"PLAAKK!!"
Diktat yang tebal itu memukul kepala Dhito dengan keras, yang memukul sepertinya tidak peduli kalau kepala Dhito bisa gegar otak.
"ANJ***!!!!!" teriak Dhito emosi sambil berdiri dan berbalik untuk melihat siapa yang memukul kepalanya. Gerakan Dhito membuat kursi yang dia duduki terjatuh. Hampir semua orang yang duduk disekitar mereka menoleh ke arah suara dan Arga melihat Tara dengan muka yang sangat merah menahan amarah dan tak kalah garangnya dengan Dhito.
"Tara..." suara Dhito langsung memelan ketika melihat orang yang memukulnya.
"Kita putus!!! Dan asal lo tau ya, jangan pernah bilang kalau kita pernah pacaran. Malu gue pernah jadian sama orang kaya lu!!!" tegasnya. Ketika dia berbalik untuk pergi Dhito menahannya.
"Tara denger dulu, kita pergi bareng.." tahan Dhito, dia bersiap melangkah pergi sambil memegang tangan Tara. Tara mengibaskan tangannya dengan kasar agar bisa lepas dari Dhito, lalu menamparnya dengan keras.
"Jangan pernah sentuh gue lagi dan jangan pernah berani ngubungin gue lagi!" Setelah berkata begitu Tara berbalik tapi dia seperti teringat sesuatu sehingga dia kembali menghadap Dhito.
"Asal lo tau, ciuman sama lo ga enak, muka gue penuh sama iler, ampe gue harus cuci muka berkali kali buat ngilangin bau jigong lo. Tolong, kalau mau nyombong harus sesuai fakta" kata Tara dengan muka sinis dan lalu pergi dengan teman temannya.
Skakmat.
Dhito terdiam mematung dengan muka merah, entah menahan malu atau marah atau mungkin dua-duanya. Lalu seperti tersadar dia langsung pergi mengejar Tara. Semua orang yang sedang makan kembali ke aktivitas mereka semula tapi tentu saja dengan topik obrolan yang baru saja terjadi sebelumnya, sehingga ruangan terdengar lebih gaduh.
"Beak euy si Dhito!" (Habis si Dhito) celetuk Kevin. Tapi tak seorangpun menanggapi. Erman mengembalikan kursi yang jatuh tadi dan Arga mengambil ranselnya, mengajak teman-temannya pergi. Arga berusaha untuk terlihat biasa tapi pikirannya tidak tenang. Masih terbayang ekspresi wajah Tara, terlihat marah, kecewa, sedih dan jijik semua dalam satu frame, tapi entah kenapa Tara menjadi terlihat lebih cantik. Jarang ada wanita yang langsung mengkonfrontasi pacarnya tentang topik ini. Mungkin kalau cowoknya selingkuh ya, tapi tidak pernah melihat wanita lain bersikap seperti Tara tadi. Terbersit rasa kagum dihati Arga. Ah, ingatkan dia untuk mencari tahu keadaan Tara nanti.
***
Tara menangis terguguk didalam mobilnya Gina. Gina mencuri-curi pandang melihat keadaan temannya yang duduk dikursi penumpang disebelahnya., Feby sibuk mengelus punggung Tara dari belakang dan Nurlis hanya bisa memandang prihatin dan geram terhadap Dhito. Bibir cowok itu belum pernah kena silet kayanya.
Sebenarnya mereka sudah duduk disana untuk beberapa saat, tapi karena keadaan kantin sedang penuh, mereka tidak sadar kalau mereka membelakangi Dhito. Yang. mereka sadari adalah kalau mereka duduk dekat dengan Arga dan teman-temannya. Iyalah, Gina dan Feby ngefans berat sama Arga.
Beberapa saat setelah duduk, terdengar omongan Dhito tentang tahap 2 dengannya. Tara sebenarnya sudah emosi, tapi Nurlis menahannya, karena nanti, orang-orang yang duduk dengan Dhito dan orang-orang yang mendengarnya akan tahu siapa yang namanya Tara, padahal mungkin sebelumnya tidak.
Tapi Tara tidak bisa menahan emosi lagi ketika Dhito bilang Tara akan bangga menjadi bekasnya Dhito.
CUIIIH.
Harga dirinya seketika memberontak. Dia tidak terima dengan perkataan Dhito.
