Rutinitas seorang pembantu, bangun pagi-pagi sekali dan sudah memulai aktifitas yang sangat padat. Ia mencuci pakaian-pakaian milik Alarick, menyetrika, bersih-bersih seluruh rumah termasuk kamar pria itu, hingga membuang sampah. “Udah, biar Bibi saja, Neng,” cegah Bi Murni, perempuan paruh baya itu tidak tega melihat Alina sudah sibuk sejak pagi buta. “Tugas Neng Alin ‘kan Cuma masak doang.” “Tidak apa-apa, Bi. Mulai sekarang tugasku di sini banyak.” Alina masih memiliki harga diri, tidak mau bersantai-santai sementara tuan rumahnya sudah mengatakan, ia tidak gratis tinggal di sini. Banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Status istri yang disandangnya sama sekali tidak berguna. Alarick menikahi Alina hanya untuk membuatnya terikat. Lanjut, ia sudah berkutat di dapur, menyiapkan sar

