Sebuah diary berhasil membunuh rasa suka cita di diri Ana. Ia yang bisa saja mengulang hafalan dengan temannya sembari menyeruput kopi, malah termenung di lantai dua masjid. Gadis mungil itu tengah menanti dan menanti.
Sudah dua minggu ini ia hanya duduk sembari menunggu kedatangan Panji untuk mengambil buku diarynya kembali. Tapi sampai nyamuk bosan menghisap darah Ana terus, Panji tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Ana mengembuskan napas. Lama-lama menunggu bisa membuatnya tua sebelum usianya. Bahkan gadis itu sudah melukiskan payung yang indah di halaman terakhir diary Panji. Hitung-hitung sebagai kenangan darinya. Mungkin Panji akan marah, tapi Ana tak peduli. Ia ingin payung menjadi perantara untuk Panji agar yakin dengan Tuhan lagi, terlebih dia adalah anak angkat seorang romo kiai yang tidak memiliki putra. Pasti dia akan diperlukan di masa depan kelak.
Sebenarnya bisa saja Ana menaruh diary ini di ruangan ini lalu berhusnuzan kalau ada yang menemukannya dan akan memberikannya ke Panji. Tapi Ana tak mau melakukannya. Ia ingin memberikannya secara langsung. Ia yang membawanya, maka ia juga yang harus mengembalikannya.
Selain itu, Ana bisa saja menunggu di pagi hari, tapi ia tak mau melanggar aturan. Kalau santri putra tidak boleh ke ruangan ini di malam hari, maka santri putri pun tidak boleh ke ruangan ini di pagi hari. Terlebih lagi, kini Ana tahu bahwa Panji adalah gus.
Akhirnya Ana menyerah. Tidak ada cara efektif untuk memberikan buku diary ini dengan aman. Kecuali ....
Hih kok aku bodo banget sih. Kenapa ide itu baru kepikiran sekarang. Ana geram pada dirinya sendiri.
Akhirnya penantiannya akan berakhir. Ia tahu cara efektif untuk memberikan buku diary ini. Walau kemungkinannya kecil, tapi cara ini paling aman daripada cara yang lain.
Malam berikutnya, Ana tak perlu menanti. Satu jam sebelum menyetorkan hafalannya, ia telah berada di dalem. Ana sengaja melakukannya. Pada awal waktu di mana santri-santri yang lain belum datang, Ana dapat meletakkan buku diary Panji di dalem tanpa ada yang curiga. Inilah cara paling aman dan efektif. Memulangkan buku diary di rumah pemiliknya memang tindakan yang benar.
Setelah yakin buku diary itu tak akan dijamah oleh orang lain selain romo kyai dan keluarganya, Ana mengulang kembali hafalannya. Hatinya kini damai, tak ada lagi beban mengenai buku diary Panji. Semua untaian kalimat yang ingin ia utarakan, telah tertulis di sana. Ia tahu buku diary itu bukan miliknya, tapi biarlah.
Waktu berlalu. Momen yang ditunggu-tunggu santri datang. Liburan telah tiba. Kekangan aturan dan padatnya jadwal akan hilang sudah. Masing-masing dari mereka langsung menyiapkan tas besar, membereskan setiap baju yang ingin mereka bawa pulang. Kamar yang tadinya hanya berisi kasur lantai, kini penuh berisi tas di mana-mana. Halaman pesantren yang biasanya hanya terisi oleh santri yang lalu-lalang, kini penuh kendaraan penjemput.
Orang tua silih berganti datang ke kamar. Mereka menemui putra-putri mereka. Tiada wajah sendu yang terlihat. Masa liburan pondok bagai masa masuk surga. Gambaran keindahan di rumah tampak sudah. Mereka akan berjumpa dengan kampung halaman yang penuh makanan, teman-teman masa kecil, dan televisi serta gawai. Sempurna sunggingan senyum tak pernah turun dari wajah mereka.
Sayang. Ketika waktunya Ana pulang, ia masih belum bisa bertemu dengan Panji untuk sekadar meminta maaf. Kini orang tuanya sudah datang. Sudah saatnya bagi Ana untuk kembali ke rumah. Hal terakhir yang ia lakukan sebelum pulang hanya sowan sembari berharap kali-kali Panji keluar, namun hal itu tidak terjadi.
