi anak-anak. Peserta wisata bukan hanya orang-orang tua saja kan?.” Reni mengangguk-ngangguk paham. “Terus apa gunanya aku di sini? Hellow, Ana aku nggak suka anak-anak ya, mereka jorok, kucel lagi,” timpal Alipeh. “Hellow, siapa yang nawarin kamu? Khatam lima belas juz juga belum. Kalau kamu mau jadi ustadzah TPA kamu harus sudah hafal 20 juz.” “Ok, aku akan coba. Sekarang aku mau daftar jadi ustadzah dulu, bye!” tukas Reni. “Reni, tolong kamu nyadar dulu ya!” “Kenapa?” “Kamu yakin mau daftar pake baju olahraga? Mana bau kecut pula.” Reni nyengir, salah tingkah. Akhirnya Ana bisa bernapas lega. Untuk sementara waktu ia tak perlu risau lagi dengan mulut Reni. Gadis mungil itu yakin kalau temannya itu akan sibuk sehingga ia tak akan punya waktu untuk membeberkan rahasia Ana. *** Exsistensi mentari mencapai puncaknya. Cahaya putihnya menyengat layaknya setrika panas yang mengenai kulit. Jam menunjukan pukul 11.45, saat yang tepat dan nyaman berada di kamar sembari tidur. Kendati demikian, Ana malah asyik membaca buku tentang kakawin Arjunawiwaha. Sesuai janji, Reni menyerahkan bukunya tepat ketika ia diterima masuk menjadi ustadzah di TPA. Kakawin Arjunawiwaha dikarang oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Airlangga. Tema pokoknya membahas mengenai kebahagiaan. Dikatakan di kakawin itu, manusia bisa bahagia dengan memahami tri hita wacana atau menjaga tiga hubungan baik kepada Allah, makhluk, dan alam. Dalam kakawin tersebut juga dibahas mengenai kesempurnaan hidup yang diselimuti cinta. Hal ini tidaklah mengagetkan karena kisah kesatria Arjuna memang sarat akan cinta. Tapi syarat mencapainya cukup membingungkan. Seseorang yang mau menyempurnakan hidupnya, harus memahami tentang konsep cipta-rasa-karsa atau bahasa lainnya yaitu logika-etika-estetika. Benar-benar membingungkan. Ana menimang-nimang kemungkinan lama membaca dan memahaminya. Buku yang dipegangnya sangat tebal. Butuh waktu lama untuk membacanya, terlebih dia harus hafalan pula. Tapi ngomong-ngomong soal kakawin ini, membuatnya ingat akan si petani. Ngomong-ngomong soal dia, Ana tahu tak semestinya dia mendekati pria lain, selagi cintanya dengan Panji masih terjalin, namun rasa penasaran membuat gadis itu kagok. Ia tak tahan lagi. “Kali ini takkan kubiarkan dia berpaling dariku. Hahahaha,” tekadnya. Ana melangkah menuju sawah pesantren. Di sana ia akan mengakhiri kisah dengan si petani misterius. Kelak setelah mendapat namanya, kata si petani akan ia buang jauh-jauh. Untung saja Ana telah menata sebuah rencana untuk membongkar identitas si petani. Seorang pemuda tampan berdiri di gerbang pondok. Apesnya gerbang itu satu-satunya jalan untuk ke sawah milik pesantren. Mau tak mau Ana harus melewatinya. Pelan namun pasti, Ana melangkah menuju gerbang itu. Pandangannya tertunduk. Tangannya memeluk erat Mushaf Utsmani. “Hey!” sapa pemuda itu. Ana mendongakkan kepalanya. Ketika menyadari siapa yang diajak bicara, ia pun kembali menundukkan kepala. Astghfirullah ... kenapa di saat seperti ini malah ketemu Gus Fikri sih, batinnya. “Eh maaf. Boleh aku tahu namamu?” Fikri mengulangi ucapannya, canggung. “Nama saya Ana.” “Mau ke mana?” “Ergh ....” Ana kikuk. “Mau hafalan, Gus,” jawab Ana sekenanya. Buru-buru ia mengubah haluan jalannya, menuju balkon tempat biasa ia hafalan. Hening. Hanya semilir angin yang berani bersuara. “Saya duluan nggeh Gus.” Fikri hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia ingin bicara dengan Ana lebih lama, tapi lagi-lagi rasa malunya terlalu menghalangi. Ia bahkan bisa merasakan aliran darah di pipinya sangat deras. Tanpa tangannya meraba pun, lelaki itu bisa tahu kalau pipinya memanas. Peluhnya mengalir. Untung saja dia tadi tidak menjadi gagu, kalau ia, pasti lelaki satu ini akan tambah malu ketika berhadapan dengan Ana. “Suatu saat, kita pasti akan punya waktu berdua,” bisik Fikri kepada angin. Sejenak Ana menoleh ke gus pondoknya. Sejujurnya ia masih bertanya-tanya tentang ucapan gus itu beberapa waktu yang lalu. Tapi ia terlalu malu bertanya. Ana juga tahu banyak mata tersembunyi di pondok ini. Apalagi ia tahu kalau santriwati pasti kini tengah bersembunyi di balik kaca hitam sembari mengawasi gus ganteng ini. Selain itu ada hal yang lebih penting. Si petani. Hanya pria itu satu-satunya orang yang Ana tuju sekarang. Semilir angin langsung membelai halus pipi Ana yang mulus. Jilbab putihnya berkibar megah. Sejauh mata memandang terhampar padi hijau yang indah. Sayangnya di sana sama sekali tak ada orang. Kosong, benar-benar kosong. Hanya ada semilir angin yang membawa gema azan nan syahdu. Sejauh mata memandang, Ana hanya melihat segerombolan burung putih yang terbang ke sana ke mari mencari makan. Ana menghela napas. Rencananya gagal. Mungkin bisa dipraktekan lain kali, jika si petani berkunjung lagi ke sawahnya. Mungkin lain waktu, jika si petani berkenan meneruskan perkejaannya yang hampir selesai. Daripada menunggu sesuatu yang tak kunjung benar, Ana pun tenggelam dalam muroja’ahnya. *** Fikri melepas kopiahnya. Ia sampirkan mahkota santrinya itu ke gantungan. Matanya mengedar, mencari sesuatu. Tak ditemukannya. Gus itu berbalik. Ia menuju ke halaman belakang. Matanya menunduk. Ia tahu kalau abahnya tengah membaca kitab di pendopo pribadinya. Tapi ketika telinganya menangkap ada pembicaraan orang lain, Fikri langsung menoleh. “Lah itu anaknya. Fikri, sini!” panggil romo kiai. Fikri merasa ada yang janggal. Ia tidak pernah mendengar suara abahnya serenyah ini, bahkan ketika beliau tengah bercanda dengan ummi pun tak pernah terdengar nada suara seperti ini. “Nggih Bah,” sahut Fikri. Ia duduk menjajari abahnya. “Kamu masih ingat dengan Kiai Fatah, kan?” Fikri mendongak. Mata putihnya yang tajam menjamah setiap larik dan lekuk pria paruh baya di depannya. Ketika gambar wajahnya utuh terekam, otak Fikri segera memproses ingatan mana yang bersemayam wajah itu di dalamnya. Lalu dalam hitungan detik, sebuah ingatan terlihat. “Bagaimana aku bisa lupa, Bah.” Nada suara Fikri melemah. Ia tahu akan di bawa kemana pembicaraan setelah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN