Track #10 Bubbly by Colbie Callait

1123 Kata
Malam itu setelah makan malam, Arga kembali ke kamarnya untuk mengambil BB. Ayahnya punya aturan ga ada HP atau BB saat makan malam di akhir pekan. Katanya kalau penting, mereka bisa telepon ke rumah. Waktu dia buka, dilihatnya ada beberapa pesan baru, salah satunya dari Tara. Ada foto brownies yang dia beri ke Tara hasil JaPrem dari mamanya. JaPrem, “Jatah Preman” hihihi. Nana, adiknya yang paling kesal karena brownies khusus untuk dia jadinya harus dikorbankan untuk dimakan satu keluarga. Iya, seenak itu browniesnya. “Malem kang, nuhun browniesnya. Ini mamanya beneran ga marah kuenya berkurang satu? Tadi Tara tanya, ternyata harus pesen dulu, mereka ga jualan ukuran segini untuk sehari-hari. Eh, tapi tetep sih Tara makan, kan percuma juga ditunggu sampai Senin, takut basi. Ternyata enak pake banget, ampe lupa berenti sekarang tinggal setengahnya. Hehehehe” Pesan Tara, panjang. Arga tersenyum membaca pesan Tara. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur bersiap membalas pesan Tara. “Sorry baru balas Tar.” “Mama gpp kok”, Arga tersenyum sendiri ketika menjelaskan ke mamanya kenapa brownies yang dipesan berkurang satu. Arga bilang untuk prospek masa depan, sambil mengedipkan mata. Mamanya terbahak demi melihat tingkah anaknya yang ke 2 ini. Tumben! Begitu komentarnya. Arga tersenyum. Iya Arga tidak pernah memberikan sesuatu untuk gebetannya atau pacarnya kalau bukan hari istimewa, seperti misalnya ulang tahun atau valentine. Tanggal jadian, manalah Arga inget. Biasanya Arga bayarin makan atau nonton, masih oke tuh. Jemput itu sekalian sambil mau jalan atau sekalian pergi ke tempat yang sama ya gapapa, tapi sengaja jemput karena mau anterin ke sekolah atau ke kampus misalnya, ga pernah. Setidak romantis itu Arga. Tapi anehnya banyak perempuan yang suka kepada Arga, karena tampak cool. Udah jadi pacar, pada protes karena Arga dianggap kurang perhatian. Padahal salah Arga dimana coba? Sebelum dan setelah pacaran sikapnya tidak ada yang berubah, tidak berkurang dan tidak berlebih. Balik lagi ke pesannya Tara, Arga mulai mengetik pesan balasan. “Kalau Tara suka nanti aku pesenin lagi. Yang punya kafe temennya Nin.” “Sudah pulang?” Sambil dilihatnya jam. Jam 8 lewat. Belum ada tanda-tanda pesannya dibaca Tara. Arga mengecek pesan-pesan yang lain. Ada grup teman SMA yang mengajak ketemu, ada mantan yang nanya apa kabar, temen kuliah dan ada pesen dari Reifan, kakaknya. Dibukanya terlebih pesan itu, ternyata mengabarkan kalau bulan Juli Reifan akan wisuda dan berharap adiknya bisa datang bila sedang libur. Kakaknya adalah panutan Reifan. Bapaknya sering bilang sifat kakaknya hampir sama dengan ibunya, Pekerja keras dan berambisi walau masih dalam kapasitas normal. Tapi pernyataan itu selalu dipatahkan oleh ibunya sendiri yang selalu bilang, kecerdasan itu dari Ibu dan sifat dari bapaknya. Apapun itu, Arga merasa beruntung dilahirkan dan dibesarkan dikeluarganya sekarang. Karena banyak anggapan yang beredar bila anaknya 3, salah satu anaknya biasanya menjadi orang gagal. Amit-amitkan? “Sudah kang dari jam 7 tadi. Maaf baru balas, BB nya sedang Tara charge. “ “Ya ampun, ga usah dipesenin browniesnya, jangan ngerepotin. Ini sudah cukup kok.” Balesan dari Tara. Segitu aja udah bikin Arga seneng. “Tara sedang apa? Kalau aku telepon ganggu ga?” Sent! Read Tiba