Bak kesetanan, Alarick menyalahkan banyak orang. Suster yang dinilai lambat, dokter yang kurang cekatan, semuanya salah di matanya. Ia marah-marah, memberi perintah tanpa kendali. Tidak ada yang menenangkannya, satu-satunya orang yang mampu mengendalikan kemarahannya, terbujur di atas brankar rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. “Demi keselamatan bayi dan ibunya, kami haru melakukan operasi, Pak.” “Jangan banyak bicara! Lakukan saja, yang penting bisa menyelamatkan nyawa istri dan anakku!” Sudah setengah jam sejak ia menyetujui operasi, dokter belum juga muncul dari ruangan operasi. Alarick menanti dengan kecemasan yang kian menjadi-jadi. Rasa cemasnya itu ia lampiaskan dengan memarahi siapa saja, bahkan kepada Erick yang menelepon, menanyakan keadaannya pun ikut mendapatkan s

