Sudah dari 2 hari yang lalu Arga mulai kuliah. Tadi pagi ada kuliah dan akan ada lagi jam 13.30. Arga pergi ke kantin dengan teman temannya untuk makan siang setelah shalat ke mesjid. Setelah dia selesai memilih dan membayar makanan, dia duduk di meja panjang yang disediakan kantin tersebut. Suasananya cukup ramai karena memang waktunya makan siang. Kantin ini memang terkenal dengan makanan yang enak dan murah meriah, aman dikantong untuk anak kost. Selagi baru menyuapkan sendok pertamanya ada yang menepuk bahunya, Arga menoleh dan ternyata itu adalah Dhito.
“Hei Dhit!” Sapa Arga lalu kembali ke makanannya.
“Makan Dhit!” Ajak Bayu teman Arga. Toni, Kevin dan Erman pun saling menyahuti mengajak makan siang.
“Iyah, udah makan, cuman tadi liat Arga, jadi masuk lagi kesini”
“Aya naon?(Ada apa) ” Tanya Arga.
“Hehehe Adi maneh geulis nya?”
Arga menelan makanannya dengan kasar.
“Terus?” Dia menatap Dhito yang sekarang duduk didepannya, garang. bisa kebeneran gitu sih pas kursi didepannya kosong, rutuk Arga.
Dhito terkekeh gugup, mencoba berpura pura santai melihat sikap Arga yang tiba tiba bagai singa.
“Eh, iya maksudnya cantik banget. Pantes standar lo tinggi. Galak amat sih, ati-ati kalau kakaknya kaya gini ntar adik lo jomblo terus“ ngelesnya, bermaksud bercanda buat mencairkan suasana tapi jadinya ga lucu. Dehemenan mulai bermunculan karena suasana jadi canggung.
Arga mendengus, dia tahu Dhito ngeles. sambil tersenyum sinis dia menjawab, ”Kalau cowoknya kaya lo ga akan lah gue kasih ijin. Kelakuan lo bikin adik gue ampe heran kemaren, lo liatin dia dari atas sampai bawah kaya orang m***m padahal ada cewek lo. Liat boleh, suka boleh, tapi cara menatap lo yang wajar, mereka bukan objek".
"Iya iya, maap. Buseet galak euy. Maneh serius pisan. kalem weh kalem," Dhito berusaha mengalihkan pembicaraan, ngeri juga liat aura Arga yang berubah seram. Yang lain mulai melontarkan topik yang lain untuk mencairkan suasana.
Dhito memang ganteng tapi tebal muka. Dia tetap duduk disitu dan sesekali menanggapi obrolan mereka. Entah kemana teman-teman Dhito yang lain. Arga mulai curiga kalau Dhito sebenarnya dihindari oleh semua teman-teman jurusannya.
"Eh Ga, gue udah tahap 2 dong sama Tara, ga sia sia penantian gue. Bentar lagi tahap 3 terus tahap 4, w****k!!!" Tiba tiba dia memberikan informasi yang bersifat pribadi itu dengan bangga.
"Bibir perawan!" lanjut Dhito sambil mengerucutkan bibir dan memberikan gestur mengecup dengan tangannya.
"Emang tahap 2 apaan?" tanya Erman penasaran. Sumpah dia ga tau kalau pacaran pun ada tahap tahapnya. Dhito tertawa geli, Arga mulai terlihat sebal.
"Katingali yeuh tara bobogohan. (keliatan nih yang ga pernah pacaran)" sambil menunjuk Erman dan tertawa geli. Tubuhnya berbalik menghadap Erman.
"Tahap 1 tuh cuman jalan, paling pegangan tangan, bonus cium pipi atau kening, tahap 2 udah ciuman bibir sambil meluk meluk sedep, tahap ke 3 sambil ciuman kita terus bisa ... (Dhito memperagakannya sambil mengusap d**a sendiri pake mata merem melek), Tahap ke 4, you know laaah" jelas Dhito sambil memperagakannya dengan kedua tangannya, terlihat bangga berbagi ilmu.
Toni yang anak gereja mengelus d**a sambil berusaha mencuci otaknya dari informasi yang sudah mengotorinya. Kevin yang sudah punya pacar hanya bisa mingkem mendengarnya. Dia jadi inget pacarnya. Bisa bisa dikawinin langsung ditempat dia kalau dia begituan sama pacarnya, mau dikasih makan apa anak orang. Bayu yang berasal dari perantauan dan alim, beristigfar. Erman yang juga anak perantauan hanya membelalakan matanya. Emang disini ga ada kebon singkong buat melakukan hal itu? Biasanya di kampung banyak orang yang begituan di kebon singkong. Kalau disini mau dimana mereka bisa melakukannya? Sedang kostannya sendiri berada dalam gang, kucing pun ga nyaman untuk buang hajat saking ramenya orang lewat lalu lalang.
"Dhit, ga usah ngasih taulah udah ampe mana pacaran lo, kasian ceweknya,," Arga memperingatkan Dhito. Dalam hatinya dia bersumpah untuk menghindari Dhito dilain waktu. Arga sudah tidak tahan lagi dnegan kelakuannya.
"Hahahahhhh, ah gpp. Tara juga ga tau, lagian kalau udah jadi bekas gue pamor dia jadi naek, jadi cewek berpengalaman gitu. Bekas Dhito gitu looh" tukasnya bangga.
Arga sangat muak, ya Allah ingatkan dia lagi sekarang untuk tidak bermain main lagi dalam sebuah hubungan. Dia takut kalau orang lain menggambarkan dia seperti Dhito. Percuma ganteng juga kalau kelakuan ga kalah kaya comberan. Maafkan Arga ya gals, mohonnya dalam hati. Arga yang sudah selesai makannya, akan mulai bersiap untuk pergi dan mengajak teman-temannya, ketika tiba-tiba kepala Dhito dipukul dengan keras dengan sebuah buku dari belakang. Semua langsung mendongak untuk melihat siapa yang berani memukul Dhito.