Ana menyeruput tehnya. Setelah salat subuh, ia dan temannya yang berada di daerah Banjarnegara, menyempatkan untuk saling menyimak hafalan. Keduanya tersenyum saat cahaya mentari pagi pertama menyentuh wajah mereka.
“Alhamdulillah,” ucap mereka bersamaan.
“Asik ya di rumahmu, Ra,” puji Ana sembari menatap ke luar. Terpampang jelas di matanya selimut kabut yang masih setia memeluk pesawahan. Udara di sini seperti halnya AC di toko-toko besar, begitu dingin tapi menyegarkan.
"Ah di sini mah asik bukan karena suasananya, tapi karena Panji, kan?" Rara menaik turunkan alisnya.
"Hei Rara yang jomblo dan nggak laku-laku, kalau iri bilang Jeng."
"Dih, ngapain iri sama kamu. Cintanya cuma setengah-setengah."
"Iiih cinta setengah-setengah? Sekarang kan baru permulaan. Lihat saja nanti. Lihat ya, kamu bakal iri sampai ke sumsum tulang belakang."
"Dah-dah. Halunya nanti dulu. Ayok sarapan. Tapi ingat ya bukan sarapan cinta sama Panji."
Ana menyeringai. Ia pun turun ke lantai bawah mengikuti langkah Rara. Hanya saja ia tak tahu kalau dalam waktu yang lain dan di tempat lain, sedang berjalan skenario yang sama sekali ia dan Panji tidak sangka.
***
Lantunan tarkhim terdengar. Gema syahdunya mengguncang kesunyian alam. Embun sempurna turun. Pembatas loteng kini sudah basah. Butiran embun yang menyelimutinya disapu oleh tangan Ana. Gadis itu menghirup udara dalam-dalam. Kenangan manis sekaligus pahit tentang Panji membuat dadanya kian berat, sesak oleh berbagai perasaan.
“Seperti itulah ceritanya Ren.” Ana membenarkan posisi duduknya.
Reni menyeka air matanya. Ia tak tahu kalau cerita sederhana itu akan menguras air matanya.
“Tapi kalian belum pernah menyatakan cinta?”
“Ren kamu tahu? Cinta itu tak hanya kata, tapi perlu tindakan nyata. Dan Panji telah membuktikannya. Dia rela melepasku agar aku bisa meraih mimpiku menjadi hafizah.”
Reni kini sadar, bahwa cerita cinta Ana lebih dramatis daripada FTV-FTV favoritnya. Dia pun mendekati Ana lalu memeluknya. Ia harap, dekap hangat yang bebalut cahaya rembulan, dapat memberikan sahabatnya itu sebuah ketenangan.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bisa move on, An,” cetusnya.
Ana menyeka air mata. Ia hirup udara dalam-dalam lalu berbalik menghadap Reni.
“Tapi sebelum kamu bantu aku move on, aku akan bantu kamu dulu,” cetus Ana.
“Bantu aku? Emang aku perlu dibantu apa?”
“Besok lah ... aku beritahu, sekarang aku sudah ngantuk. Bye-bye.” Ana melambaikan tangannya sambil terus berjalan.
“Ana, kasih tahu!”
Bukannya berhenti, si gadis mungil berlesung pipi itu malah menambah kecepatan jalannya.
***
Suasana pesantren semakin sunyi. Hanya derap langkah Ana yang terdengar. Rata-rata santri telah tertidur pulas dengan Al-Qur’an di sampingnya. Bahkan beberapa ada yang tertidur dalam keadaan duduk, naasnya mulut mereka terbuka. Melihatnya membuat Ana nyengir. Jika saja ia jahat, sudah disumpal tuh mulut pake sajadah.
Meski bulir air mata telah lenyap di pipi Ana, tapi mendung masih menyelimuti pikirannya. Ya ... Ana akui pertemuan dengan Reni sudah mengurangi beban pikirannya. Tetapi ingatan tentang telepon Panji tempo hari masih menghantui dirinya. Dalam hatinya, terbetik sebuah pertanyaan kenapa Panji hanya meminta maaf dan setelah itu memutuskan teleponnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan nada suara itu, apakah ia sedang syok?
Ana tahu jika berpikiran macam-macam akan merusak hafalannya. Apalagi sampai su’udzon, hafalannya benar-benar bisa kacau. Gurunya sering mengingatkan akan hal itu. Sendainya saja, ia bisa mengontrol agar hatinya senantiasa tenang, pasti semuanya akan terasa lebih indah.
“Ya muqollibal qulub, sabbit qolbi ‘ala diinik ....” lirihnya.
Ana melirik jam tangannya. Terpatri di sana jam dua belas lebih lima menit.
“Sudah jam segini, tanggung jika nggak sholat tahajud. Untung tadi aku sempet tidur, jadi persyaratan sholat tahajud udah lengkap.”
