Mengikis benci, hal itu yang sedang berusaha dilakukannya meski rasa muaknya tak tertahankan. Untuk segala hal yang dilakukan Alarick padanya, Alina pantas membenci pria itu. Namun, demi kebaikan dirinya ia tidak ingin membenci. Hidupnya di bawah tekanan pria itu sudah sangat menyiksanya, kebencian hanya akan semakin menambah kesakitannya. Alina tidak mengerti sebab perubahannya, tidak banyak, tetapi cukup mencolok. Alarick masih suka mengeluarkan kata-kata yang menyakitinya, tidak ragu ia menghina Alina, masih tetap suka marah-marah jika ada yang tidak sesuai keinginannya. Namun, satu hal yang berubah darinya, ia tak lagi menyakiti fisik Alina. Setiap malam mendatanginya, tetapi bukan untuk menyakiti, melainkan ikut tidur di kamar Alina. Menyentuh dan mengkalimnya sebagai miliknya. A