“Mau minta maaf aja susah banget ya,” keluh Ana.
***
Harta itu sama sekali tak diharapkan untuk pulang kembali. Mungkin seperti itulah perasaannya. Ketika hati telah dibuang, untuk apa dibawa kembali? Satu minggu lagi menjelang ramadhan. Bulan di mana kehangatan keluarga akan dipertaruhkan, tapi untuk apa kehangatan itu jika pemicunya pun telah pergi. Mungkin ramadhan demi ramadhan yang akan datang, tak akan mempunyai makna lagi.
Kurang lebih seperti itulah yang Ana pikirkan ketika menjadi Panji. Ia kini berdiri menghadap bukit gundul bekas longsor. Liburan pesantren membuatnya bisa mengunjungi tempat tragis bagi Panji. Ana ingin membuktikan sendiri betapa menyakitkannya menjadi dia, sekaligus membuktikan apakah diary itu benar. Dan gadis mungil berlesung pipi itu pun di sini, sendirian. Kebetulan perjalanan pulang antara pondok ke rumahnya, pasti melalui daerah ini. Selain itu, salah satu teman pondoknya ada yang bertempat tinggal satu kecamatan dengan lokasi kejadian. Jadi Ana bisa beralasan menginap di rumah temannya.
Tanah yang tadinya berupa rumah warga, kini berubah menjadi hamparan tanaman liar. Dari jalan beraspal, Ana dapat melihat bukit yang telah gugur separuh. Sebelum ke sini, Ana sempat membaca berita-berita mengenai kejadian longsor di dusun ini. Telinganya banyak mendengar tentang kabar keluarga yang terkubur dan belum ditemukan, rumah yang sama sekali tak bersisa, dan harta benda yang tidak bisa diharapkan kembali. Mendengar itu semua, membuat bulu kuduk Ana berdiri.
Bukan. Bukan ia takut akan adanya setan yang tiba-tiba muncul, meronta meminta pertolongan. Gambaran mengenai apa yang terjadi itulah yang membuat Ana merinding. Lihatlah! Bekas longsoran itu, sekalipun tanah ini sekarang subur, tak ada yang berani menanami. Penduduk dusun yang selamat memilih untuk pergi dan membina kehidupan baru.
“Hei!” sapa seseorang setengah berteriak.
Ana sontak menoleh. Betapa kagetnya ia ketika melihat sosok pemuda di depannya.
“Mana bukuku? Kamu pasti tahu kan?” pemuda itu tak memberi ruang untuk Ana menjawab pertanyaannya.
“Bu ....”
“Oh ya, ngapain kamu di sini?”
“Gus Panji yang baik hati, gimana aku bisa jawab, kalau jenengan terus-terusan bertanya?” Ana menahan emosinya yang sedang memuncak.
“Dari mana kamu tahu kalau aku .... Atau jangan-jangan ....”
“Stop!” Ana tak mampu membendung rasa jengkelnya. “Biarkan aku menjelaskan semuanya,” lanjutnya.
Perlahan, dengan sangat hati-hati, Ana menjelaskan setiap kejadian. Ia takut kalau-kalau katanya ada yang menyinggung masa lalu pemuda di depannya.
“Berani sekali kamu membaca buku diary orang, hah! Dasar wanita tidak tahu sopan-santun!”
“Aku tahu aku salah! Tapi jangan memandang sebelah arah dong! Saat itu kamu melamparku dengan buku diarymu, orang yang digituin pasti menyimpan dendam lah.”
“Aku tak peduli. Sekarang mana bukuku, hah?”
“Aku tinggal di dalem romo kyai.”
Panji cengo. Ia kaget setengah mati. “Apa! Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika Abah dan Umi membacanya, hah?”
Ana ikut kaget. Dia tidak menimang-nimang kemungkinan itu.
“Kau ini memang sungguh menyebalkan.”
Tak tahan dengan amarahnya, Panji pun pergi. Meski ia takut kalau bukunya dibaca oleh Abah dan Umi, ia melanjutkan misi pertamanya datang ke sini.
“Gus, maafkan aku!”