tiba BB arga berdering, Tara! “Assalamualaikum, Tara?” “Wa alaikumsalam kang. Mmmh Tara langsung telepon aja, ga apa apa kan?” “Gapapa lah” “Dari kemarin-kemarin sebenarnya Tara mau telepon, tapi lupa minta no telepon Akang, terus Tara malu kalau tanya senior yang lain,” Arga tersenyum bahagia, tapi ga usah dibilanglah yaa kalau Arga juga mengalami hal yang sama dengan Tara. “Oh ya? Emang kenapa mau telpon aku?” Pancing Arga. “Mau tanya kejadian yang depan kelas Tara waktu itu,” “Ooh...,” lalu menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi. “Astagfirullah kang. Maaf yaa, tapi Akang terluka ga?” “Ga lah, kan aku yang nonjok Dhito. Katanya idung nya Dhito bengkak Tar, sama harga dirinya udah ga berbentuk,” tambah Arga menenangkan Tara. Tara terkekeh. “Alhamdulillah atuh kalau akang baik baik aja mah. Untung juga sih dosen Tara pas dateng nanya kita, kita bilang lagi ada yang ulang tahun, lagi dijailin. Eh Pak Wahyu percaya aja,” jelas Tara, informasi baru yang Arga tak tahu. “Serius Tar? Wah makasih yaa,” “Tara yang harusnya makasih dong kang,” “Sama-sama. Eh, cuma bilang makasih doang nih Tar?” Tara diam sejenak. “Terus Tara harus gimana?” Tanyanya. “ Ngajak makan atau nonton gituh...” pancing Arga. Biasanya cewek lain langsung nyamber ngajak makan buat bilang makasih. “Emang Akang mau makan atau nonton sama Tara?” “Ya maulah” “Akang ke Jakarta ga Jumat depan?” “Jangan Jumat, Sabtu aja gimana Tar?” “Kang, dipanggilin ih ga nyaut taunya pacaran!” Tiba-tiba Nana sudah berada disebelah ranjang Arga dengan muka kesal. “Bentar Tar,” Arga menutup bagian mikrofon BB dengan tangan, lalu duduk. “Apaan sih Na, ganggu tau!” Tegus Arga dengan mata melotot ga kalah kaya Suzanna. “Ih malah ngambek. Orang tadi Tara ketok-ketok terus panggil-panggil ga nyaut, ya didatengin lah,” balas Nana, ga kalah galak. Berani ngelawan anak bungsu? “Udah-udah, cepetan mau bilang apa?” “Kata mama besok abis subuh jangan tidur lagi, anterin mama ambil kue basah sama sarapan pagi dari Mbak Ayu,” “Kan biasanya juga dianterin?” “Mama pesennya dadakan jadi Mbak Ayu ga bisa anterin,” jelas Nana. “Emang Papa kemana?” “ Papa siap siap mau jemput Tante Riska. Karena tante dari Singapur pake pesawat paling pagi.” jelas Nana. “Iya, udah sana pergi. Ganggu!” “Lagi mrospek masa depan ya?” Suaranya sengaja dikeraskan, biar kedengeran oleh lawan bicara Arga. Nana jahil! Muka Arga memerah, diraihnya bantal dan dilemparkanannya ke arah Nana yang berhasil ditangkap oleh Nana. Duh Arga, lupa ya kalau Nana belajar softball. Terdengar tawa Nana dibalik pintu, walau sudah tertutup. “Ha... halo Tar. Maaf lama” “Eh iya kang gpp,” Hening. Arga malu juga oleh Tara, dia sangat yakin Tara mendengar apa yang dikatakan Nana. “Eh Tar...” panggil Arga lagi. “Iya kang...” “Ngajakin nontonnya jadi?” “Iya kang. Mau jam berapa?” “Jam 2 aku jemput ya kerumah,” “Ketemu disana aja kang, jauh rumah aku,” “Emang Rumah Tara dimana?” “Antapani,” “Ngga jauhlah” jawab Arga cepat. Padahal sih iya. “Jadi, aku jemput aja ya hari Sabtu?” Tanya Arga lagi. “Iya kang. Nuhun” akhirnya Tara mengiyakan. “Kalau gitu udah dulu ya Kang,” Tara menyudahi teleponnya. “Oh iya, selamat istirahat Tara” “Sama-sama kang. Assalamualaikum,” “Wa alaikumsalam,” Arga tersenyum lebar sambil memeluk BB didadanya. Akhirnya kencan juga sama Tara!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN