Bukan pendiam, Alina menganggapnya lebih kepada menahan emosi. Alarick memang tidak marah-marah, tidak mengumpat dan menyumah-serapah, tetapi wajahnya mendung, air mukanya sangat keruh pertanda perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Tak berani menegur, Alina ikut masuk begitu saja ke dalam mobilnya. Kali ini tujuannya ke rumah sakit, menjenguk Bu Yani bergantian dengan Rani. Sepanjang perjalanan, Alarick lebih banyak diam. Entah apa yang dibicarakannya dengan Mbah Sena, begitu keluar ekspresi wajahnya langsung berubah. Pria itu terlihat sangat murka, tetapi menahannya untuk tidak berkata-kata. “Ya, aku mengenalnya, Sarah adalah perempuan yang sangat lembut,” jawab Mbah Sena. Sendu matanya tampak menerawang jauh, seperti tengah mengenang sesuatu. Alina berkedip, terharu. Di dunia ini