Selama ini dia tidak berani memutuskan Dhito karena tidak tega. Padahal dia sudah menggunakan berbagai cara untuk putus dengan Dhito, dari mulai meminta Dhito untuk apel kerumah hanya seminggu sekali, atau ketemu dikampus kalau hanya untuk makan siang dan menolak untuk diantar jemput setiap hari, padahal mereka sekampus!
Kadang Tara sengaja bersikap menyebalkan tapi Dhito seakan kebal, sehingga Tara menyerah dan mulai menerima kehadiran Dhito. Tapi sekarang oooh... betapa memalukan! Tara bisa bisanya pernah pacaran dengan lelaki seperti itu sangat memalukan!
Tara menjerit kesal membuat kaget teman-temannya.
"Gue malu pernah pacaran sama orang b******k kaya Dhito!" jerit Tara ditengah isak tangisnya.
"Dari dulu gw mau mutusin dia, tapi ga tega muluk. Gue lemaaah, huaaaa" Tangisnya bertambah kencang.
Teman-temannya saling berpandangan dari spion mobil. Seketika mereka semua tertawa sehingga membuat Tara yang menangis jadi bengong dan menghentikan tangisnya.
"Kok..hiks pada ketawa? Hiks" tanya Tara keheranan.
"Ya ampun Tara, kita kira lo patah hati!" kata Nurlis, yang sukses membuat Tara ikut tertawa.
"Hah? Iiih amit amit. Rugi tau nangis gara gara Dhito. Gue nangis karena gue merasa bodoh dan lemah. Padahal udah beberapa kali pengen mutusin Dhito dan udah usaha buat diputusin, tapi ga bisa aja" kata Tara setelah tawa mereka selesai.
"Hah? Emang kamu pernah usaha buat diputusin Dhito? Kaya gimana coba?" Tanya Feby heran. Feby bingung, ternyata ada juga orang yang pengen diputusin. Karena dia sendiri ga mau mutusin orang, takut nyesel nanti pengen balikan lagi.
"Weits udah sering nih anak tengil usaha pengen diputusin. Pura pura jadi cewek matre sampe nonton sama cowok lain pas malam minggu. Eh, kalau itu mah emang ganjen soalnya nonton sama gebetan yang tak sampai" Gina yang menjawab sambil meleletkan lidah kepada Tara.
"Sial lu Nul" Tara melempar bekas tissuenya kearah Gina.
“Heh jorok, ambil lagi tissuenya. Enak aja nyampah di mobil gue,” tegur Gina. tara tidak membantah.
"Gimana - gimana?" tanya Feby penasaran, Tara punya gebetan tapi pacaran sama Dhito? Ah kepala Feby pusing. Maklum Feby baru pacaran sekali, dan sampai sekarang dia masih dengan pacar pertamanya itu.
"Nanti aja kita cerita biar puas. Nul, aku nginep dirumahmu ya. Kita beli daleman dulu sambil lewat, aku males pulang dulu kerumah, takut ditungguin Dhito." Tara malas untuk berserita banyak sekarang. Gina mengangguk. Apa sih yang ga buat sahabatnya ini.
"Alhamdulillah ya, cuman korban bibir," timpal Nurlis.
"Ish itu aja udah kebagusan," Tara langsung mengusap bibirnya dengan kasar sambil bergidik. Pait pait paiiiiiit!!!.
"Eh tapi beneran nanya nih, pas ciuman sama dia emang iler semua ya?" tanya Nurlis lagi, penasaran.
"Hampir separuh muka gw basah dong, mana dia bau gigi bolong pulak!!!" jawab Tara emosi. Semua bergelak tertawa.
Tara bersyukur punya teman - teman yang sanggup meredakan hatinya yang gelisah karena tingginya emosi yang dia rasakan tadi.
Sebenarnya yang ingin dia lakukan lebih dari memukul dan menampar Dhito. Tapi untuk apa itu semua, toh dia memang bodoh untuk jatuh kasihan terhadap Dhito.Satu yang membuat hatinya agak bergetar sedikit, ketika Arga membelanya. Tara tak pernah menyangka ternyata Arga tidak seperti apa yang dikatakan hampir kebanyakan orang. Ah, Arga beruntung Tara setia dengan gebetan tak sampainya. Mobil sedan jepang itu melaju ke arah mall terdekat, dengan para penumpang yang sudah mulai menunjukkan keceriaan mereka kembali berusaha melupakan kejadian tadi siang.