Langit yang sedikit mendung serta angin yang berembus dari arah bukit, tak cukup untuk menghentikan Panji. Lelaki dengan kulit cokelat itu tetap melangkah dalam kebisuan. Ia tak menengok Ana sedikit pun, meski gadis itu tengah meronta-ronta memohon maaf darinya. Panji tetap melangkah naik ke bukit.
Ana tak menyerah. Ia berusaha sekuat mungkin menyusul pemuda di depannya. Sayangnya jalan yang terbuka hanya sebahu saja. Tanjakan yang licin dan rimbunnya rumput di samping jalan, membuat gadis itu tak mungkin untuk bisa mendahului Panji. Terlebih ia salah kostum.
Nyesel aku pakai gamis, rutuknya pada dirinya sendiri.
“Gus, maafkan aku!” teriaknya lagi.
“Aku bukan Gus!” hardik Panji.
Ana terhenti. Ia terperangah melihat wajah penuh amarah Panji. Nampak sekali kalau emosi tengah bercampur padu di dirinya. Giginya saling bergemurutuk dan napasnya tak beraturan. Andai saja Ana bisa mendegar degup jantungnya, dia pasti akan kaget karena di sana begitu riuh.
“Aku tahu itu. Karena itulah aku di sini.” Ana terus berbicara. Ia tak peduli meski Panji tak menggubrisnya.
“Aku tahu kesedihanmu, aku tahu ketidakterimaanmu terhadap Tuhan, aku tahu kesepianmu, aku tahu itu.”
Ana berhenti sejenak. Berbicara penuh emosi serta sulitnya medan membuat ia terengah-engah. Sedang Panji malah memelankan langkahnya. Napasnya tak lagi sekacau tadi. Pemuda itu malah terlihat bergetar. Ia seperti menahan tangis. Beberapa kali Ana melihat, Panji mendongakkan kepalanya.
Meski demikian, Ana tetap melanjutkan perkatannya. “Karena itulah aku di sini. Aku ingin memikul beban kesedihan ini bersamamu. Mungkin kamu tak mau, tapi bukumu menuntunku ke sini.”
“Satu yang perlu kamu ketahui. Aku tak perlu kau kasihani!” Akhirnya sebuah kata keluar dari mulut Panji. Ia sekarang sempurna berhenti.
“Tak ada sedikit pun rasa kasihanku padamu. Aku malah kagum pengambilan sikapmu dan ketegaranmu di depan Romo Kyai.”
Panji terdiam. Dia pun melanjutkan perjalannya lagi. Tak berpikir panjang, Ana pun mengikutinya. Mereka berdua menelusuri jalan setapak menanjak. Kiri kanan mereka hanya berupa rumput kering dan beberapa bongkahan batu. Beberapa orang lalu-lalang membawa rumput dan hasil panen. Lokasi longsor itu tak sepenuhnya dibiarkan. Beberapa orang memang menanami palawija di sana, tapi itu pun jauh dari titik utama longsor.
Ketika Panji sampai di tanah merah yang lapang, dia bersimpuh. Kakinya seperti kehilangan kekuatan untuk menyangga badannya.
“Di sinilah orang tua dan adikku terkubur. Hingga kini jasad mereka belum ditemukan,” ujar Panji.
Ana jongkok. Ia mengelus tanah merah di depannya.
“Setiap hendak Ramadhan, aku selalu datang ke sini hanya untuk berziarah.”
Ana memandang Panji. Ia menatap pemuda itu penuh dengan arti.
“Kamu sendirian?”
“Ya, aku tak mau Abah dan Umi mengetahui kalau aku cengeng.”
Air bening di ujung kelopak mata Panji, tak dapat lagi dibendung. Air itu jatuh menimpa tanah di bawahnya. Buru-buru Panji menyekanya dan mulai merapal wirid. Meski samar, Ana masih bisa mendengar setiap isak di wirid itu. Ana pun turut larut dalam ziarah tanpa makam itu.
“Kamu pernah menonton film ‘Hafalan Sholat Delisa’?” Ana bertanya tepat setelah ziarah usai.
Hening. Tak ada jawaban apapun dari Panji.
“Kamu tahu jawaban Delisa ketika Abahnya membawa dia ke makam Kakak-kakaknya?”
Panji masih diam. Hatinya masih diselimuti kesedihan.
