Aneh, Alina menyebutnya. Ia bak memiliki kepribadian ganda. Baru semalam Alarick begitu kasar padanya, ia tidak ragu menyakiti Alina baik fisik mau lisan. Kata-katanya begitu tajam menusuk, ia menguasai Alina dengan cara yang sangat jahat. Namun, pagi ini segalanya berubah. Tak sekedar mengkhawatirkan lukanya, ia juga mengobatinya. Lembut jari-jarinya menyentuh dan membelai lukanya, khawatir sedikit gerakannya mampu menyakiti Alina. “Apakah rasanya sakit?” bisiknya rendah. Alina diam, ia tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Pandangannya ia buang ke mana saja asal tidak ke wajah pria itu. Alina masih belum sanggup melihatnya, menatap pria yang telah menyakitinya. Perubahan sikapnya pagi ini yang luar biasa drastis sama sekali tidak membuatnya berubah pikiran. Alarick tetaplah seora