Tak pikir panjang, Ana langsung menyabet mukenanya kemudian menuju masjid. Matanya was-was, takut kalau Reni melihat ia tak jadi tidur. Biasanya santri-santri penghafal Al-Qur’an akan bangun tepat jam tiga, paling awal jam dua. Mereka memilih tidur lebih awal agar bangun di sepertiga malam. Mereka percaya menghafal di waktu itu akan lebih cepat daripada di pagi hari. Hal itu juga yang diajarkan di Kitab Ta’lim Muta’allim.
Langkah gadis mungil berlesung pipi itu terhenti di ambang gerbang masjid. Tatapannya terpaku pada seorang pria yang tengah menatap purnama. Bibir pria itu nampak bergerak terus-menerus, entah sedang mengeja apa. Rahang yang kokoh lengkap dengan muka lonjong, membentuk struktur wajah yang begitu indah. Rona biru yang dipancarkan rembulan membuat siluet hitam pria itu sangat mempesona.
Astaghfirullah .... Ana teringat niatnya kembali. Ia pun menggelengkan kepala lalu meneruskan langkah menuju masjid. Di bawah redupnya lampu, Ana melaksankan sholat. Entah mengapa, Ana merasa sholat tahajud itu lebih indah dari sholat sunah manapun. Kala ia takbirotul ihram, jiwanya bergetar, egonya luluh, pikirannya fokus pada Sang Kholiq.
Saat sholat tahajud itu usai, Ana termenung di atas sajadah. Mengadukan sisa-sisa bebannya. Mengadukan betapa sakit hatinya gara-gara cinta yang menggantung. Mengadukan betapa jiwanya rapuh karena ketidakpastian akan kabar belahan hatinya.
“Ya Allah, jika memang di setiap kejadian itu ada hikmahnya, tolong perlihatkan pada hamba Ya Rab .... Jangan biarkan keraguan hamba atas keadilan-Mu ini bertambah besar!”
***
Kehidupan Ana berjalan normal kembali. Cerianya telah berbinar terang mengalahkan mentari. Senyumnya merekah, menutupi luka yang semalam sempat terbuka. Ia menata niatnya kembali sembari meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Asalkan ia tunaikan janjinya untuk menjadi hafizah, cinta yang selama ini ia damba akan didapatkannya kembali.
Di hari yang cerah, pada Rabu pagi, pondok mengadakan senam bersama. Dentingan lagu ritmis menemani gerakan instruktur senam yang kemudian dicontoh oleh para peserta. Gelak tawa, celetuk kata-kata, kian menyemarakkan kegiatan ini. Wajar saja, tiada muka mendung ditemukan pada pagi ini.
“Pagi Ana ....” sapa Alipeh.
“Tumben kamu tepat waktu Peh, biasanya ngaret.”
“Tadinya sih mau gitu, tapi tuh sampingmu.”
Reni nyengir sembari melambaikan tangan, mendekat.
“Pagi-pagi dia datang dan menanyakan keberadaanmu. Udah aku bilang di lapangan, eh masih nggak percaya. Parahnya minta ditemenin pula. Emang nyebelin tuh orang. Heran aku kenapa dia nggak mati saja?”
“Wus ngawur, kita harus menghargai ciptaan Allah ini. Yah meski dia gaje sih.”
Reni berada tepat di samping Ana. Kerasnya suara lagu, membuat ia tak mendengar apa yang Ana dan Alipeh katakan barusan.
“Maaf Peh. Kamu jangan gentayangan gitu dong!” Reni mulai nimbrung.
“Gentayangan?” Alipeh cengo.
“Iya. Kamu kan penunggu kamar yang diganggu ketenangannya.”
Alipeh beralih menatap Ana. Seketika Ana mengangguk, seakan berisyarat agar ketawa. Ya hitung-hitung menghargai lelucon receh si Reni.
“Jadi ada perlu apa kamu mencariku?”
“Yang tadi malam kan belum selesai, ih,” Reni melotot.
“Oh yang itu. Nanti lah habis senam.”
“Oh nanti ya? Kamu nggak kasihan sama aku, hah? Lihat nih mata pandaku, untung aku nggak mati. Kalau mati gara-gara rasa penasaran ini, orang yang pertama kali kugentayangi sudah pasti kamu. Satu lagi, kamu kan belum kukasih tahu tentang Kakawin Arjunawiwaha? Kalau kamu nggak kasih tahu, aku juga nggak bakal kasih tahu.”
“Iya-iya. Tapi di sini terlalu brisik. Dah lah nanti aja. Aku janji. Ayok senam dulu, biar sehat.”
Alipeh dengan sejuta kepolosannya, tak mengerti apa yang dibicarakan dua temannya. Ia pun tak peduli dan mulai merenggangkan badan. Toh walau dijelaskan sekarang, dia nggak paham. Soalnya otaknya lebih mager daripada badannya