Alina bersumpah, pria itu terlelap damai kala ia mengobati tangannya. Namun, bagaimana bisa mendadak membuka mata? Alih-alih sayu, tajam matanya menatap tak seperti orang yang baru saja bangun tidur? Apakah Alarick sama sepertinya, pura-pura tidur? Buru-buru, dilepaskannya tangan Alarick. Namun, cepat pria itu menangkapnya menggunakan tangan kiri yang bebas dari perban dan menggenggam jemari Alina. Terkesip, Alina tidak menyangka akan mendapatkan respon demikian. Teduh mata Alina berserobok dengan kelam dan tajam netra milik Alarick. Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan dalam diam. Kelam netranya begitu pekat. Alina gelagapan, intens tatapannya seolah ingin menenggelamkannya hingga tersesat dan tak dapat keluar. Mengapa mata pria itu terlihat begitu mengerikan? Ia bak seorang pe

