Track #9 Siapkah kau ‘tuk jatuh cinta lagi?

1037 Kata
Arga memarkirkan mobilnya didepan sebuah kafe untuk mengambil pesanan brownies mamanya. Lebih baik diambil sekarang agar waktu berangkat ke Jakarta tidak mampir sana sini. Kasian Nin kalau banyak berhenti. Arga masuk dan langkahnya terhenti ketika melihat pasangan yang baru keluar, yang laki-laki menggandeng pinggang si perempuan. Perempuan itu... “Tara?!” Refleks Arga memanggilnya, setelahnya dia baru tersadar, ngapain manggil-manggil Tara? Pasangan itu menoleh bersamaan, iya bersamaan! “Kang Arga?” Mata Tara tampak membulat, terkejut. Sudah kadung kepalang basah manggil-manggil, Arga pun mendekat. “Eh lagi ngapain disini Tar?”, tanya Arga. Pertanyaan macam apa ituuuu???? Emang orang mau ngapain di kafe? Tidur? Rutuk Arga kepada inner selfnya yang sering impulsif tapi salah langkah akhir-akhir ini. “Ngopi aja sambil ketemu sama kakak kelas. Eh kenalin Gi, ini seniorku di kampus, kang Arga. Kang Arga ini seniorku waktu SMA dulu, Nugi,” Tara mengenalkan mereka, dan 2 lelaki tampan itu berjabat tangan memperkenalkan diri masing masing. Kakak kelas! Kau dengar itu Arga? Bukan pacar, bukan teman, bukan pula orang tanpa label tapi kakak kelas!!! Sorak Arga dalam hati. “Kang Arga sendirian?”, tanya Tara ketika dilihatnya tidak ada siapa siapa didekat Arga. “Iya, cuma mau ngambil brownies pesenan mama,” jawab Arga. “Ooh brownies disini enak ya? Tau gitu pesen,” “Lumayan,” “Terus dari sini Kang Arga langsung pulang?” “Iya, pulang dulu istirahat, mandi sambil sekalian jemput Nin, ehm nenek maksudnya, terus ke Jakarta, pulang senin subuh biasanya,” “Ooh kang Arga itu orang Jakarta, Tara ga tau,” “Ortu dari Bandung, tinggal di Jakarta karena pekerjaan,” “Tar...” Sekarang giliran Arga dan Tara yang menoleh ke arah suara, Astagfirullah Tara lupa kalau Tara lagi bareng ama Nugi. “Aku duduk duluan ya, takut ditempatin orang,” lanjut Nugi. “Eh iya, sorry, bentar lagi aku nyusul ya,” Tara langsung merasa bersalah. “Maaf ya jadi Taranya ketahan,” tambah Arga pura-pura ga enak ati. Sorry ya, basa-basi! Nugi hanya tersenyum dan menggumamkan kata-kata ga apa-apa sambil berbalik menuju ke meja. “Aku pergi dulu deh Tar, kasian temen kamu nungguin,” akhirnya Arga mengalah. “Eh iya kang. Nanti kita ngobrol laginya ya. Tara BB atau telpon.” Kata Tara lagi. “Iya, duluan Tar, salam buat temennya,” Tara mengangguk, tersenyum dan melambaikan tangan. Arga melangkah keluar tapi dipanggil Tara. “Kang Arga!!” Panggilnya sambil mendekat. “Kenapa Tar?” “Katanya tadi mau ngambil brownies pesenan mamanya?”, tanya Tara setelah dekat. Arga menepuk jidatnya, lupaaa!!! “Makasih ya Tar, udah diingetin” “Sama-sama” Mereka berjalan bersama ke pintu kafe, dan pamitan lagi. Arga melangkah masuk sedangkan Tara pergi menuju tempat Nugi. Tapi tiba-tiba Arga teringat sesuatu dan berbalik mau mencari Tara ketika orang yang dicari tiba tiba nongol didepan pintu sehingga mereka berdua hampir tabrakan. Mereka berdua tertawa geli sampai ngos-ngosan. “Pin BB!!!” tiba-tiba mereka berdua berbicara berbarengan, dan setelah itu mereka tertawa lagi. Sebenarnya ga lucu-lucu amat sih yang terjadi, tapi