Ia bak bidadari, memikat dengan pesonannya yang alami. Rona kedua pipinya memberikan kesan ceria yang memukau. Tiada kesedihan di wajahnya, tiada pula beban dan tekanan yang menghimpitnya. Ekspresinya lepas, bak burung terbang bebas. Nanar Alarick menatapnya dari balik kaca. Gemuruh jantungnya menggila oleh debaran yang bekerja tak wajar. Seluruh sel-sel tubuhnya bak lumpuh, ia merasa ingin sekali pingsan. berbagai macam perasaan bercampur aduk di dalam sana. Keharuan yang membuncah dan rasa sakit yang menusuknya oleh sebab penyesalan, menyesakkan di dalam sana. Pernahkah ia memuji dengan kata, bahwa Alina sungguh sosok perempuan yang jelita? Ia tersihir oleh pesonanya, debaran di dalam dadanya terasa kian menggila hanya dengan menatapnya dari balik kaca mobilnya. Betapa selama ini ma