“Delisa berkata, ‘Berarti Kak Aisyah, Kak Zahra, dan Kak Fatimah tidak kesepian lagi ya. Mereka bersama Kak Nur dan yang lainnya.’ Itulah jawaban Delisa, Kang. Kadang kehidupan begitu sederhana, kita dapat belajar ketabahan dari seorang anak kecil.”
Panji menghirup napas dalam-dalam. Tatapannya lurus mengahadap sang cakrawala. Embusan angin sepoi-sepoi turut membantunya untuk menenangkan diri. Eloknya suara burung pun terdengar menyanyikan lagu penyemangat.
“Ayo, kita turun!” ajak Panji dengan senyuman di wajahnya.
Melihat senyuman semanis itu, Ana pun turut bahagia.
“Menangis di hadapan seorang gadis yang tak kukenal, aku sungguh memalukan.”
“Bagiku air mata bukan pertanda lemah, tapi tanda kalau hatimu itu halus,” terang Ana, “Oh ya, namaku Ana.”
“Hem, Ana sang bidadari ya ....” Panji mengelus dagunya.
“Bidadari?” Ana tersipu.
“Di daerah sini, bidadari itu sebutan lain untuk Kuntilanak.” Panji terkekeh.
Ana mendengus kesal.
“Dah lah. Sekarang mending tunjukin aku makanan yang enak di sini, wahai Gus Panji yang terhormat,” kata Ana setengah mengejek.
“Oh berani ya kamu dengan Gus,” sahut Panji sembari berkacak pinggang.
Mereka berdua tersenyum seiring angin sepoi yang menari bersama dedaunan kering. Langit mendung pun berangsur-angsur menghilang. Cahaya matahari senja malu-malu mengeluarkan cahayanya. Langit pun menjadi bersemu-semu seperti halnya pipi Ana sekarang. Andai saja Panji tidak berjalan di belakang Ana, ia pasti bisa melihat air muka Ana yang memerah malu.
Langkah keduanya terhenti sejenak. Ketika mata mereka melihat seorang kakek yang hendak memikul seikat kayu bakar kayu bakar. Kulitnya yang legam terbakar mentari. Tulang-tulang di tubuhnya sangat kentara. Tanpa basa-basi lagi Ana menawarkan bantuan.
“Mari sini, saya bantu Kek!”
Ana menengok Panji yang juga hendak mengambil alih kayu.
“Aduh ngrepotin. Kakek sendiri juga kuat kok.”
“Kakek kuat apalagi saya.”
Tanpa menunggu persetujuan, Panji langsung memikul kayu-kayu itu.
“Jangan. Pengantin baru tidak boleh mengangkat yang berat-berat.”
Mulut Ana tersenyum. Geli sekali mendengar ucapan kakek di depannya.
“Justru karena masih muda, Kek. Masih kuat-kuat.”
“Aduh duh. Saya doakan keluarga kalian sakinah mawadah wabarokah ya. Dikaruniai anak yang banyak.”
“Kek, kami bukan ....”
“Hahahaha, Kakek ada-ada saja.” Tawa Panji memotong perkataan Ana.
Ana pun diam. Dia menerka-nerka apa yang sebenarnya gus yang satu ini pikirkan.
***
Azan magrib berkumandang, tepat ketika Panji, Ana, dan si kakek sampai di bawah. Keringat sempurna menyelimuti tubuh Panji. Napasnya terengah-engah. Tepat ketika si kakek berterima kasih lalu pergi, Panji terduduk.
“Loh, katanya muda, katanya kuat,” ejek Ana.
Panji mendongak. Ia sorot wajah Ana dengan tatapan syahdunya. Entah mengapa Ana mematung. Matanya turut menjamah wajah Panji dari ujung ke ujung. Otaknya pun turut melukis dengan majas hiperbola lalu menyimpannya utuh ke dalam hati. Kemudian hati merespon ke jantung, membuat jantung Ana berdegup tidak beraturan.
“Makanya bantuin. Katanya istri baru. Kok suami capek nggak nawarin.”
Ana terbangun dari lamunannya. Telinganya sekali lagi dibuat geli mendengar ucapan ‘istri’. “Dih. Apaan. Siapa juga yang mau jadi istri Gus sepertimu.”
Ana pun pergi duluan. Diam-diam ia tersenyum.
“Eh, katanya mau makan!” teriak Panji.
“Nggak jadi. Sudah malam. Nanti kamu malah berubah jadi ganderuwo,” teriak Ana balik.
“Loh, mau ke mana?”
“Mau ke kuburan. Katanya aku ini bidadari.”
Panji terkekeh. Setelah sekian lama hatinya terasa hangat kembali.