entah kenapa saat ini mereka merasa sangat bahagia sekali sampai hal kecilpun tampak lucu, menyenangkan dan indah. Arga mengeluarkan BBnya dn Tara juga. Setelah mereka bertukar Pin BB, kali ini mereka benar benar pamit. Arga akhirnya pulang dengan membawa brownies pesanan mamanya. Arga tahu dia akan kena masalah, tapi dia tidak peduli, hari ini dia sangat bahagia. *** Tara akhirnya tiba juga ke mejanya dengan muka cerah dan senyum yang tak lepas dari bibirnya. “Akhirnya.... aku pikir udah lupa sama aku,” kata Nugi. “Maaf ya Gi, cuman beberapa hari ini kita ga sempet ketemu dikampus gitu,” “Makan dulu deh, bitterballen kamu udah mau dingin,” Nugi menyorongkan snack favorit Tara. Tara mengangguk-angguk sambil minum air mineralnya. Haus banget, ketawa terus dari tadi. “Emang penting banget ya masalahnya, sampi ga bisa nunggu buat ketemu di kampus?” Tanya Nugi. Tara yang sedang mengunyah bitterballen itu tersedak. Sambil terbatuk batuk, Tara menutup mulutnya dan dia berpikir keras. Eh tadi yang terjadi antara Arga dan dia cukup penting kan? Pertama ngingetin brownies pesenan mamanya Arga. Kan kasian kalau Arga harus balik lagi, atau bisa jadi dimarahin sama mamanya karena lupa bawa brownies pesenan. Terus yang ke 2, tukeran pin BB. Ini kan penting banget! Kalau misalnya Tara butuh tutor atau mau tanya-tanya soal pelajaran kuliah, bisa tanya Arga lewat BB. Ya kaaan?. “Tar...” “Eh... abisan waktu terakhir ketemu Tara liat dia mukul Dhito. Kata orang-orang karena belain Tara. Tara belum konfirmasi, karena pas kejadian, dosen Tara keburu dateng. Tara pengen ngobrol itu,” untung saja Tara ingat alasan pertama mau meminta pin BB ke kang Arga. “Oooh. Aku denger itu dari Dhito. Kata Dhito cowoknya sengaja bikin ribut karena suka sama kamu. Itu orangnya?”, Nugi penasaran juga. “Ish, yang bener dia belain Tara dari Dhito. Dhito itu b******k banget deh. Kok kamu mau sih temenan ama dia?” Enak aja Arga dijadiin kambing hitam. “Kamu suka ya sama dia?”, tanya Nugi lagi. “Cemburu?”, goda Tara. “Kalau iya kenapa?” Tantang Nugi. “Kenapa ga boleh?,” Tara nanya balik, mode menggoda Nugi sudah dinyalakan. Tapi sebelum Nugi menjawab, seorang pelayan datang membawa kantong. “Maaf ini dengan kak Tara?”, Tanya pelayan itu ramah. “Iya mbak. Kenapa?” “Ini ada brownies dari kang Arga,” katanya sambil menyodorkan kantong berisi brownies. “Eh dari siapa?”, tanya Tara, tidak percaya dengan pendengarannya. “Kang Arga,” ulang si pelayan, sambil membungkuk pamit setelah Tara menerima kantongnya. “Tara lalu menengok isi kantong tersebut. Diatas box kue menempel sebuah memo, Tara mengambilnya. “Enjoy the brownie. Sorry if it’s not sweet enough, blame yourself for taken all the sugar” Tara tergelak membaca pesan tersebut. Nugi cemberut. Bukan yang pura pura cemberut untuk menggoda Tara, tapi ini benar benar cemberut. Dari tadi dia dicuekin Tara! Ga biasanya Tara begitu. “Aku cemburu lo Tar,” kata Nugi. “Hmmm apa?” Tanya Tara. Tapi sebenarnya Tara tidak peduli. Nugi mau bilang beribu kali pun kalau dia cemburu, Tara tidak akan peduli. Kupu kupu diperutnya sudah menemukan bunga yang baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN